Sabtu, 05 Juli 2014

Cerpen Bahasa Indonesia - Tak Selalu Buruk

Namaku Sendy, umurku 16 tahun. Aku bersekolah di SMA swasta yang tak jauh dari rumahku. Aku memiliki badan yang lumayan tinggi, rambut panjang yang sering diikat dan aku suka menggunakan pakaian yang cukup feminim.

Banyak orang yang mengatakan aku baik, cantik, dan pintar. Karena semua hal di dunia ini aku jalani dengan baik, dari belajar, bergaul dengan orang lain dan lainnya, terkecuali cinta. Bukan karena aku tidak berhasil, tetapi karena aku belum pernah mencobanya, aku takut gara-gara cinta bisa melupakan orang-orang di sekitarku, belum lagi nilai-nilai pelajaran akan turun jika ada masalah. Hal yang menyulitkan hahaha. Sangat tidak menguntungkan.

“Sendy! Tadi aku liat anak cowok kece banget, lho di jalan, dia lagi nganter adeknya sekolah tadi”, ucapan seseorang membuyarkan lamunanku. Ia duduk di bangku di sampingku.

“Ih kece apanya? Lebih kecean juga cowok yang di depan mall tadi, udah tinggi, putih, ih pokoknya keren!”, timpal orang yang lain dan ia duduk di meja di hadapanku. Tasya dan Intan, mereka adalah teman baikku, setiap saat yang dibicarakan hanyalah laki-laki, padahal mereka telah memiliki pacar. Aku juga tak mengerti pikiran mereka.

“Udah ah Intan, nggak bakalan nyambung kalo ngomongin cowok sama Sendy”, ucap Tasya.

“Eh maksud kalian apa?” tanyaku, enak saja mereka bilang begitu, memang seberapa parahnya aku tidak mengerti laki-laki. Ya memang, sih aku tak tertarik membicarakan laki-laki sebelumnya, dan mereka tahu itu.

“Haha cuma becanda kok, Sen.”, ucap Intan dan disambung tawa kami bersamaan. “Tapi, Sen, selama kita temenan aku gak pernah sekali pun liat kamu deket sama cowok”, lanjutnya yang membuat tawaku terhenti dan memasang muka sebal.

“Intan, jangankan deket sama cowok, ngomongin cowok aja Sendy ga pernah”, sambung Tasya. Yang membuatku semakin tambah sebal. “Paling-paling ngomongin cowok juga masih ada hubungannya sama pelajaran hahaha.” Dia tertawa, aku hanya memandanginya sinis, seenaknya saja orang ini.

“Tapi kami ngerti kok alasan kamu, Sen”, sepertinya ia mencoba memperbaiki kata-katanya karena tatapanku.

“Udah lah, sana kalian balik ke tempat kalian” usirku, mereka membuat moodku jelek saja. Akhirnya mereka kembali ke tempat mereka, bangku di belakangku.

-Waktu pelajaran selesai-

“Eh Tasya, hari ini kamu ke toko buku gak?”, tanyaku pada Tasya. Rencananya hari ini aku ingin membeli buku untuk menjadi referensi membuat cerpen untuk dilombakan lusa.

“Gak, Sen, lagi ga punya uang, ntar kalau aku khilaf gimana?”, ia malah balik bertanya.

“Yee, kamu ah”, balasku. “Kalau kamu ke …”

“Aku lagi mau bikin kue buat ulang tahun Denny, Sen.”, belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku Intan sudah menjawabnya.

“Ooh, iya deh.”, sepertinya aku memang harus ke sana sendirian. Haah, nasib jomblo. Tapi gak papa deh, yang penting gak pernah galau, hahaha.

Aku pun berjalan keluar sekolah menuju toko buku yang cukup dekat dari sekolah. Berjalan menusuri pinggiran jalan yang ramai dengan berbagai kegiatan, aku memerhatikan sekelilingku. Kendaraan lalu lalang,banyak orang yang hendak menyeberangi jalanan, orang berjualan, aktivitas yang terjadi setiap harinya, yang membuat suasana semakin ramai dan semakin terasa “Panaaass”, ucapku pelan, bisa dibayangkan bagaimana rasanya berjalan di siang hari di keadaan seperti ini.

Akhirnya aku sampai di toko buku, aku langsung masuk dan mencari buku yang aku inginkan, cukup banyak pilihan sehingga membuat aku harus membacanya satu persatu. Aku meletakkan tasku di tempat yang kosong di dekatku.

“Untuk referensi cerpen sebaiknya yang ini”, terdengar ucapan seorang laki-laki di belakangku. Aku tak menengok kearahnya dan tetap fokus pada buku yang kupegang. Apa-apaan dia?

“Kamu dengar, kan? Aku udah milih, lho. Isinya bagus, lengkap, deh pokoknya”, dia meneruskan ucapannya, aku tetap tak memperhatikannya.

“Apalagi harganya murah, ga bakalan rugi, deh kalo kamu dengerin aku”, ini orang sales kali ya, kalo aku punya sales seperti dia mungkin sudah aku pecat, mengganggu kesenangan pelanggan, cih.

“Sayang~”

‘Deg’ ini sudah keterlaluan. “Apa-apaan, sih? Kamu itu siapa?!”, aku berteriak sambil membalikkan badanku. Dan setelah aku melihat keadaan yang sebenarnya. Mati kamu Sendy! Ternyata cowok itu sedang berbicara dengan orang yang sepertinya pacarnya yang sedang memakai headset.

“Ma-maksudnya?”, ia balik bertanya dengan muka yang terkejut. Aku kira mukaku sudah benar-benar merah karena terlalu malu.

“Kenapa?”, pacarnya melepaskan headset yang ia kenakan dan bertanya. Dia menatapku dan pacarnya bergantian.

“A-aku gak tau, Ly” jawabnya polos.

“Maaf!”, aku membungkukkan badanku dan meninggalkan mereka dengan cepat. Bodoh kamu Sendy, bodoh!

Aku keluar dari toko buku dan berjalan dengan cepat menuju rumah, panas matahari seperti sudah tak terasa lagi dan bukan menjadi penghalangku untuk menuju rumah.

Sesampainya aku di rumah aku langsung menuju kamarku.

“Udah pulang, Sen?”, tanya mama, aku hanya menganggukkan kepala dan langsung meninggalkannya. “Kamu kenapa, Sen? Kok beda banget”, aku tak menjawab pertanyaan mama dan langsung menutup pintu kamar.

“Aaaa, Sendy! Kenapa kamu bodoh banget sih!!!” aku berteriak sendiri di kamar, rasanya kejadian tadi ingin cepat aku lupakan. Aku berbaring di kasur dan menyembunyikan kepalaku di bawah bantal.

“Sen, Sendy!”, terdengar samar-samar suara mama memanggilku. Aku menyingkirkan bantal. “Sendy”, suara mama terdengar jelas. Ada apa ya?

“Iya, ma”, jawabku sambil berdiri dan membuka pintu. “Ada apa, ma?” tanyaku.

“Ternyata ini ya yang bikin kamu beda”, ucap mama sambil menatapku aneh.

“Hah? Kenapa sih, ma?” tanyaku bingung.

“Tuh, pacar kamu nyariin di depan”, ucap mama yang membuat aku syok.

“Apaan, sih ma? Aku ga punya pacar” aku mengelak.

“Liat aja itu di depan”, aku berlari ke depan. Siapa sih?

Sampai depan pintu aku melihat seorang laki-laki yang menghadap belakang, memakai jaket dan memegang helm di tangannya. “Siapa?”, tanyaku ketus.

Dia membalikkan badannya dan saat itu juga aku ingin berlari ke ujung dunia. Cowok yang tadi! “Eh, ka-kamu kenapa di sini?”, tanyaku panik.

“Pelajaran ya buat kamu, kalau mau kabur bawa dulu tasnya, jangan ditinggal gitu aja, hahaha”, ucapnya sambil menunjukkan tasku. Aku merasa lebih bodoh lagi. “Untung aku yang nemuin, aku nemuin alamat kamu dari kartu pelajar di tas kamu. Gak ada yang hilang kok”, ia tersenyum.

“I-iya, maksih banyak ya”, ucapku singkat, aku merasa kehabisan kata-kata. Aku melirik ke arah belakangnya, ke mana pacarnya? Aku mengambil tasku.

“Oh iya, tadi kenapa?”, tanyanya.

“Oh, tadi… tadi itu em…”, tak mungkin aku menjelaskannya.

“Sen, kok gak diajak masuk temennya?”, mama berteriak dari dalam rumah.

“Ma-masuk dulu”, ucapku.

“Gak usah kok, aku cepet aja, yaudah aku balik dulu ya”, ucapnya tenang, ia membalikkan badan, memakai helm dan berjalan mendekati motornya kemudian menaikkinya dan meninggalkan rumahku.

Aku terdiam, baik sekali orang ini. Eh ya ampun Sendy, kenapa gak bilang makasih tadi? “Aaarrghhh”, teriakku frustasi.

Aku memasuki kamar lagi, tentunya tanpa menjawab pertanyaan beruntun yang dilontarkan mama. Senyumnya masih terbayang, ternyata ada, ya cowok sebaik itu, hahaha.
EH iya, Sendy! Gak boleh mikirin cowok! Dia Cuma ngancurin hidup kamu. “Huft”.

-Esok hari-

“Muka kamu kenapa beda gitu, Sen?”, tanya Tasya yang tiba-tiba ada di hadapanku.

“Tasya, emang cowok itu semua baik ya?”, tanyaku.

“Eh?”, dia terlihat bingung. “Cie Sendy!! Akhirnya kamu normal juga!”, ia langsung berteriak dan membuat semua orang di kelas melihat ke arahku.

“Apa, sih, Tasya!” ucapku dan kembali terdiam.

“Hahaha, kenapa, sih Sen?”, dia bertanya lagi tetapi aku tak berniat menjawabnya.

“Eh, kalian udah ngerjain cerpen?” Intan tiba-tiba datang dan menanyakan itu.

“Ya ampun”, aku baru ingat kemarin tidak jadi membeli buku untuk mengerjakannya. “Deadline-nya besok, ‘kan?” tanyaku.

“Iya, punyaku masih kosong, aku bingung mau nulis apa”, curhatnya. Sepertinya aku harus ke toko buku lagi hari ini, haaahhh. “Belum lagi besok ada kunjungan yang mau liat karya kita”, lanjutnya. Menyusahkan.

-Pulang sekolah-

Benar ‘kan laki-laki itu buat hidup kita berantakan. Baru saja kenal, belum juga pacaran tugas aku jadi gak beres semua. Aku memasuki toko buku. Lagi-lagi aku bertemu orang itu, mau diletakkan di mana mukaku?. Kalau bukan aku sangat perlu mungkin aku sudah pergi dari sini. Aku menuju tempat kemarin dan kebetulan ia juga berada di sana.

Baiklah, sebelum aku bertambah malu. “Kemarin makasih, ya”, ucapku sambil mengalihkan pandangan ke arah buku-buku dan melihat isinya satu persatu.

“Oke, sama-sama”, jawabnya. “Kali ini aku ngomong sama kamu ya, haha”, sambungnya sambil tertawa. Aahhh Sendy ternyata dia tau.

“Haha”, aku tertawa datar masih tanpa mengalihkan pandanganku dari buku.
Aku merasakan ia mendekat ke arahku, jantungku serasa ingin lepas. “Lagi nyari apa? Mungkin aku bisa bantu”, tawarnya.

“Eh, ga usah kok, haha”, jawabku. Baik sekali orang ini. Lalu ia menjauh, aku kembali mencari buku yang bagus.

Setengah jam,

satu jam,

satu jam setengah aku mencari-cari dan masih belum aku temukan. Pikiranku kacau entah kenapa. Aku melihat sekelilingku dan ternyata orang itu masih berada di sini. Tunggu, kemarin kan ia mencarikan buku untuk pacarnya. Tapi masa aku minta tolong? Tadi kan udah nolak.

“Sendy oon”, ucapku pelan dan memukulkan kepalaku dengan buku.

“Perlu bantuan?”.

“EH!”, aku terkejut. Tiba-tiba ia telah berada di belakangku.

“Keliatannya sedang kesusahan?”, dia kembali menawarkan bantuan.

Aku melihat sekeliling mencari pacarnya, kalau ada, kan nanti dia kira aku ngerebut pacarnya, ternyata tidak ada. Akhirnya aku putuskan untuk bertanya. “Bisa kasih pendapat buku mana yang bagus buat referensi cerpen?”, tanyaku pelan.

“Oh itu”, ucapnya sambil tertawa pelan. Dia mulai melihat buku-buku di dekatku. Gayanya keren banget, rasanya aku mau mati di tempat. Tanpa membukanya ia langsung memberikan 3 buku ke arahku. “Ini, coba saja”.

Aku terdiam sebentar. Sudah dapat? Bisa, kah aku percaya dengan orang ini? Aku menerimanya dengan muka kebingungan, wajar saja dari tadi aku mencari-cari tidak menemukannya tetapi dalam sekejap ia langsung dapat.

“Gak usah ragu gitu, liat dulu, deh. Oh ya, nama kamu siapa?”

“Sendy, kamu sendiri?”, aku balik bertanya.

“Farhan”, jawabnya lagi-lagi dengan senyuman yang terlihat tulus. Mama… apa yang salah sama anakmu ini? Aku terpaku pada senyumannya.

“Oh iya, makasih ya, Farhan”, ucapku yang kembali sadar dari lamunan dan langsung meninggalkannya menuju kasir, aku tidak ingin salah tingkah di depannya. Setelah ini aku ingin pulang ke rumah dan langsung mengerjakannya. Semoga saja selesai.

-Esok harii-
-Di sekolah-

Aku memandangi cerpenku dengan bangga, bayangkan saja aku dapat menyelesaikannya dalam waktu semalam dan aku cukup merasa puas dengan hasilnya.

“Selesai, Sen?”, Tanya Intan.

“Selesai, lah”, ucapku bangga.

“Kok kamu seneng banget, sih Sen? Ada sesuatu ya?”, Tanya Tasya.

“Eh, jangan ngambil kesimpulan sendiri. dong”, jawabku.

“Jangan-jangan masalah cowok ya?”, tebak Tasya.

“Apaan sih, Tasya”, elakku.

“Sendy? Mikirin cowok? Sejak kapan, Tasy?” Tanya Intan. Kenapa mereka jadi ngomong yang enggak-enggak gini?

“Loh, kamu gak denger kemarin dia nanyain tentang cowok ke aku, lhoo”, jawabnya.

“Berhenti ngomongin ini. Itu gurunya udah dateng”, ucapku sambil menunjuk ke arah guru yang telah masuk kelas.

“Silakan kumpul cerpen kalian”, perintahnya. “Inilah penilai kita”, lanjutnya diikuti beberapa orang masuk kelas dan itu ternyata…. Farhan! Ternyata dia termasuk penilai, pantas saja dia cepat memilih buku kemarin. Aku semakin terdiam dengan kondisi ini. Bagaimana tidak, melihat ia berdiri di sana dengan pakaian yang rapi, formal, dan senyumannya yang manis itu. Kacau, sepertinya aku telah menyukainya.

Aku terdiam dan menunduk di bangku. “Nitip dong Tasy”, pintaku pada Tasya.

“Kamu kenapa, Sendy?”, Intan bertanya dengan suara yang keras, spontan aku melihat ke arahnya dan sekeliling, semua orang memperhatikanku, tak terkecuali Farhan, dia memandangku dengan tertawa kecil. Aahhh memalukan!

Mereka mulai mengambil cerpen kami dan membacanya.

-Istirahat-

“Kamu gak makan, Sen?”, Tanya Tasya.

“Udah kenyang”, jawabku singkat. Lalu mereka meninggalkanku. Aku terdiam di bangkuku memainkan pensil.

“Karya kamu keren”, ucap seseorang aku mencari sumber suaranya, tepat di depanku, Farhan.

“Ahaha? Benarkah?”, jawabku yang sebenarnya berbalik bertanya.

“Iya”, ucapnya dengan senyum yang meyakinkan. Entah kenapa pikiranku jadi tambah kacau melihatnya.

“Haha, kan kamu yang milih buku buat referensinya, ya jelas bagus lah”, ucapku.

“Gak, lho, walaupun aku kasih referensi buku sebagus apa pun kalau orangnya memang gak bisa ya tetep aja jelek”, keliatannya ia tak ingin kalah debat. Aku putuskan hanya tersenyum.

“Makasih”.

“Sama-sama”.

“Oh ya, kamu kenapa gak bilang kalau kamu penilai karya kami. Aku jadi gak enak, harusnya aku lebih sopan kan kemarin, gak seharusnya juga aku minta tolong kamu”, ucapku panjang lebar. Jujur ini adalah pertama kalinya aku berbicara begini sama cowok.

“Hah? Terus aku salah?”, tanyanya yang membuat aku lagi-lagi terdiam. “Kalau kamu menang kamu harus ke toko buku lagi bersamaku untuk membuat karya yang lebih bagus untuk mewakili sekolah, hahaha”, ucapnya sambil tersenyum bangga lalu ia meninggalkan kelas.
Diam. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat berhadapan dengannya hari ini. Salah tingkah? Mungkin.

Aku mengaguminya? Aku juga tak bisa mengatakan itu salah, aku memang mengagumi kebaikannya, belum lagi ia cukup tampan, tinggi, pintar, kata-katanya membuat aku tenang dan terus mengingatnya, hahaha. HEH! Sendy! Apa yang kamu pikirin? Aaahhh. Aku memukulkan buku ke kepalaku.

“Sen?” Tasya dan Intan tiba-tiba berada di hadapanku memandang aneh ke arahku.

“Eh, apa?”, tanyaku dengan muka tak bersalah.

“Kamu ada hubungan apa sama penilai kita?”, Tanya Intan. “Kok tadi serius banget ngomongnya?”, lanjutya. “Kami sampe ga jadi masuk kelas buat ngambil uangku yang ketinggalan, lho ngeliat kalian yang kayak gitu.”

“Iya belum lagi kamu cuma diem, terus waktu dia keluar kamu senyum-senyum sendiri.”, sambung Tasya.

“Belum lagi abis itu kamu mukulin buku ke kepala. Pasti ada sesuatu kan?”, mereka memandangku penuh Tanya.

Aku diam sebentar. Oke Sendy, mungkin ini adalah waktu untuk mengagumi bahkan menyukai seorang laki-laki. Sebaiknya memang aku ceritakan pada mereka.

-Setelah itu-

“Ciyee Sendy, akhirnya kan, hahaha”, Tasya tertawa setelah mendengarkan ceritaku. Sedangkan Intan tersenyum-senyum penuh arti.

“Tapi, emm”, aku berhenti sebentar, hal yang menjadi masalah terbesar saat ini. “Dia udah punya pacar”, ucapku sangat pelan, tetapi sepertinya mereka mendengarnya, terlihat dari ekspresi mereka yang langsung berubah.

“Sen? Kamu kenapa sekali suka sama orang yang udah punya pacar?”, Tanya Intan.

“Kayak pepatah, cinta itu buta”, jawabku santai, tapi sebenarnya aku kecewa. “Tapi aku gak ada niat buat milikin dia kok, cuma ganggu sekolah”, sambungku. Memang benar, aku tak ada niat untuk pacaran.

“Ah masa?”, Tanya Tasya. “Kalau masih awal-awal emang bilangnya gitu kok, Sen, coba kalau udah lama”, ucapnya sambil tersenyum iseng.

“Terserah kalian, deh”, akhirnya aku mengalah lagi. Haahh.

“Kita disuruh ke lapangan di luar, pengumuman cerpen terbaik”, ucap Andi, ketua kelas kami yang tiba-tiba masuk kelas dan memberi arahan.

“Oke deh”, jawab Intan. Lalu kami bersiap-siap keluar.

Sesampainya di lapangan kami mencari tempat yang teduh, terlihat Farhan di seberang sana tersenyum ke arahku, aku pun membalas senyumannya.

“Ehm, Sendy, hahaha. Tenang, Sen, mereka juga anak SMA kayak kita, kok”, gurau Tasya.

“Haha kamu kenapa, sih Tasy, aku, kan gak ada niat buat pacaran”, ucapku.

“Cerpen terbaik tahun ini adalah, milik…” terdengar suara dari speaker, sepertinya sengaja dihentikan sejenak supaya menambah penasaran.

“Sendy Audra”, lanjutannya yang membuat aku syok, kaget, senang, sekaligus bangga.

“Yee, Sendy hebat”, ucap temen-teman di sekelililngku. Aku hanya tersenyum.

-Pulang Sekolah-

“Ke toko buku lagi, deh”, sindir Intan. Ia tahu kalau aku harus ke toko buku untuk mencari referensi baru.

“Hahaha”, aku hanya tertawa.

“Ketemu lagi, deh”, kali ini Tasya. Aku hanya tersenyum.

“Aku duluan ya”, ucapku lalu meninggalkan mereka.

Satu hal yang baru aku sadari adalah ternyata manyukai seseorang itu menyenangkan, aku seperti mendapatkan semangat baru. Tapi tetap saja menyakitkan dan menyusahkan, Farhan kan sudah punya pacar. Huh.

“Kenapa mukanya dilipet gitu?”, seseorang membuyarkan lamunanku, aku menghentikan jalanku.

“Eh, Farhan. Haha gak papa, kok”, jawabku.

“Mau ke toko buku, kan? Ayo bareng, aku cariin lagi, deh bukunya”, aku menganggukkan kepalaku.

Kami berjalan berdua keluar dari halaman sekolah dan menyusuri pinggir jalan.

“Pacar kamu gak marah, Far?” akhirnya aku menanyakan ini karena aku khawatir kalau tiba-tiba pacarnya melihat aku berjalan bersamanya.

“Hah? Pacar?” dia balik bertanya, raut mukanya berubah kebingungan. Tak lama ia tertawa kecil, “Ohh, kamu salah paham, Sen, dia adik aku. Kalau pacar aku kayak gitu aja udah pasti aku putusin dar awal, hahaha”, ucapnya tenang.

Sendy, kenapa kamu jadi gini sih. Kan awalnya aku nyimpulin sendiri kalau itu pacarnya. “Oh”, jawabku singkat sambil menatap lurus ke jalanan.
“Kenapa? Kamu cemburu?”, tanyanya.

“Eh enggak lah, aku gak mau pacaran, cuma ganggu sekolah”, elakku cepat.

“Sendy, siapa yang ngajak kamu pacaran? Aku kan cuma nanya hahaha”, jelasnya santai. Ya ampun, iya juga, aah kenapa aku jadi gini.

“Aahh iya maaf”, ucapku cepat, kacau, aku salah tingkah.

“Tapi dari awal aku juga udah berkomitmen ga akan pacaran kok”, ucapnya. Aku memandanginya. Ternyata ia sepikiran denganku. “Jujur, ini juga pertama kalinya aku gini sama cewe”,lanjutnya yang buat aku semakin kaget. Kami sama?

“Sen, aku suka sama kamu dari awal kita ketemu”, ucapnya sambil tertunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Apa?”, sebenarnya aku telah mendengarnya jelas, hanya meyakinkan.

“Cuma suka, aku gak berniat pacaran”, ia menatapku dan tersenyum. Rasanya saat ini aku ingin meluncur ke bulan. Ternyata perasaan kami sama!

“Eh iya?”, jawabku. “Ehm, aku juga gitu”, lanjutkuku sambil menggaruk kepalaku yang sebenarnya tak gatal.

“Em, terus gimana ya?”, tanyanya sambil melihat jalanan yang ramai, seolah ia bisa menemukan jawaban dengan melihat jalanan itu. “Aku jadiin kamu penyemangat belajar aku aja, boleh gak?”, tanyanya dengan senyuman yang terlewat manis. Dewasa sekali orang ini, pikirannya sama sepertiku.

Sebelumnya belum pernah aku bertemu dengan orang sepertinya.

“Ahahaha, boleh lah”, jawabku. “Berarti aku juga boleh dong?”, aku balik bertanya lalu kami tertawa bersama.

Banyak hal yang aku pelajari. Saat-saat seperti ini sekolah memang sangat penting, jangan sampai ada yang mengganggunya. Menyukai orang lain juga tak selamanya buruk. Ia bisa menjadi semangat belajar kita. Jadi kita harus mengatur itu semua sebaik-baiknya.
 
____ TAMAT ___

Tidak ada komentar:

Posting Komentar