Sabtu, 05 Juli 2014

I’m The Real Your Secret Admirer! part 1



Namaku Dinda, umurku 17 tahun. Aku anak tunggal dalam keluargaku. Aku tinggal di Bandung. Saat ini aku bersekolah di salah satu sekolah menengah atas di Bandung.
“Kamu udah makan, Din?”, tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapanku. Rafa, dia temanku sejak sekolah menengah pertama.
“Udah kok, kamu gak makan, Raf?”, aku balik bertanya padanya.
“Aku udah makan kok”, jawabnya dengan tersenyum, lalu ia duduk di sampingku. Di bangku depan kelas.  “Tau gak? Kemarin aku abis beli buku ini, lho!”, ucapnya sambil mencari-cari sesuatu di dalam tasnya.
“Buku apa, Raf?”, tanyaku penasaran.
“Tada! Super Junior’s History New Edition, Din!”, jawabnya dengan bangga sambil menunjukkan bukunya.
“Aku mau, dong, Raf. Kamu gak adil, ah. Masa aku gak kamu beliin sih?”, aku memprotesnya.
“Tenang, Din, tenang. Rencananya aku mau kasih ke kamu kok, Din”, ucapnya.
“Bener, Raf?” tanyaku.
“Bener, lah. Masa aku becanda?”, dia balik bertanya.
“Ah Rafa! Kamu memang sahabatku yang paling baik.” Ucapku sambil merebut buku yang ia pegang.
“Iya-iya, aku tau kok”, jawabnya, aku membaca sekilas halaman demi halaman buku yang Rafa berikan.
“Bobby!”, suara seseorang memanggil nama yang tidak asing lagi buatku. Pandanganku teralihkan dari buku yang kubaca mencari-cari Bobby, orang yang ia panggil.
Ah, itu, dia berada di depan pintu kelasnya yang berada di depan kelasku. Bobby, orang yang berbadan tinggi, kulitnya putih, wajahnya tampan, ia juga pandai dalam banyak bidang olah raga juga musik, aku sangat mengaguminya. Aku pun mengalihkan pandangan dari buku yang diberikan Rafa, saat melihatnya entah mengapa pikiranku menjadi kacau.
“Heh, Din!”, panggilan seseorang. Rafa, mengganggu saja dia.
“Ah, kenapa sih, Raf?”, aku mengalihkan pandanganku padanya.
“Abis kamu kalau udah ngeliatin dia udah ngeliatin dia kayak pindah ke dunia lain aja tau.”, protesnya.
“Biarin lah. Kenapa? Cemburu kamu, hah?”, tanyaku, aku hendak memandangi Bobby lagi dan ternyata dia telah tidak berada di sana lagi. “Tuh, kan, dia pergi, kamu, sih”, tanpa menunggu jawaban Rafa aku meniggalkannya memasuki kelas. Entah kenapa jika sedang memandangi Bobby aku tidak suka diganggu.

“Din, masa udah dikasih buku masih marah sih? Jangan marah, ya. Aku janji nanti aku traktir es krim deh.”, Rafa menghampiriku, ke dalam kelas, kebetulan kami satu kelas, dia merayuku seperti biasa. Sebenarnya aku gak marah, cuma sebel aja, karna Rafa selalu menggangguku setiap aku memandangi Bobby.
“Kamu sesalu bilang gitu, Raf.”, ucapku sebel.
“Hahaha, gak jadi marah, kan?” tanyanya
“Iya, deh, enggak”, ucapku agak ketus.
“Gak gitu juga kali jawabnya, Din”, komentarnya.
“Tersarah, Raf” balasku.

Aku mengalihkan pandanganku ke buku yang diberikan Rafa, aku merasakan Rafa berjalan meninggalkanku untuk pergi ke tempat duduknya di belakang tempat dudukku.
“Yang namanya Dinda yang mana ya?” seseorang menyebut namaku, spontan aku langsung mencari sumber suaranya. Di depan pintu kelas, ternyata itu dia, Bobby. Ya Tuhan aku seperti tidak bisa berbicara lagi. “Kamu Dinda?”, dia menunjuk ke arahku. Aku hanya menganggukkan kepala. Dengan langkah tegapnya ia memasuki kelasku dan menghampiriku. Semakin ia mendekat nafasku terasa semakin berat.

“Kamu tau, kan tugas yang diberikan ibu Sari tentang pertukaran pendapat pelajaran Lingkungan Hidup antarkelas? Nah, perwakilan yang dipilih dari kelasku aku sendiri, sedangkan dari kelas ini kamu. Jadi kita harus bekerja sama.Kebetulan kelasku menjadi satu tim dengan kelas ini.”, jelasnya yang semakin membuat aku ingin mati di tempat. Kerja sama dengan Bobby? Huaaa betapa beruntungnya aku.
“A-aku baru tahu itu”, jawabku agak terbata.
“Haha, makanya sekarang aku kasih tahu kamu”, jawabnya sambil tersenyum, membuat wajahnya semakin manis saja.
“Ehm, terimakasih, mohon kerjasamanya.”, ucapku sambil menunduk.
“Iya, aku juga. Ya udah kalau gitu, aku balik ke kelas dulu”, ucapnya lalu ia meninggalkan kelasku.

Ahhh mimpi apa aku semalam? Aku benar-benar bahaia saat in. Bobby……
“Dinda masih gak lupa sama aku, kan?”, Tanya seseorang dari belakang yang membuat aku mengalihkan pandanganku padanya.
“Apaan, sih, Rafaa? Ya enggak, lah. Jangan berlebihan, deh!”, omelku padanya. Benar-benar menjengkelkan dia. Aku pun membalikkan badanku lagi dan kembali membaca buku yang sejak tadi aku pegang. Dasar Rafa, mengganggu saja.

“Kamu kenapa, Din? Kok mukanya gak enak banget?”, Tanya seseorang yang tiba-tiba menghampiriku, aku melihatnya sekilas. Vera, ia temanku sejak sekolah menengah pertama.
“Rafa, tuh”, jawabku singkat dan pandanganku kembali pada buku yang kubaca.
“Kamu apain Dinda, Raf?”, Tanya Vera pada Rafa.
“Gak aku apa-apain kok, malahan aku balikin dia ke jalan yang bener.” Jawaban Rafa sambil terkekeh, semakin membuat aku sebal saja.
“Kalian kenapa, sih”, tanya Vera, tanpa menunggu jawaban kami ia langsung menuju tempat duduknya.

-Setelah pulang sekolah-
-di kamar Dinda-

“Haaahhhh”, aku meletakkan tasku di sembarang tempat dan membaringkan badanku di tempat tidur. Aku kembali membayangkan kejadian di sekolah tadi. Bobby, senyumnya aahh, belum lagi harus bekerja sama dengannya.
‘Heeyy, heeiii heeeiii.. your lipstick….’, suara handphone membuyarkan lamunanku, aku langsung mengambilnya dan melihatnya. Satu pesan masuk, aku langsung membukanya. ‘Dinda, besok kamu tanya teman-teman kamu ya pendapat mereka tentang keamanan sekolah, Bobby J
“Aaaaaaaaa”, teriakku karena terlalu senang. Dia mengirim pesan untukku. Aku membalas pesannya. ‘oh oke, Bobby J’, jawabku singkat karena aku tak bisa memikirkan kata-kata lagi.

-Esok Hari-

“Pagi semuaaa~”, sapaku bahagia kepada orang-orang di kelas. Sebenarnya aku sadar mereka memandangiku dengan tatapan yang aneh tetapi aku tak menghiraukan itu, rasanya hal-hal yang menganggu itu telah tertutupi rasa senangku hari ini. Aku menuju tempat dudukku dan meletakkan tasku dan segera berbalik. “Rafaaaa~”, panggilku saat melihat Rafa telah ada di bangkunya. “Walaupun aku tau kamu ga suka dengernya tapi aku bakalan certain ini ke kamu. Sumpaahh aku seneng banget, Raf!”, ocehku dengan ekspresi bahagia.
“Eh? Kenapa, Din?”, Tanya Rafa datar, dia tak seperti biasanya. Rasa bahagiaku hilang seketika. Ia memandangiku menunggu jawabanku.
“Kamu kenapa, Raf?”, aku berbalik menanyainya.
“Loh, malah balik tanya kamu. Aku gapapa, kamu mau cerita apa?”, tanyanya lagi dengan senyum yang agak dipaksakan. Aku merasa semakin aneh dengannya, kenapa , sih dia? “Kok malah diem? Ehmm aku tau nih, pasti masalah Bobby kan? Kenapa? Dia nembak kamu eh?” tanyanya dengan sedikit tertawa.
“Ngawur kamu! Belum juga apa-apa. Eh kamu kenapa sih? Kalo ada apa-apa cerita aja lah”, ucapku. Tetapi ia hanya meresponku dengan tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya ke buku yang terdapat di atas mejanya.
“Aku gak papa”, ucapnya singkat.
Aku hanya membaikkan badanku, enggan memaksa ia bercerita saat ini. Jujur melihat sahabatku sendiri seperti itu rasa bahagiaku ini seakan tak ada artinya hari ini. Rafa kenapa?

-Jam Istirahat-

“Dindaaaa~”, panggil seseorang dari belakang, “Kamu kenapa diem aja dari tadi eoh?”, lanjutnya. Haaah akhirnya Rafa telah kembali seperti biasa.
Perlahan aku membalikkan badanku dan menatapnya sedikit tersenyum sebal. “Gara-gara kamu tau!”, jawabku. Seenarnya aku cukup lega mengetahui ia telah kembali seperti biasa. Aku berdiri dari bangkuku, “Teman-teman, boeh aku minta waktu kalian sebentar?”, pintaku.
“Eh ada apa?” “Kita ga ada bikin masalah kan?” “Tugas lagi kah” bisik-bisik mereka.
“Tolong tuliskan pendapat kalian tentang keamanan sekolah di selembar kertas, setelah itu berikan padaku selesai istirahat, terima kasih”, aku mengakhiri ucapanku santai dan langsung menarik Vera menuju kantin sekolah.
“Vera!! Kamu harus tau gimana senengnya aku hahaha”, ucapku dalam perjalanan.
“Bobby kan? Tanpa kamu cerita aku juga udah tau, Din”, balasnya datar.
“Kamu ga seru banget, Ver, diajak curhat”, ucapku jujur sedangkan ia hanya tersenyum jahil. “Eh kamu sadar gak, sih, tadi pagi Rafa beda banget?”, tanyaku.
“Iya, Din. Aku juga ngerasa gitu, rasanya aneh kan liat Rafa dateng lebih lambat dari biasanya terus dia langsung baca buku di bangkunya.”, ceritanya yang membuat aku semakin aneh dengan Rafa.

-Pulang Sekolah-

“Langsung pulang, Din? Mau aku anter?”, Tanya Rafa, “Eh, tapi aku dianter ya, ga jadi deh, Din, hehe”, lanjutnya terkekeh.
“Aku masih mau ngurus sesuatu dulu sama Bobby, Raf.”, jawabku sambil merapikan bawaanku. “Ga biasanya kamu dianter, Raf?” tanyaku yang baru saja menyadari keanehan itu.
“Gak papa, Din, lagi pengen aja, mumpung masih punya Mama-Papa wkwk”, ucapnya sambil tertawa aneh.
“Dasar bocah”, ejekku dan aku beranjak pergi dari bangkuku. “Duluan ye bocah!”, pamitku dan meninggalkan Bobby.

Aku memasuki ruang kelas Bobby, dari ambang pintu aku melihatnya tertawa ecil embaca selembaran kertas yang ia pegang.aku mendekatinya, “Maaf lama”, ucapku pelan.
“Ahaha lama apanya? Cepet banget kok!”, ucapnya. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. “Silakan duduk”, ia menarik bangku kosong di sampingnya dan menawarkanku untuk duduk di situ melalui gerakkan tangannya. Tanpa basa-basi aku enggan melewatkan kesempatan seperti ini, aku langsung duduk di sebelahnya dan membacakan satu persatu pendapat teman-temanku, dan sesekali kami tertawa membaca pendapat yang agak aneh dan terlalu frontal.

-Esok Hari-

Aku memasuki kelasku pagi ini, “Rafaaaaaa!!!!!”, panggilku tanpa memperhatikan keadaan kelas. Aku berlari kecil mendekati sahabatku itu. “Aku bahagiiaaaa aaaaa”
“Dasar bocah!” ejeknya dengan muka yang seolah-olah marah. “Senengnya ga usah keterlaluan dong!”, lanjutnya, tetapi tak lama kemudian ia tersenyum.
“Ahahaha, pokoknya aku seneng banget, Raf. Walaupun aku tau kamu sama Vera udah bosen dengerin curhatanku makanya aku jarang cerita lagi sama kalian, tapi aku bakalan tetep ngasih tau kalo aku seneng hahaha”, ocehku.
“Jangan sampe lupa jalan lho, Din”, candanya.
“Terserah, deh, Raf, terserah!”, balasku kesal. Aku membuka tasku dan mengambil buku yang hendak kutaruh di laci mejaku. Aku membuka laci itu, tetapi aneh, terasa lebih susah dari biasanya. Aku sedikit memaksakannya dan akhirnya pun aku berhasil membukanya. Tetapi aku menemukan sesuatu, sebuah boneka beruang dibungkus rapi dengan plastic bermoti dan terdapat surat di dekatnya. ‘Have a nice day! Semoga kita bisa selalu bersama’, isi suratnya. Dari siapa ini? Secret admirer kah? -_-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar