Jangan pernah malu untuk menunjukkan
siapa dirimu karena pasti kamu mempunyai kelebihan yang tak dimiliki orang
lain. Kalimat itu adalah kalimat yang akan selalu kuingat. Kalimat yang selalu
aku tuturkan ketika aku masih kecil, aku selalu mengatakannya walapun aku tak mengetahui
maknanya saat itu. Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang aku ingat dari
seorang ibu.
Namaku
Sandra, umurku 15 tahun. Saat ini aku tinggal di sebuah panti asuhan, aku
berada di sini sejak 11 tahun yang lalu. Dalam waktu yang cukup lama itu aku
hidup mandiri tanpa mengenal bantuan orang tua.
Di
mana ibu sekarang? Aku pun tak tahu. Yang aku ingat hanyalah saat usiaku 4
tahun aku berjalan bersamanya menusuri rel kereta api di bawah terik matahari
untuk membeli sebuah makanan dari uang hasil berjualan kami di tengah keramaian
pasar pada pagi hari yang telah kami
kumpulkan.
Saat
itu aku terus berjalan bersamanya. Hingga tiba saat itu, saat yang paling aku
benci tetapi aku akan selalu mengingatnya, di mana kami hendak menyebrangi rel
ada sebuah kereta api yang hendak lewat. Saat itu aku menggenggam tangan ibu
dengan erat, tetapi aku tidak tahu apa yang terjadi. Genggaman tanganku
terlepas dari ibu dan ia menyebrangi rel itu padahal kereta api hanya berjarak
5 meter lagi, tanpa aku, aku tak mengerti apakah aku tertinggal atau kah ia
sengaja meninggalkanku.
Yang
bisa aku lakukan saat itu hanyalah menangis, mungkin orang-orang disekelilingku
bertanya-tanya apa yang terjadi dan mungkin sebagian dari mereka merasa iba.
Tetapi aku tidak peduli, yang aku inginkan saat itu hanyalah menyeberangi rel
dan bertemu dengan ibu. Di sela tangisanku aku melihat kereta yang sedang lewat
hanya tersisa beberapa gerbong lagi, tangisanku mulai mereda. Dan setelah
kereta itu telah lewat sepenuhnya aku memandang ke seberang. Mencari sosok
seorang ibu. Tetapi aku tak menemukan apa pun.
Aku
hanya bisa terduduk di pinggir rel dan menangis sejadi-jadinya. Banyak
orang-orang menghampiriku setelahnya. Bagaimana tidak? Mereka pasti tak akan
membiarkan seorang anak kecil menangis sendirian di tempat yang sebenarnya
berbahaya. Dan akhirnya mereka membawaku ke sebuah tempat yang disebut panti
asuhan.
Ayah,
aku telah kehilangan seorang ayah sejak aku berumur 1 tahun, ibu bercerita saat
itu ayah sakit keras dan kami tidak mempunyai biaya untuk mengobatinya. Dan
saat ini aku pun telah kehilangan sosok ibu.betapa malangnya nasibku?
“Besok
sepertinya kita akan berkunjung ke panti asuhan di kota”, ucap seseorang yang
membuyarkan lamunanku. Tira, ia adalah teman baikku selama aku berada di sini,
dan kebetulan umur kami sama.
“Oh
ya? Baiklah, aku akan mempersiapkan untuk besok”, balasku sambil tersenyum dan
beranjak dari dudukku meninggalkan dia untuk masuk ke kamar dan mempersiapkan
yang perlu aku bawa untuk esok hari.
Besok
adalah hari minggu, hari itu memang menjadi rutinitas kami untuk mengunjungi
sebuah instansi dan saling berbagi di sana. Menyenangkan bukan? Aku sangat
menanti-nanti saat itu. Saat di mana aku bisa membalas jasa orang-orang yang
dulu telah mengunjungi panti asuhan dan menghiburku. Yang perlu aku bawa adalah
beberapa buku-buku yang akan aku gunakan untuk berbagi sedikit ilmu dengan
mereka.
____ esok hari ____
“Sandra,
ayo kita berangkat”, seru seseorang dari luar kamar.
“Iya
sebentar”, jawabku. Aku merapikan
pakaian yang aku kenakan dan memakai tasku. Aku keluar dari kamar dan berkumpul
dengan teman-teman lainnya di depan panti di pinggir jalan, untuk menunggu
angkot.
“Ini
kunjungan pertama kita ke sana ya, aku tidak sabar” ucap Tira sambil tersenyum
senang. Angkot yang kami tunggu pun telah tiba.
Aku
tersenyum. Ya, ini memang kunjungan pertama kami ke sana.”Mudah-mudahan kita
bisa member yang terbaik nantinya.”, balasku sambil memasuki angkot disusul
oleh teman-temanku yang lain.
Aku
melewati perjalanan yang terasa lama ini dengan bercanda bersama Tira. Hingga kami
telah sampai ditujuan, salah satu panti asuhan yang berada di kota. Kami turun
dari angkot lalu berkumpul bersama di depan panti.
“Baiklah,
lakukan yang telah kalian rencanakan dan kita berkumpul di sini kembali di
pukul 5 sore”, instruksi Ibu Neni, orang yang telah kami anggap orang tua kami
sendiri.
Pandanganku
langsung tertuju pada seorang yang mungkin lebih tua dariku dengan tampang
resah. Ia duduk di taman panti dengan wajah kebingungan. Entah kenapa aku
sangat tertarik mengunjunginya. “Selamat pagi”, sapaku.
“Eh,
pagi.”, balasnya dengan senyum yang terlihat terpaksa. Aku pun tersenyum
melihatnya. “Eh, em ada apa ya?”, tanyanya.
“Sandra
15 tahun” aku memperkenalkan diri dan mengulurkan tanganku. Ia membalas yang
kulakukan, ia menjabat tanganku masih dengan tampang kebingungannya, dan kurasa
semakin bingung melihat apa yang aku lakukan.
“Sendy,
17 tahun”, ucapnya, benar dugaanku ia lebih tua dariku.
“Aku
panggil kakak boleh?”, tanyaku yang hanya dibalas anggukannya. Aku melapaskan
jabatan tangan kami dan duduk disebelahnya. Aku merasa senang berada di
dekatnya, entah mengapa. “Apa ada yang bisa aku bantu, kak? Sepertinya kakak
sedang kebingungan”, tanyaku lagi. “Aku juga anak panti asuhan lho, sepertinya
tidak ada salahnya jika kita saling berbagi” sambungku dengan tersenyum lebar.
“Haha,
tidak ada apa-apa kok, dek”, jawabnya dengan pandangan lurus ke depan, ia hanya
menatap kosong ke arah tanaman.
“Tapi
wajah kakak terlihat sedang kebingungan.”, ucapku.
“Hah,
iya?”, ia bertanya sambil memandangku dengan tampang kaget. “Haha ternyata aku
memang tidak bisa menyembunyikan masalah.”, ucapnya.
“Kakak
‘kan tidak sendiri. Kakak bisa berbagi.”, saranku. “Mungkin aku bisa mencari
jalan keluar untuk masalah kakak”, sambungku
“Sebenarnya
ini masalah sekolah, kakak harus menampilkan bakat kakak di depan orang-orang,
tetapi kakak sama sekali tak memiliki kemampuan”, Kak Sendy mulai bercerita.
Aku terdiam sebentar mencerna kata-katanya dan berpikir apa yang harus aku katakan.
Aku juga memikirkan mengapa ia mudah menceritakan masalahnya pada orang yang
baru ia kenal? Apakah ia tak memiliki teman di panti in?
“Jangan
pernah malu untuk menunjukkan siapa dirimu karena pasti kamu mempunyai
kelebihan yang tak dimiliki orang lain.”, ucapku sambil tersenyum memandang
lurus ke arah tumbuhan, aku mengalihkan pandanganku ke kak Sendy. “Eh?”, aku
tak tahu apa yang terjadi tetap ia memandangku dengan tatapan kaget.
“Kamu
dapat dari mana kata-kata itu?” tanyanya. “Aku … akuuu …” ucapnya terbata-bata
tanpa melepaskan pandangan kagetnya padaku. Ada apa ini?
“A-aku
mendapatkannya dari i-ibu” jawabku terbata-bata karena aku merasa kurang nyaman
dengan tatapannya. Tetapi ternyata ada yang salah dengan jawabanku, ia semakin
menatapku dengan tatapan yang jauh lebih kaget.
“Kamu
siapa?” tanyanya. Pertanyaan yang membuatku tersentak.
“Maksud
kakak?”
“Kamu
siapa?” ulangnya, matanya mulai berkaca-kaca. “Kenapa kata-kata yang kita
dapatkan dari seorang ibu sama persis?”, jawabnya. Mataku terbelalak kaget. Apa
maksudnya? Sama? Kenapa bisa? Aku melihat matanya mulai menetskan air mata.
Nafasku terasa sesak dengan keadaan ini. “Ceritakan yang kamu ketahui tentang
orang tuamu sekarang!”, suruhnya.
Aku
terdiam sejenak dan mulai mengingat kejadian terpahit dalam hidupku. Untuk apa
ia ingin mengetahui orang tuaku? Tapi biarlah, “Dulu saat aku berumur 4 tahun
aku berjalan dengan ibu di pinggir rel kereta. Tetapi saat ada kereta yang
hendak lewat ibu menyeberangi rel itu dan meninggalkanku sendiri.”, ceritaku
padanya.
“Tunggu apa kamu Acan?” tanyanya, aku dibuat
bingung oleh pertanyaannya itu. Aku hanya terdiam dan memandanginya berusaha
mencari arti ucapannya dalam wajahnya. “Kamu Acan, ‘kan? Kamu adikku yang dulu?
Kamu ..”, lanjutnya. Adiknya? Aku tak pernah tahu kalau aku pernah memiliki
kakak.
“Maksud
Kak Sendy apa? Acan siapa? Aku tak mengenalnya. Adik kakak siapa?”, akhirnya
aku berbalik bertanya padanya karna tak berhasil menemukan jawaban.
Ia
menghela nafas nya, “Dulu …”, ia mulai bercerita. “Aku tinggal bertiga dengan
keluargaku, keluarga yang sangat kekurangan. Dan saat aku berusia satu tahun
aku memiliki seorang adik, aku tak tahu nama aslinya, yang aku tahu namanya
adalah Acan. Saat aku berusia 3 tahun ayah sakit keras. Dan tak lama beliau
meninggal dunia. Sepertinya ibu sangat terpukul dengan keadaaan itu. Jadi ia …”
ia menghentikan sejenak ceritanya untuk menghela nafas panjang dan menyeka air
matanya. “Menitipkanku di sebuah panti asuhan tetapi Acan tetap
bersamanya.”, ia memandang kosong ke
depan saat mengatakan itu. Menurutku itu adalah hal yang sangat ia benci.
“Jadi
wajar saja adik kakak yang bernama Acan tidak mengenal kakak karena ia masih
kecil saat itu”, ucapku pelan.
“Aku
tahu, tapi mengapa kata-kata yang kita ingat dari ibu kandung kita sama?”
tanyanya, aku hanya terdiam memikirkannya. “Acan, Sandra, tidak berbeda jauh
kan? Apa kamu bisa menjelaskannya? Atau mungkin kamu memiliki satu cerita lagi
yang bisa menemukan kenyataan ini?” lanjutnya.
“Mungkin
di sekitar rel kereta di kota sebelah, mungkin ibu masih di sana.” Ucapku
dengan air mata mengalir. Karena sejak awal bersama Kak Sendy aku merasa
tenang, entah mengapa aku bisa seperti ini, aku bisa merasakan bahwa aku memang
memiliki ikatan darah dengannya.
“Ibu?
Ibu masih hidup? Jadi kamu, mungkinkah kamu benar-benar Acan adikku?”, tanyanya
ditengah tangisannya.
“Aku
rasa” jawabku singkat lalu aku memeluknya, memeluk seorang kakak yang baru
sekali ini aku temui, ia membalas pelukanku. Aku melepaskan pelukannya dan
menyeka air mataku. “Ayo kak, kita ke kota sebelah mencari ibu di sekitar rel
kereta. Aku memang belum pernah mengunjungi tempat itu lagi.” Ajakku.
“Baik”
jawabnya, kami berdiri dari duduk kami lalu berlari kecil mencari Ibu Neni di
depan panti. Saat menemukanya aku menghampirinya.
“Ibu,
kami ingin pergi ke kota sebellah sebentar, kami hendak mencari ibu kami.” Aku
meminta ijin padanya. Kak Sendy langsung menarikku tanpa menunggu jawaban Bu
Neni.
“Tunggu!”
panggil Bu Neni.
“Eh,
kak!” aku menegurnya tetapi itu tak bisa menghentikannya. Ia langsung memanggil
angkot dan menarikku masuk.
“Semoga
saja aku masih bisa menemukannya”, ucapnya dengan pandangan tertuju pada
jalanan, aku hanya terdiam dan memandanginya. Aku merasa sangat bodoh, mengapa
aku tak ter[ikir mencari ibu di sana? Sedangkan Kak Sendy yang baru
mendengarnya saja langsung pergi ke dekat rel. padahal Kak Sendy belum tentu
benar kakakku. Aku mengalihkan pndanganku dari wajahnya kejalanan yang akan
kami lalui.
Hampir
1 jam berlalu, akhirnya kami sampai di sebuah stasiun kereta, Kak Sendy
langsung menuruni angkot dan berlari menelusuri rel kereta. Aku menyusulnya
setelah membayar angkot.
“Kak,
tunggu!”, teriakku. Aku berlari dengan cepat, berusaha mengejarnya. Cukup jauh
kami telah berlari dan kecepatan lari Kak Sendy semakin berkurang, hingga
akhirnya aku berhasil menyusulnya. Kami terhenti di pinggir rel yang sepi,
samping kanan dan kiri hanyalah rerumputan, dan mungkin hanya ada beberapa
rumah di sekelilingnya.
“Kak,
aku tak ingat dimana terakhir kami bertemu.”, ucapku dengan nafas yang
terengah-engah. Aku melihat wajahnya, ia tertunduk dan menatap seberang jalan
dengan kecewa, matanya pun telah berkaca-kaca. “Kakak?”, panggilku, tetapi
sepertinya ia tak berniat menjawabnya.
Ini
adalah saat yang membingungkan. Apa yang bisa aku lakukan saat ini? Aku hanya
seperti memberi harapan palsu pada orang lain, seharusnya aku tak perlu
mengatakannya tadi. Aku terduduk dan
tertunduk di pinggir rel. Menyesali apa yang telah aku perbuat. “ Maafkan aku
kak”, ucapku pelan. Ia juga tak menjawab maafku. Aku mencoba menatapnya. “Eh,
kenapa kak?”, tanyaku karena melihat raut wajahnya yang aneh. Aku pun berdiri.
“Ayo
seberangi rel ini, dan pergi ke sana.” Ucapnya sambil menunjuk ke arah sebuah
kolong jembatan yang cukup jauh dari tempat kami berdiri.
“Untuk
apa, Kak?” tanyaku, tetapi ia langsung menarik tanganku dan berlari kecil ke
arah tempat yang ia maksud. Jujur aku semakin ragu dengan permintaannya. Karena
semakin dekat kami dengan tempat itu hanya ada tumpukan kardus. Tempat yang
bisa dikatakan mustahil ditinggali orang lain, apalagi ibu, tak mungkin ada
orang tua tinggal di sana tempat yang jauh dari keramaian bahkan apa pun.
“Lebih baik kita kembali kak.”, ucapku.
“Ayo
lihat dulu!”, pintanya dengan mata yang lagi-lagi telah berkaca-kaca. Akhirnya
aku menurutinya.
Sesampainya
di sana aku menanti apa yang akan dilakukan Kak Sendy. Ia terdiam dan mulai
mencari-cari sesuatu di sana, entah apa yang akan ia lakukan. “Kakak sedang
apa?”, tanyaku. Aku memandangi sekitar. Pandanganku tertuju pada ujung
jembatan, di sana ada seperti sebuah rumah yang dindingnya terbuat dari kardus
yang didirikan. “Kak, ayo ke sana.”, ajakku, aku berlari menghampiri tempat itu
disusul Kak Sendy.
Aku
semakin mendekat dengan tempat itu. Setibanya aku langsung membuka kerdus yang
dijadikan pintu itu. “Ya ampun.”, ucapku sehabis membuka pintu dan aku langsung
memasuki bangunan yang rapuh itu dengan hati-hati, Kak Sendy menyusulku. Di
tempat yang sangat sempit ini terbaring seorang wanita tua. Aku membalikkan
tubuh yang tak berdaya itu. “Ibu”, panggilku.
“Apa?”,
Kak Sendy bertanya.
“Mung-mungkinkah
ini ibu?”, aku berbalik bertanya padanya. Aku memperhatikan wajah wanita tua dihadapanku,
ia tak terbangun, kukira ia sedang sakit keras.
“Kalian
siapa?”, pertanyaan seseorang mengagetkan kami. Seorang wanita yang lebih muda
dari kami. Ia tiba-tiba masuk ruangan ini dengan membawa sekantong plastik.
Siapa dia?
Aku
langsung berdiri. “Maaf”, ucapku sambil sedikit membungkukkan badan. “Kami
sedang mencari ibu kami yang hilang sekitar 11 tahun yang lalu.”, ucapku pelan.
“Kenapa
di sini?”, ia kembali bertanya.
“Karena
aku terakhir bertemu dengan ibu di sekitar sini.”, ucapku sambil tertunduk.
Dia
meletakkan bawaannya di bawah dan
mengeluarkannya. Isinya adalah kotak makan dan sebuah termos kecil. Dia kembali
berdiri. “Apa kau tahu nama ibumu, nak?”, tanyanya.
Aku
memandang Kak Sendy, ia menggelengkan kepalanya. “Tidak, bu”, ucapku dengan
nada kecewa.
“Jangan
mencari di sini. Wanita ini adalah wanita tua yang tak memiliki siapa pun, aku
telah merawatnya 5 tahun ini, tak mungkin ia memiliki keluarga karena selama
ini tak pernah ada yang mencarinya”, ucapnya.
Aku terdiam sejenak, ada perasaan kecewa karena ternyata itu bukan ibu.
“Oh iya, siapa nama kalian, nak?” tanyanya.
“Saya
Sandra, dan ini Kak Sendy”, jawabku sambil menunjuk Kak Sendy. “Baiklah kalau
begitu, kami pamit dulu bu, maaf kalau kami telah masuk sembarangan”, lanjutku.
“San-sandra…”
terdengar suara yang sangat lemah memanggil nama Kak Sandra, aku pun kaget, dan
ternyata ibu itu terlihat lebih kaget, kami melihat sosok ibu yang terbaring
itu dan ternyata memang ialah yang bersuara barusan. Benarkah ia ibu?
“Ibu!
Ibu!”, panggilku dan Kak Sendy bersamaan, kami memanggil seorang ibu yang telah
lama tidak kami temui, seorang ibu yang telah melahirkan kami sekarang telah
ada dihadapan kami dengan keadaan lemah tak berdaya.
“Sendy…”
suaranya sangat pelan dan bergetar, air matanya telah menetes, aku pun sudah
tak bisa menahan tangisanku, aku memeluknya.
“Ibu,
benarkah ini ibu?”, tanyaku. “Ibu kenapa lakukan ini? Ibu kenapa membiarkan
kami sendiri?” aku memeluknya lebih erat. Merasakan pelukan yang tak pernah aku
rasakan selama belasan tahun ini.
“Ma-maaf”,
ucapnya parau.
“Benarkah
ia ibu kalian?”, Tanya orang tadi. Aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Ibu”,
aku memanggilnya lagi.
“Emm,
sebenarnya begini”, pandanganku teralihkan pada ibu tadi. ”Aku sangat terkejut
ibu ini masih bisa berbicara.”, ucapannya terputus.
“Maksud
ibu?”, aku bertanya.
“Menurut
perkiraan, ibu ini tidak akan ..”, ia berhenti dan menarik nafas, “Hidup lebih dari
hari ini”, ucapannya membuat aku terdiam. Kenapa pertemuan kami harus sesingkat
ini?
“IBUUUUUU!!!!”,
Kak Sendy berteriak dan memeluk erat ibu. Aku tersadar dari lamunanku dan
memeluknya sambil menangis, aku tak sanggup berkata apa-apa lagi.
Ibu
membalas pelukan kami, tangannya yang lemah berusaha membalas pelukan kami.
“Ma-maafkan ibu, nak, maaf. Ibu, ibu tak bermaksud meninggalkan kalian,”,
ucapnya, tersirat penyesalan di ucapannya. Aku tak membalasnya, sepertinya Kak
Sendi pun juga, kami hanya melanjutkan tangisan kami. “Setelah ayah kalian
meninggal ibu sangat terpukul, ibu takut kalian tidak seperti anak-anak lain.
Lalu ibu menitipkan Sendy.” Dan setelah itu
ibu divonis terkena penyakit kanker. Jadi ibu memutuskan untuk
menitipkan Sandra juga.”, jelasnya. Aku hanya bisa semakin menangis. Ternyata
inilah alas an ibu sebenarnya, ia tak ingin kami kesusahan karenanya.
“Bu,
kenapa ibu tak membiarkan kami berada di dekat ibu? Kami bisa merawat ibu,
menjaga ibu, tetapi kenapa ibu melakukan ini bu?”, Tanya kak Sendy di sela
tangisannya. Aku tak sanggup berkata apapun lagi, aku memeluk ibu semakin erat
dan menangisi kejadian ini sebisaku.
“Ma..
Maaf nak, maaf”, ucap ibu sangat pelan, suaranya semakin melemah. “Hiduplah
dengan baik nantinya”, lanjutnya dengan suara ang nyaris tak terdengar,
tangisan kami semakin keras melihat keadaan itu. “Ibu, sayang kaliiia…”,
“IBUUUUU!!!”,
teriak kami bersamaan. Ibu telah pergi meninggalkan kami mulai saat ini. Ibu, semoga
kau bahagia di alam sana…
____
Kalimat terakhirnya adalah ia menyayangi kami. Ia
meninggalkan kami dalam pertemuan singkat kemarin. Saat ini aku berada di
pemakamannya, baru 30 menit yang lalu proses pemakamannya selesai. Di tempat
ini hanya tersisa aku dan Kak Sendy yang seakan masih tak percaya dengan apa
yang terjadi dalam kehidupan kami ini. Mengapa ibu meninggalkanku sangat cepat?
Mengapa pertemuan itu terjadi? Mengapa aku bisa bertemu Kak Sendy dan langsung
mencari ibu? Kenapa ibu meninggalkanku? Kenapa ayah lebih dulu meninggalkanku?
Kenapa aku dilahirkan? Pertanyaan-pertanyaan itu yang ada dalam kepalaku saat
ini. Mungkin tak ada yang bisa menjawabnya karena itu merpakan takdirku. Itu
adalah takdir yang Tuhan berikan, tetapi saat ini aku percaya aku pasti bisa
melewati masalah ini dengan baik.
Satu hal yang aku sesali adalah selama ini aku telah
berprasangka buruk pada ibu, aku mengira ia meninggalkanku dan ternyata aku
salah besar. Ibuku adalah orang terbaik dalam hidupku. Tuhan, seandainya aku
bisa mengulang waktu lagi, aku berjanji tak akan melakukan hal bodoh itu… Ibuu,
aku menyayangimu, dimana pun kau saat ini dan sampai kapan pun aku akan selalu
menyayangimu……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar