Sabtu, 05 Juli 2014

You Are The Best, Mom!





            Jangan pernah malu untuk menunjukkan siapa dirimu karena pasti kamu mempunyai kelebihan yang tak dimiliki orang lain. Kalimat itu adalah kalimat yang akan selalu kuingat. Kalimat yang selalu aku tuturkan ketika aku masih kecil, aku selalu mengatakannya walapun aku tak mengetahui maknanya saat itu. Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang aku ingat dari seorang ibu.
Namaku Sandra, umurku 15 tahun. Saat ini aku tinggal di sebuah panti asuhan, aku berada di sini sejak 11 tahun yang lalu. Dalam waktu yang cukup lama itu aku hidup mandiri tanpa mengenal bantuan orang tua.
Di mana ibu sekarang? Aku pun tak tahu. Yang aku ingat hanyalah saat usiaku 4 tahun aku berjalan bersamanya menusuri rel kereta api di bawah terik matahari untuk membeli sebuah makanan dari uang hasil berjualan kami di tengah keramaian pasar pada pagi hari  yang telah kami kumpulkan.
Saat itu aku terus berjalan bersamanya. Hingga tiba saat itu, saat yang paling aku benci tetapi aku akan selalu mengingatnya, di mana kami hendak menyebrangi rel ada sebuah kereta api yang hendak lewat. Saat itu aku menggenggam tangan ibu dengan erat, tetapi aku tidak tahu apa yang terjadi. Genggaman tanganku terlepas dari ibu dan ia menyebrangi rel itu padahal kereta api hanya berjarak 5 meter lagi, tanpa aku, aku tak mengerti apakah aku tertinggal atau kah ia sengaja meninggalkanku.
Yang bisa aku lakukan saat itu hanyalah menangis, mungkin orang-orang disekelilingku bertanya-tanya apa yang terjadi dan mungkin sebagian dari mereka merasa iba. Tetapi aku tidak peduli, yang aku inginkan saat itu hanyalah menyeberangi rel dan bertemu dengan ibu. Di sela tangisanku aku melihat kereta yang sedang lewat hanya tersisa beberapa gerbong lagi, tangisanku mulai mereda. Dan setelah kereta itu telah lewat sepenuhnya aku memandang ke seberang. Mencari sosok seorang ibu. Tetapi aku tak menemukan apa pun.
Aku hanya bisa terduduk di pinggir rel dan menangis sejadi-jadinya. Banyak orang-orang menghampiriku setelahnya. Bagaimana tidak? Mereka pasti tak akan membiarkan seorang anak kecil menangis sendirian di tempat yang sebenarnya berbahaya. Dan akhirnya mereka membawaku ke sebuah tempat yang disebut panti asuhan.
Ayah, aku telah kehilangan seorang ayah sejak aku berumur 1 tahun, ibu bercerita saat itu ayah sakit keras dan kami tidak mempunyai biaya untuk mengobatinya. Dan saat ini aku pun telah kehilangan sosok ibu.betapa malangnya nasibku?
“Besok sepertinya kita akan berkunjung ke panti asuhan di kota”, ucap seseorang yang membuyarkan lamunanku. Tira, ia adalah teman baikku selama aku berada di sini, dan kebetulan umur kami sama.
“Oh ya? Baiklah, aku akan mempersiapkan untuk besok”, balasku sambil tersenyum dan beranjak dari dudukku meninggalkan dia untuk masuk ke kamar dan mempersiapkan yang perlu aku bawa untuk esok hari.
Besok adalah hari minggu, hari itu memang menjadi rutinitas kami untuk mengunjungi sebuah instansi dan saling berbagi di sana. Menyenangkan bukan? Aku sangat menanti-nanti saat itu. Saat di mana aku bisa membalas jasa orang-orang yang dulu telah mengunjungi panti asuhan dan menghiburku. Yang perlu aku bawa adalah beberapa buku-buku yang akan aku gunakan untuk berbagi sedikit ilmu dengan mereka.

____ esok hari ____

“Sandra, ayo kita berangkat”, seru seseorang dari luar kamar.
“Iya sebentar”,  jawabku. Aku merapikan pakaian yang aku kenakan dan memakai tasku. Aku keluar dari kamar dan berkumpul dengan teman-teman lainnya di depan panti di pinggir jalan, untuk menunggu angkot.
“Ini kunjungan pertama kita ke sana ya, aku tidak sabar” ucap Tira sambil tersenyum senang. Angkot yang kami tunggu pun telah tiba.
Aku tersenyum. Ya, ini memang kunjungan pertama kami ke sana.”Mudah-mudahan kita bisa member yang terbaik nantinya.”, balasku sambil memasuki angkot disusul oleh teman-temanku yang lain.
Aku melewati perjalanan yang terasa lama ini dengan bercanda bersama Tira. Hingga kami telah sampai ditujuan, salah satu panti asuhan yang berada di kota. Kami turun dari angkot lalu berkumpul bersama di depan panti.
“Baiklah, lakukan yang telah kalian rencanakan dan kita berkumpul di sini kembali di pukul 5 sore”, instruksi Ibu Neni, orang yang telah kami anggap orang tua kami sendiri.
Pandanganku langsung tertuju pada seorang yang mungkin lebih tua dariku dengan tampang resah. Ia duduk di taman panti dengan wajah kebingungan. Entah kenapa aku sangat tertarik mengunjunginya. “Selamat pagi”, sapaku.
“Eh, pagi.”, balasnya dengan senyum yang terlihat terpaksa. Aku pun tersenyum melihatnya. “Eh, em ada apa ya?”, tanyanya.
“Sandra 15 tahun” aku memperkenalkan diri dan mengulurkan tanganku. Ia membalas yang kulakukan, ia menjabat tanganku masih dengan tampang kebingungannya, dan kurasa semakin bingung melihat apa yang aku lakukan.
“Sendy, 17 tahun”, ucapnya, benar dugaanku ia lebih tua dariku.
“Aku panggil kakak boleh?”, tanyaku yang hanya dibalas anggukannya. Aku melapaskan jabatan tangan kami dan duduk disebelahnya. Aku merasa senang berada di dekatnya, entah mengapa. “Apa ada yang bisa aku bantu, kak? Sepertinya kakak sedang kebingungan”, tanyaku lagi. “Aku juga anak panti asuhan lho, sepertinya tidak ada salahnya jika kita saling berbagi” sambungku dengan tersenyum lebar.
“Haha, tidak ada apa-apa kok, dek”, jawabnya dengan pandangan lurus ke depan, ia hanya menatap kosong ke arah tanaman.
“Tapi wajah kakak terlihat sedang kebingungan.”, ucapku.
“Hah, iya?”, ia bertanya sambil memandangku dengan tampang kaget. “Haha ternyata aku memang tidak bisa menyembunyikan masalah.”, ucapnya.
“Kakak ‘kan tidak sendiri. Kakak bisa berbagi.”, saranku. “Mungkin aku bisa mencari jalan keluar untuk masalah kakak”, sambungku
“Sebenarnya ini masalah sekolah, kakak harus menampilkan bakat kakak di depan orang-orang, tetapi kakak sama sekali tak memiliki kemampuan”, Kak Sendy mulai bercerita. Aku terdiam sebentar mencerna kata-katanya dan berpikir apa yang harus aku katakan. Aku juga memikirkan mengapa ia mudah menceritakan masalahnya pada orang yang baru ia kenal? Apakah ia tak memiliki teman di panti in?
“Jangan pernah malu untuk menunjukkan siapa dirimu karena pasti kamu mempunyai kelebihan yang tak dimiliki orang lain.”, ucapku sambil tersenyum memandang lurus ke arah tumbuhan, aku mengalihkan pandanganku ke kak Sendy. “Eh?”, aku tak tahu apa yang terjadi tetap ia memandangku dengan tatapan kaget.
“Kamu dapat dari mana kata-kata itu?” tanyanya. “Aku … akuuu …” ucapnya terbata-bata tanpa melepaskan pandangan kagetnya padaku. Ada apa ini?
“A-aku mendapatkannya dari i-ibu” jawabku terbata-bata karena aku merasa kurang nyaman dengan tatapannya. Tetapi ternyata ada yang salah dengan jawabanku, ia semakin menatapku dengan tatapan yang jauh lebih kaget.
“Kamu siapa?” tanyanya. Pertanyaan yang membuatku tersentak.
“Maksud kakak?”
“Kamu siapa?” ulangnya, matanya mulai berkaca-kaca. “Kenapa kata-kata yang kita dapatkan dari seorang ibu sama persis?”, jawabnya. Mataku terbelalak kaget. Apa maksudnya? Sama? Kenapa bisa? Aku melihat matanya mulai menetskan air mata. Nafasku terasa sesak dengan keadaan ini. “Ceritakan yang kamu ketahui tentang orang tuamu sekarang!”, suruhnya.
Aku terdiam sejenak dan mulai mengingat kejadian terpahit dalam hidupku. Untuk apa ia ingin mengetahui orang tuaku? Tapi biarlah, “Dulu saat aku berumur 4 tahun aku berjalan dengan ibu di pinggir rel kereta. Tetapi saat ada kereta yang hendak lewat ibu menyeberangi rel itu dan meninggalkanku sendiri.”, ceritaku padanya.
 “Tunggu apa kamu Acan?” tanyanya, aku dibuat bingung oleh pertanyaannya itu. Aku hanya terdiam dan memandanginya berusaha mencari arti ucapannya dalam wajahnya. “Kamu Acan, ‘kan? Kamu adikku yang dulu? Kamu ..”, lanjutnya. Adiknya? Aku tak pernah tahu kalau aku pernah memiliki kakak.
“Maksud Kak Sendy apa? Acan siapa? Aku tak mengenalnya. Adik kakak siapa?”, akhirnya aku berbalik bertanya padanya karna tak berhasil menemukan jawaban.
Ia menghela nafas nya, “Dulu …”, ia mulai bercerita. “Aku tinggal bertiga dengan keluargaku, keluarga yang sangat kekurangan. Dan saat aku berusia satu tahun aku memiliki seorang adik, aku tak tahu nama aslinya, yang aku tahu namanya adalah Acan. Saat aku berusia 3 tahun ayah sakit keras. Dan tak lama beliau meninggal dunia. Sepertinya ibu sangat terpukul dengan keadaaan itu. Jadi ia …” ia menghentikan sejenak ceritanya untuk menghela nafas panjang dan menyeka air matanya. “Menitipkanku di sebuah panti asuhan tetapi Acan tetap bersamanya.”,  ia memandang kosong ke depan saat mengatakan itu. Menurutku itu adalah hal yang sangat ia benci.
“Jadi wajar saja adik kakak yang bernama Acan tidak mengenal kakak karena ia masih kecil saat itu”, ucapku pelan.
“Aku tahu, tapi mengapa kata-kata yang kita ingat dari ibu kandung kita sama?” tanyanya, aku hanya terdiam memikirkannya. “Acan, Sandra, tidak berbeda jauh kan? Apa kamu bisa menjelaskannya? Atau mungkin kamu memiliki satu cerita lagi yang bisa menemukan kenyataan ini?” lanjutnya.
“Mungkin di sekitar rel kereta di kota sebelah, mungkin ibu masih di sana.” Ucapku dengan air mata mengalir. Karena sejak awal bersama Kak Sendy aku merasa tenang, entah mengapa aku bisa seperti ini, aku bisa merasakan bahwa aku memang memiliki ikatan darah dengannya.
“Ibu? Ibu masih hidup? Jadi kamu, mungkinkah kamu benar-benar Acan adikku?”, tanyanya ditengah tangisannya.
“Aku rasa” jawabku singkat lalu aku memeluknya, memeluk seorang kakak yang baru sekali ini aku temui, ia membalas pelukanku. Aku melepaskan pelukannya dan menyeka air mataku. “Ayo kak, kita ke kota sebelah mencari ibu di sekitar rel kereta. Aku memang belum pernah mengunjungi tempat itu lagi.” Ajakku.
“Baik” jawabnya, kami berdiri dari duduk kami lalu berlari kecil mencari Ibu Neni di depan panti. Saat menemukanya aku menghampirinya.
“Ibu, kami ingin pergi ke kota sebellah sebentar, kami hendak mencari ibu kami.” Aku meminta ijin padanya. Kak Sendy langsung menarikku tanpa menunggu jawaban Bu Neni.
“Tunggu!” panggil Bu Neni.
“Eh, kak!” aku menegurnya tetapi itu tak bisa menghentikannya. Ia langsung memanggil angkot dan menarikku masuk.
“Semoga saja aku masih bisa menemukannya”, ucapnya dengan pandangan tertuju pada jalanan, aku hanya terdiam dan memandanginya. Aku merasa sangat bodoh, mengapa aku tak ter[ikir mencari ibu di sana? Sedangkan Kak Sendy yang baru mendengarnya saja langsung pergi ke dekat rel. padahal Kak Sendy belum tentu benar kakakku. Aku mengalihkan pndanganku dari wajahnya kejalanan yang akan kami lalui.
Hampir 1 jam berlalu, akhirnya kami sampai di sebuah stasiun kereta, Kak Sendy langsung menuruni angkot dan berlari menelusuri rel kereta. Aku menyusulnya setelah membayar angkot.
“Kak, tunggu!”, teriakku. Aku berlari dengan cepat, berusaha mengejarnya. Cukup jauh kami telah berlari dan kecepatan lari Kak Sendy semakin berkurang, hingga akhirnya aku berhasil menyusulnya. Kami terhenti di pinggir rel yang sepi, samping kanan dan kiri hanyalah rerumputan, dan mungkin hanya ada beberapa rumah di sekelilingnya.
“Kak, aku tak ingat dimana terakhir kami bertemu.”, ucapku dengan nafas yang terengah-engah. Aku melihat wajahnya, ia tertunduk dan menatap seberang jalan dengan kecewa, matanya pun telah berkaca-kaca. “Kakak?”, panggilku, tetapi sepertinya ia tak berniat menjawabnya.
Ini adalah saat yang membingungkan. Apa yang bisa aku lakukan saat ini? Aku hanya seperti memberi harapan palsu pada orang lain, seharusnya aku tak perlu mengatakannya tadi. Aku terduduk  dan tertunduk di pinggir rel. Menyesali apa yang telah aku perbuat. “ Maafkan aku kak”, ucapku pelan. Ia juga tak menjawab maafku. Aku mencoba menatapnya. “Eh, kenapa kak?”, tanyaku karena melihat raut wajahnya yang aneh. Aku pun berdiri.
“Ayo seberangi rel ini, dan pergi ke sana.” Ucapnya sambil menunjuk ke arah sebuah kolong jembatan yang cukup jauh dari tempat kami berdiri.
“Untuk apa, Kak?” tanyaku, tetapi ia langsung menarik tanganku dan berlari kecil ke arah tempat yang ia maksud. Jujur aku semakin ragu dengan permintaannya. Karena semakin dekat kami dengan tempat itu hanya ada tumpukan kardus. Tempat yang bisa dikatakan mustahil ditinggali orang lain, apalagi ibu, tak mungkin ada orang tua tinggal di sana tempat yang jauh dari keramaian bahkan apa pun. “Lebih baik kita kembali kak.”, ucapku.
“Ayo lihat dulu!”, pintanya dengan mata yang lagi-lagi telah berkaca-kaca. Akhirnya aku menurutinya.
Sesampainya di sana aku menanti apa yang akan dilakukan Kak Sendy. Ia terdiam dan mulai mencari-cari sesuatu di sana, entah apa yang akan ia lakukan. “Kakak sedang apa?”, tanyaku. Aku memandangi sekitar. Pandanganku tertuju pada ujung jembatan, di sana ada seperti sebuah rumah yang dindingnya terbuat dari kardus yang didirikan. “Kak, ayo ke sana.”, ajakku, aku berlari menghampiri tempat itu disusul Kak Sendy.
Aku semakin mendekat dengan tempat itu. Setibanya aku langsung membuka kerdus yang dijadikan pintu itu. “Ya ampun.”, ucapku sehabis membuka pintu dan aku langsung memasuki bangunan yang rapuh itu dengan hati-hati, Kak Sendy menyusulku. Di tempat yang sangat sempit ini terbaring seorang wanita tua. Aku membalikkan tubuh yang tak berdaya itu. “Ibu”, panggilku.
“Apa?”, Kak Sendy bertanya.
“Mung-mungkinkah ini ibu?”, aku berbalik bertanya padanya. Aku memperhatikan wajah wanita tua dihadapanku, ia tak terbangun, kukira ia sedang sakit keras.
“Kalian siapa?”, pertanyaan seseorang mengagetkan kami. Seorang wanita yang lebih muda dari kami. Ia tiba-tiba masuk ruangan ini dengan membawa sekantong plastik. Siapa dia?
Aku langsung berdiri. “Maaf”, ucapku sambil sedikit membungkukkan badan. “Kami sedang mencari ibu kami yang hilang sekitar 11 tahun yang lalu.”, ucapku pelan.
“Kenapa di sini?”, ia kembali bertanya.
“Karena aku terakhir bertemu dengan ibu di sekitar sini.”, ucapku sambil tertunduk.
Dia meletakkan  bawaannya di bawah dan mengeluarkannya. Isinya adalah kotak makan dan sebuah termos kecil. Dia kembali berdiri. “Apa kau tahu nama ibumu, nak?”, tanyanya.
Aku memandang Kak Sendy, ia menggelengkan kepalanya. “Tidak, bu”, ucapku dengan nada kecewa.
“Jangan mencari di sini. Wanita ini adalah wanita tua yang tak memiliki siapa pun, aku telah merawatnya 5 tahun ini, tak mungkin ia memiliki keluarga karena selama ini tak pernah ada yang mencarinya”, ucapnya.  Aku terdiam sejenak, ada perasaan kecewa karena ternyata itu bukan ibu. “Oh iya, siapa nama kalian, nak?” tanyanya.
“Saya Sandra, dan ini Kak Sendy”, jawabku sambil menunjuk Kak Sendy. “Baiklah kalau begitu, kami pamit dulu bu, maaf kalau kami telah masuk sembarangan”, lanjutku.
“San-sandra…” terdengar suara yang sangat lemah memanggil nama Kak Sandra, aku pun kaget, dan ternyata ibu itu terlihat lebih kaget, kami melihat sosok ibu yang terbaring itu dan ternyata memang ialah yang bersuara barusan. Benarkah ia ibu?
“Ibu! Ibu!”, panggilku dan Kak Sendy bersamaan, kami memanggil seorang ibu yang telah lama tidak kami temui, seorang ibu yang telah melahirkan kami sekarang telah ada dihadapan kami dengan keadaan lemah tak berdaya.
“Sendy…” suaranya sangat pelan dan bergetar, air matanya telah menetes, aku pun sudah tak bisa menahan tangisanku, aku memeluknya.
“Ibu, benarkah ini ibu?”, tanyaku. “Ibu kenapa lakukan ini? Ibu kenapa membiarkan kami sendiri?” aku memeluknya lebih erat. Merasakan pelukan yang tak pernah aku rasakan selama belasan tahun ini.
“Ma-maaf”, ucapnya parau.
“Benarkah ia ibu kalian?”, Tanya orang tadi. Aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Ibu”, aku memanggilnya lagi.
“Emm, sebenarnya begini”, pandanganku teralihkan pada ibu tadi. ”Aku sangat terkejut ibu ini masih bisa berbicara.”, ucapannya terputus.
“Maksud ibu?”, aku bertanya.
“Menurut perkiraan, ibu ini tidak akan ..”, ia berhenti dan menarik nafas, “Hidup lebih dari hari ini”, ucapannya membuat aku terdiam. Kenapa pertemuan kami harus sesingkat ini?
“IBUUUUUU!!!!”, Kak Sendy berteriak dan memeluk erat ibu. Aku tersadar dari lamunanku dan memeluknya sambil menangis, aku tak sanggup berkata apa-apa lagi.
Ibu membalas pelukan kami, tangannya yang lemah berusaha membalas pelukan kami. “Ma-maafkan ibu, nak, maaf. Ibu, ibu tak bermaksud meninggalkan kalian,”, ucapnya, tersirat penyesalan di ucapannya. Aku tak membalasnya, sepertinya Kak Sendi pun juga, kami hanya melanjutkan tangisan kami. “Setelah ayah kalian meninggal ibu sangat terpukul, ibu takut kalian tidak seperti anak-anak lain. Lalu ibu menitipkan Sendy.” Dan setelah itu  ibu divonis terkena penyakit kanker. Jadi ibu memutuskan untuk menitipkan Sandra juga.”, jelasnya. Aku hanya bisa semakin menangis. Ternyata inilah alas an ibu sebenarnya, ia tak ingin kami kesusahan karenanya.
“Bu, kenapa ibu tak membiarkan kami berada di dekat ibu? Kami bisa merawat ibu, menjaga ibu, tetapi kenapa ibu melakukan ini bu?”, Tanya kak Sendy di sela tangisannya. Aku tak sanggup berkata apapun lagi, aku memeluk ibu semakin erat dan menangisi kejadian ini sebisaku.
“Ma.. Maaf nak, maaf”, ucap ibu sangat pelan, suaranya semakin melemah. “Hiduplah dengan baik nantinya”, lanjutnya dengan suara ang nyaris tak terdengar, tangisan kami semakin keras melihat keadaan itu. “Ibu, sayang kaliiia…”,
“IBUUUUU!!!”, teriak kami bersamaan. Ibu telah pergi meninggalkan kami mulai saat ini. Ibu, semoga kau bahagia di alam sana…
____
Kalimat terakhirnya adalah ia menyayangi kami. Ia meninggalkan kami dalam pertemuan singkat kemarin. Saat ini aku berada di pemakamannya, baru 30 menit yang lalu proses pemakamannya selesai. Di tempat ini hanya tersisa aku dan Kak Sendy yang seakan masih tak percaya dengan apa yang terjadi dalam kehidupan kami ini. Mengapa ibu meninggalkanku sangat cepat? Mengapa pertemuan itu terjadi? Mengapa aku bisa bertemu Kak Sendy dan langsung mencari ibu? Kenapa ibu meninggalkanku? Kenapa ayah lebih dulu meninggalkanku? Kenapa aku dilahirkan? Pertanyaan-pertanyaan itu yang ada dalam kepalaku saat ini. Mungkin tak ada yang bisa menjawabnya karena itu merpakan takdirku. Itu adalah takdir yang Tuhan berikan, tetapi saat ini aku percaya aku pasti bisa melewati masalah ini dengan baik.
Satu hal yang aku sesali adalah selama ini aku telah berprasangka buruk pada ibu, aku mengira ia meninggalkanku dan ternyata aku salah besar. Ibuku adalah orang terbaik dalam hidupku. Tuhan, seandainya aku bisa mengulang waktu lagi, aku berjanji tak akan melakukan hal bodoh itu… Ibuu, aku menyayangimu, dimana pun kau saat ini dan sampai kapan pun aku akan selalu menyayangimu……

Tidak ada komentar:

Posting Komentar