Namaku Dinda, umurku 17 tahun.
Aku anak tunggal dalam keluargaku. Aku tinggal di Bandung. Saat ini aku
bersekolah di salah satu sekolah menengah atas di Bandung.
“Kamu udah makan, Din?”, tanya
seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapanku. Rafa, dia temanku sejak sekolah
menengah pertama.
“Udah kok, kamu gak makan,
Raf?”, aku balik bertanya padanya.
“Aku udah makan kok”, jawabnya
dengan tersenyum, lalu ia duduk di sampingku. Di bangku depan kelas. “Tau gak? Kemarin aku abis beli buku ini,
lho!”, ucapnya sambil mencari-cari sesuatu di dalam tasnya.
“Buku apa, Raf?”, tanyaku
penasaran.
“Tada! Super Junior’s History
New Edition, Din!”, jawabnya dengan bangga sambil menunjukkan bukunya.
“Aku mau, dong, Raf. Kamu gak
adil, ah. Masa aku gak kamu beliin sih?”, aku memprotesnya.
“Tenang, Din, tenang.
Rencananya aku mau kasih ke kamu kok, Din”, ucapnya.
“Bener, Raf?” tanyaku.
“Bener, lah. Masa aku
becanda?”, dia balik bertanya.
“Ah Rafa! Kamu memang sahabatku
yang paling baik.” Ucapku sambil merebut buku yang ia pegang.
“Iya-iya, aku tau kok”,
jawabnya, aku membaca sekilas halaman demi halaman buku yang Rafa berikan.
“Bobby!”, suara seseorang
memanggil nama yang tidak asing lagi buatku. Pandanganku teralihkan dari buku
yang kubaca mencari-cari Bobby, orang yang ia panggil.
Ah, itu, dia berada di depan
pintu kelasnya yang berada di depan kelasku. Bobby, orang yang berbadan tinggi,
kulitnya putih, wajahnya tampan, ia juga pandai dalam banyak bidang olah raga
juga musik, aku sangat mengaguminya. Aku pun mengalihkan pandangan dari buku
yang diberikan Rafa, saat melihatnya entah mengapa pikiranku menjadi kacau.
“Heh, Din!”, panggilan
seseorang. Rafa, mengganggu saja dia.
“Ah, kenapa sih, Raf?”, aku
mengalihkan pandanganku padanya.
“Abis kamu kalau udah ngeliatin
dia udah ngeliatin dia kayak pindah ke dunia lain aja tau.”, protesnya.
“Biarin lah. Kenapa? Cemburu
kamu, hah?”, tanyaku, aku hendak memandangi Bobby lagi dan ternyata dia telah
tidak berada di sana lagi. “Tuh, kan, dia pergi, kamu, sih”, tanpa menunggu
jawaban Rafa aku meniggalkannya memasuki kelas. Entah kenapa jika sedang
memandangi Bobby aku tidak suka diganggu.
“Din, masa udah dikasih buku
masih marah sih? Jangan marah, ya. Aku janji nanti aku traktir es krim deh.”,
Rafa menghampiriku, ke dalam kelas, kebetulan kami satu kelas, dia merayuku
seperti biasa. Sebenarnya aku gak marah, cuma sebel aja, karna Rafa selalu
menggangguku setiap aku memandangi Bobby.
“Kamu sesalu bilang gitu,
Raf.”, ucapku sebel.
“Hahaha, gak jadi marah, kan?”
tanyanya
“Iya, deh, enggak”, ucapku agak
ketus.
“Gak gitu juga kali jawabnya,
Din”, komentarnya.
“Tersarah, Raf” balasku.
Aku mengalihkan pandanganku ke
buku yang diberikan Rafa, aku merasakan Rafa berjalan meninggalkanku untuk
pergi ke tempat duduknya di belakang tempat dudukku.
“Yang namanya Dinda yang mana
ya?” seseorang menyebut namaku, spontan aku langsung mencari sumber suaranya.
Di depan pintu kelas, ternyata itu dia, Bobby. Ya Tuhan aku seperti tidak bisa
berbicara lagi. “Kamu Dinda?”, dia menunjuk ke arahku. Aku hanya menganggukkan
kepala. Dengan langkah tegapnya ia memasuki kelasku dan menghampiriku. Semakin
ia mendekat nafasku terasa semakin berat.
“Kamu tau, kan tugas yang
diberikan ibu Sari tentang pertukaran pendapat pelajaran Lingkungan Hidup
antarkelas? Nah, perwakilan yang dipilih dari kelasku aku sendiri, sedangkan
dari kelas ini kamu. Jadi kita harus bekerja sama.Kebetulan kelasku menjadi
satu tim dengan kelas ini.”, jelasnya yang semakin membuat aku ingin mati di
tempat. Kerja sama dengan Bobby? Huaaa betapa beruntungnya aku.
“A-aku baru tahu itu”, jawabku
agak terbata.
“Haha, makanya sekarang aku
kasih tahu kamu”, jawabnya sambil tersenyum, membuat wajahnya semakin manis
saja.
“Ehm, terimakasih, mohon
kerjasamanya.”, ucapku sambil menunduk.
“Iya, aku juga. Ya udah kalau
gitu, aku balik ke kelas dulu”, ucapnya lalu ia meninggalkan kelasku.
Ahhh mimpi apa aku semalam? Aku
benar-benar bahaia saat in. Bobby……
“Dinda masih gak lupa sama aku,
kan?”, Tanya seseorang dari belakang yang membuat aku mengalihkan pandanganku
padanya.
“Apaan, sih, Rafaa? Ya enggak,
lah. Jangan berlebihan, deh!”, omelku padanya. Benar-benar menjengkelkan dia.
Aku pun membalikkan badanku lagi dan kembali membaca buku yang sejak tadi aku
pegang. Dasar Rafa, mengganggu saja.
“Kamu kenapa, Din? Kok mukanya
gak enak banget?”, Tanya seseorang yang tiba-tiba menghampiriku, aku melihatnya
sekilas. Vera, ia temanku sejak sekolah menengah pertama.
“Rafa, tuh”, jawabku singkat
dan pandanganku kembali pada buku yang kubaca.
“Kamu apain Dinda, Raf?”, Tanya
Vera pada Rafa.
“Gak aku apa-apain kok, malahan
aku balikin dia ke jalan yang bener.” Jawaban Rafa sambil terkekeh, semakin
membuat aku sebal saja.
“Kalian kenapa, sih”, tanya
Vera, tanpa menunggu jawaban kami ia langsung menuju tempat duduknya.
-Setelah pulang sekolah-
-di kamar Dinda-
“Haaahhhh”,
aku meletakkan tasku di sembarang tempat dan membaringkan badanku di tempat
tidur. Aku kembali membayangkan kejadian di sekolah tadi. Bobby, senyumnya
aahh, belum lagi harus bekerja sama dengannya.
‘Heeyy,
heeiii heeeiii.. your lipstick….’, suara handphone membuyarkan lamunanku, aku
langsung mengambilnya dan melihatnya. Satu pesan masuk, aku langsung
membukanya. ‘Dinda, besok kamu tanya teman-teman kamu ya pendapat mereka
tentang keamanan sekolah, Bobby J’
“Aaaaaaaaa”,
teriakku karena terlalu senang. Dia mengirim pesan untukku. Aku membalas
pesannya. ‘oh oke, Bobby J’, jawabku
singkat karena aku tak bisa memikirkan kata-kata lagi.
-Esok Hari-
“Pagi
semuaaa~”, sapaku bahagia kepada orang-orang di kelas. Sebenarnya aku sadar
mereka memandangiku dengan tatapan yang aneh tetapi aku tak menghiraukan itu,
rasanya hal-hal yang menganggu itu telah tertutupi rasa senangku hari ini. Aku
menuju tempat dudukku dan meletakkan tasku dan segera berbalik. “Rafaaaa~”,
panggilku saat melihat Rafa telah ada di bangkunya. “Walaupun aku tau kamu ga
suka dengernya tapi aku bakalan certain ini ke kamu. Sumpaahh aku seneng
banget, Raf!”, ocehku dengan ekspresi bahagia.
“Eh? Kenapa,
Din?”, Tanya Rafa datar, dia tak seperti biasanya. Rasa bahagiaku hilang
seketika. Ia memandangiku menunggu jawabanku.
“Kamu
kenapa, Raf?”, aku berbalik menanyainya.
“Loh, malah
balik tanya kamu. Aku gapapa, kamu mau cerita apa?”, tanyanya lagi dengan
senyum yang agak dipaksakan. Aku merasa semakin aneh dengannya, kenapa , sih
dia? “Kok malah diem? Ehmm aku tau nih, pasti masalah Bobby kan? Kenapa? Dia
nembak kamu eh?” tanyanya dengan sedikit tertawa.
“Ngawur
kamu! Belum juga apa-apa. Eh kamu kenapa sih? Kalo ada apa-apa cerita aja lah”,
ucapku. Tetapi ia hanya meresponku dengan tersenyum kecil dan mengalihkan
pandangannya ke buku yang terdapat di atas mejanya.
“Aku gak
papa”, ucapnya singkat.
Aku hanya
membaikkan badanku, enggan memaksa ia bercerita saat ini. Jujur melihat
sahabatku sendiri seperti itu rasa bahagiaku ini seakan tak ada artinya hari
ini. Rafa kenapa?
-Jam
Istirahat-
“Dindaaaa~”,
panggil seseorang dari belakang, “Kamu kenapa diem aja dari tadi eoh?”,
lanjutnya. Haaah akhirnya Rafa telah kembali seperti biasa.
Perlahan aku
membalikkan badanku dan menatapnya sedikit tersenyum sebal. “Gara-gara kamu
tau!”, jawabku. Seenarnya aku cukup lega mengetahui ia telah kembali seperti
biasa. Aku berdiri dari bangkuku, “Teman-teman, boeh aku minta waktu kalian
sebentar?”, pintaku.
“Eh ada
apa?” “Kita ga ada bikin masalah kan?” “Tugas lagi kah” bisik-bisik mereka.
“Tolong
tuliskan pendapat kalian tentang keamanan sekolah di selembar kertas, setelah
itu berikan padaku selesai istirahat, terima kasih”, aku mengakhiri ucapanku
santai dan langsung menarik Vera menuju kantin sekolah.
“Vera!! Kamu
harus tau gimana senengnya aku hahaha”, ucapku dalam perjalanan.
“Bobby kan?
Tanpa kamu cerita aku juga udah tau, Din”, balasnya datar.
“Kamu ga seru
banget, Ver, diajak curhat”, ucapku jujur sedangkan ia hanya tersenyum jahil.
“Eh kamu sadar gak, sih, tadi pagi Rafa beda banget?”, tanyaku.
“Iya, Din.
Aku juga ngerasa gitu, rasanya aneh kan liat Rafa dateng lebih lambat dari
biasanya terus dia langsung baca buku di bangkunya.”, ceritanya yang membuat
aku semakin aneh dengan Rafa.
-Pulang
Sekolah-
“Langsung
pulang, Din? Mau aku anter?”, Tanya Rafa, “Eh, tapi aku dianter ya, ga jadi
deh, Din, hehe”, lanjutnya terkekeh.
“Aku masih
mau ngurus sesuatu dulu sama Bobby, Raf.”, jawabku sambil merapikan bawaanku.
“Ga biasanya kamu dianter, Raf?” tanyaku yang baru saja menyadari keanehan itu.
“Gak papa,
Din, lagi pengen aja, mumpung masih punya Mama-Papa wkwk”, ucapnya sambil
tertawa aneh.
“Dasar
bocah”, ejekku dan aku beranjak pergi dari bangkuku. “Duluan ye bocah!”,
pamitku dan meninggalkan Bobby.
Aku memasuki
ruang kelas Bobby, dari ambang pintu aku melihatnya tertawa ecil embaca
selembaran kertas yang ia pegang.aku mendekatinya, “Maaf lama”, ucapku pelan.
“Ahaha lama
apanya? Cepet banget kok!”, ucapnya. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
“Silakan duduk”, ia menarik bangku kosong di sampingnya dan menawarkanku untuk
duduk di situ melalui gerakkan tangannya. Tanpa basa-basi aku enggan melewatkan
kesempatan seperti ini, aku langsung duduk di sebelahnya dan membacakan satu
persatu pendapat teman-temanku, dan sesekali kami tertawa membaca pendapat yang
agak aneh dan terlalu frontal.
-Esok Hari-
Aku memasuki
kelasku pagi ini, “Rafaaaaaa!!!!!”, panggilku tanpa memperhatikan keadaan
kelas. Aku berlari kecil mendekati sahabatku itu. “Aku bahagiiaaaa aaaaa”
“Dasar
bocah!” ejeknya dengan muka yang seolah-olah marah. “Senengnya ga usah
keterlaluan dong!”, lanjutnya, tetapi tak lama kemudian ia tersenyum.
“Ahahaha,
pokoknya aku seneng banget, Raf. Walaupun aku tau kamu sama Vera udah bosen
dengerin curhatanku makanya aku jarang cerita lagi sama kalian, tapi aku
bakalan tetep ngasih tau kalo aku seneng hahaha”, ocehku.
“Jangan
sampe lupa jalan lho, Din”, candanya.
“Terserah,
deh, Raf, terserah!”, balasku kesal. Aku membuka tasku dan mengambil buku yang
hendak kutaruh di laci mejaku. Aku membuka laci itu, tetapi aneh, terasa lebih
susah dari biasanya. Aku sedikit memaksakannya dan akhirnya pun aku berhasil
membukanya. Tetapi aku menemukan sesuatu, sebuah boneka beruang dibungkus rapi
dengan plastic bermoti dan terdapat surat di dekatnya. ‘Have a nice day! Semoga
kita bisa selalu bersama’, isi suratnya. Dari siapa ini? Secret admirer kah?
-_-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar