warning : setelah membaca cerita ini anda bisa pusing, mual, diare atau serangan jantung
cast :
Yesung suju
Kim Hye Sun (OC)
Lee Sun Hee (OC)
Donghae suju
Kyuhyun suju
Park Sae Rin (OC)
Genre : romance, .. (gak tau deh, terserah reader)
xXxXx
#Hye Sun’s POV
Aku berlari menuju ke sekolah karena aku terlambat. Setelah sampai
aku cukup bingung, mengapa sekolah sepi? Di kelaspun hanya ada beberapa
orang, ‘aneh’ batinku.
Aku melihat kearah jam di kelas, dan itu membuatku kaget. Jam masih
menunjukan pukul 7. ‘pantas saja masih sepi.. Huh jamku terlalu cepat’
pikirku.
“Annyeong Hyesun-sshi!”, sapa seseorang yang membuatku cukup terkejut. Akupun menoleh.
“Eh, An-annyeong Kyuhyun-sshi”, balasku.
“Kok melamun depan jam?”, tanyanya
“Em, tidak kok.. Aku hanya bingung, kenapa masih sepi.”, jawabku jujur yang membuat dia tertawa.
“Hahaha.. Kamu saja yang aneh, mana ada orang yang mau berangkat
sepagi ini”, haaa? Aneh, dia bilang aku aneh? Lalu dia meninggalkanku
menuju kursinya. Dasar, Kyuhyun maniak game yang menyebalkan!
“Hyesun-ah.. Kenapa kau meninggalkanku?”, teriak seseorang dibelakangku, Sunhee, teman sebangkuku
“Mian, jamku bermasalah”, jawabku. Akupun duduk di kursiku, disusul Sunhee di sampingku.
“Hyesun-ah, SARANGHAE”. Suara seseorang dari luar. Aigoo.. Suara itu?
Aku langsung berlari keluar kelas, meninggalkan Sunhee, mencoba
menghindar dari orang yang mengatakan itu tadi. Kenapa harus keluar
kelas? Kenapa tidak sembunyi saja dalam kelas? *entahlah author juga gak
tau*
Aku melewati orang tadi. “Hyesun-sshi, saranghae”, teriaknya lagi.
Tak ku sangka ternyata dia juga mengejarku. Aku menambah kecepatan
lariku, tanpa memperhatikan jalan.
“Kenapa kau tak pernah mau menerimaku?”, ucapnya sambil terus berlari
mengejarku. Aku tetap tak menghiraukan dia. Ya, memang sejak SMP dia
selalu mengatakan cinta padaku, sampai sekarang SMA kelas 2 juga masih
seperti itu. Aku juga selalu menolaknya, siapa juga yang mau dengan
seorang Lee Donghae? Sudah penampilannya berantakan(?), suka
membanggakan diri, playboy lagi. *digeplakfishy*
‘BRUUKK’
Karna tak terlalu memperhatikan jalan, tak terasa aku menabrak
seseorang. “Mi-mianhamnida”, ucapku. Aku langsung membereskan buku-buku
milik orang itu yang terjatuh. Akupun sadar akan sesuatu, Lee Donghae,
ia telah ada dibelakangku.
Dan lagi-lagi ia mengucapkan, “Saranghae”.
Aku melihat orang yang kutabrak atau memperhatikan sejenak tepatnya.
Dia namja yang cukup *sangat* tampan. Tanpa pikir panjang, aku berdiri
dan meraih serta menggandeng tangan namja itu.
“Mian Donghae-sshi, aku telah menjadi miliknya, dia pacarku.”,
teriakku pada Donghae, entah mengapa, mungkin aku sudah kesal padanya.
Donghae menatap kami dengan tatapan tak percaya, lalu dia meninggalkanku. Syukurlah.
Aku sadar dengan tatapan tak terima+tajam+aneh dari seseorang. Namja
ini, perlahan aku melepaskan tangannya. Aku mengambil buku-buku miliknya
yang telah kurapikan. Akupun memberikan buku-buku ini padanya.
“Mianhamnida, tentang yang tadi, lupakanlah.. .. .. Mm, kamsahamnida”,
ucapku.
Namja itu mengambil buku ditanganku dengan perlahan. Aku terus
menatapnya sambil menunggu jawabannya. Tetapi setelah selesai mengambil
buku dia langsung meninggalkanku.
Pabbo kau Hyesun. Dia marah, tapi akukan sudah minta maaf. Aku keterlaluan ya? Atau dia yang terlewat sombong?
Aku masuk kedalam kelas, mengikuti pelajaran. Aku tidak bisa fokus, memikirkan hal terbodoh yang ku lakukan tadi.
“Wae, Hyesun-ah? Terlihat gelisah sejak tadi”. Tanya Sunhee, selain
teman sebangkuku dia juga sahabatku sejak sekolah dasar. “Bagaimana
dengan Donghae tadi? Kau berhasil membuatnya tak lagi menyukaimu?”,
tanyanya
Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal tentunya. Dan menceritakan kejadian tadi pada Sunhee.
“Hahahaha.. Pabboya! Hahaha”, tawanya pecah setelah mendengar
ceritaku. Sahabat apa dia? Disaat aku sedang susah ia malah tertawa.
“Lalu aku harus bagaimana?”, tanyaku.
“Ah, kenapa juga kamu bisa melakukan ini pada orang yang belum kau kenal”, jawabnya, sambil mencoba menghentikan tawanya.
“Mm, rasanya aku ingin mati saja”, ucapku.
“Daripada terus berpikir, kita makan saja dulu, yuk. Aku sudah
lapar.”, ajak Sunhee, aku mengikutinya, karena aku juga sudah lapar.
Sesampainya di kantin, aku memesan makanan dan membayarnya. Kantin terlihat penuh, untungnya masih ada satu meja yang kosong.
Kami duduk disana, dan memakan makanan kami. Tak lama aku merasa ada
orang duduk di depan kami, memang meja ini berisi 4 kursi. Aku tak
terlalu memperhatikannya.
“Annyeong Hyesun-sshi, Sunhee-ya. Aku duduk disini ya.”, kulihat
Kyuhyun. Aku hanya tersenyum membalasnya, dan melanjutkan makanku.
“Silakan!”, jawab Sunhee.
“Aku juga ikut duduk disini ya”, kata seorang namja. Suara ini asing
bagiku. Aku menoleh pada orang yang bersama Kyuhyun. Aigo.. Dia!
Aku langsung menghabiskan makananku tanpa banyak bicara.
#Hyesun’s POV End
#Author POV
Setelah menghabiskan makanannya, Hyesun langsung meninggalkan
Sunhee,Kyuhyun, beserta teman Kyuhyun. Sunhee yang melihatnya pun
langsung menghabiskan makanannya.
“Aku duluan ya!”, pamit Sunhee pada dua namja itu, yang dibalas
anggukan oleh keduanya. Lalu diapun pergi meninggalkan kantin, menyusul
Hyesun.
“Sebenarnya apa sih yang ada di pikiran yeoja itu?”, gumam Kyuhyun, sambil mengaduk minumannya.
“Molla.”, jawab temannya dengan malas.
“Ah, Yesung-ah, Lupakanlah masalah Sunhee dan Hyesun tadi”, ucap Kyuhyun.
“Jadi, yeoja yang pertama meninggalkan kita tadi namanya Hyesun?”,
tebak temannya atau Yesung tepatnya *nah, akhirnya, suami author keluar
juga name-nya*
“Ne, Waeyo?”, tanya Kyuhyun.
“Ah, ani. Gwaenchanayo”
“Ada yang ingin ku tanyakan, Yesung-ah.”, ucap Kyuhyun
“Apa? Tanyakan saja”, balas Yesung.
“Kan semenjak lulus dari sekolah dasar kau melanjutkan sekolah ke
Amerika, tapi mengapa saat pertengahan SMA ini kau kembali ke Korea dan
melanjutkan belajar ke sekolah Appa-mu?”, tanya Kyuhyun.
“Ah, itu. Itu karena Appa ingin aku lebih dekat dengannya.”, jawab Yesung.
“Oh, begitu. Tapi baguslah, karna itu aku jadi bisa bertemu kembali
dengan sahabatku sejak kecil”, ucap Kyuhyun sambil tersenyum.
“Ne, jika kau ingin tau, kehidupanku disana tanpamu itu terasa ada yang kurang, *lebay oppa* Kyu”, ucap Yesung.
“Ne? Lalu kau ingin masuk kelas mana?”, tanya Kyuhyun.
“Inginnya, sih satu kelas denganmu!”
“Hm, ide yang bagus. Enak ya jadi anak pemilik sekolah ini, bisa memilih kelas mana saja”, ucap Kyuhyun.
“Kau bicara apa, sih?”
xXxXx
“Kau kenapa Hyesun-ah? Terlihat aneh sejak tadi”, ucap Sunhee yang melihat sahabatnya hanya diam sejak tadi.
“Kau melihat namja yang bersama Kyuhyun tadi, kan?”, tanya Hyesun.
“Ne, Wae?”
“Namja itu.. Namja yang kuakui sebagai pacarku di depang Donghae.”, jelas Hyesun.
“Mwo? Hahahaha.”, tawa Sunhee setelah mendengar penjelasan Hyesun.
“Hah, seperti perkiraanku, kau akan tertawa mendengarnya”, ucap
Hyesun, lalu dia menumpukkan tangannya diatas meja, dan menenggelamkan
kepalanya.
“Haha, mianhae”, ucap Sunhee yang mencoba menghentikan tawanya. “Tapi tunggu, sepertinya aku tau orang itu”.
Mendengar ucapan Sunhee Hyesun bangun dan menatap sahabatnya itu. “Ne? Di mana? Dia sebenarnya siapa?”, tanya Hyesun.
Terlihat Sunhee sedang berfikir sebentar. “Aku ingat. Kalau tidak
salah aku pernah melihat fotonya di buku sejarah(?) Youngwoon-sshi,
kepala sekolah kita.”,*keren amat kepsek pake dibuat sejarahnya*
jelasnya.
“Jadi, dia anak Youngwoon-sshi?”, tanya Hyesun, tebaknya tepatnya.
“Oh God, apalagi ini? Lalu aku harus bagaimana, jika dia menyuruh
Youngwoon-sshi untuk mengeluarkanku karna telah mempermalukannya?”
#Author POV End
xXxXx
#Yesung’s POV
Ku letakkan tasku ke sebuah meja di kamarku ini, lalu ku baringkan
tubuhku di atas ranjang, tanpa mengganti seragamku. Hari ini ada seorang
yeoja yang bernama Hyesun masuk dalam hidupku. Saat pagi tadi dia
menabrakku dan membuat buku yang ku bawa terjatuh, lalu dia mengakuiku
sebagai pacarnya dihadapan seorang namja, tapi aku yakin pasti banyak
yang mendengar. Lalu kami bertemu lagi di kantin. Hmm, yeoja itu cantik
sih. Apalagi senyumannya tadi, saat memberikan bukuku yang terjatuh,
sangat manis. Hei, kenapa aku jadi memikirkan yeoja itu? Apa aku
menyukainya? Ah, jangan dulu Yesung, nanti ini dikira sebuah pelarian.
(keesokan hari)
“Umma, aku berangkat”, pamitku pada umma.
“Ne, jaga dirimu Jongwoon-ah.”, pesan umma.
“Ne Umma.”, lalu aku masuk kedalam mobil, di dalam mobil ada Appa yang menungguku.
“Kau ingin masuk kelas mana Jongwoon?”, tanya Appa sambil tetap fokus pada jalan.
“Satu kelas dengan Kyuhyun, Appa”, jawabku.
Setelah 20 menit dalam perjalanan, kamipun sampai.
“Selamat pagi Youngwoon-sshi, anda sudah ditunggu.”, ucap seseorang ketika kami keluar dari mobil.
“Baik, Jongwoon, masuklah dulu ke kelas Kyuhyun, nanti appa akan
membicarakannya dengan wali kelas itu.”, ucap Appa lalu pergi
meninggalkanku.
Aku memasuki halaman sekolah dan mencari kelas Kyuhyun yang pastinya
aku tak tau di mana dan kelas apa. Dan bodohnya aku tak membawa ponsel.
Aku menanyai setiap kelas 2 yang ada di sekolah ini, tapi belum ada satu kelaspun yang mengatakan Cho Kyuhyun ada di kelasnya.
Sampai aku tiba di kelas 2-F, aku sedikit masuk agar orang disini
bisa melihatku. Aku melihat ke dalam kelas ini dan … Aigo, Hyesun ada
disini, dan hanya ada dia disini. Ku lihat dia cukup kaget melihatku.
Karna tak ada pilihan lain akupun menanyainya.
“Apa em Cho Kyuhyun e ada di-di kelas ini?”, tanyaku sedikit gugup.
“N-ne dia di sini”, jawabnya si”Di mana, dia?”, tanyaku, tanpa menatapnya.
“Ke Game Center dekat sini, mungkin”, jawabnya.
Karena merasa tidak ada yang perlu kutanyakan lagi, kuputuskan untuk keluar dan menunggu Kyuhyun diluar.
#Yesung’s POV end
#Author POV
Tak lama setelah itu, siswa kelas 2-F pun kembali ke kelas mereka,
setelah mereka bertanding game. Ya, mereka kembali karena merasa sudah
saatnya pelajaran dimulai.
Langkah sang pemimpin rombongan atau raja game terhenti di depan
kelasnya karena mendapati sahabatnya berdiri melamun. “Yesung-ah!”,
tegurnya. Tetapi yang dipanggil masih memandang kosong depannya.
“YESUNG-AH!!”, teriak Kyuhyun akhirnya.
“Ne? Kenapa berteriak?”, tanya Yesung tanpa rasa bersalah.
“Hah.. Sudahlah. Kau tidak masuk?”, tanya Kyuhyun.
“Aku masih menunggu songsaengnim yang ingin masuk.”.
“Itu songsaengnimnya! Aku masuk duluan.”, pamit Kyuhyun dengan agak berlari masuk ke dalam kelas (evil takut ma guru ya? Kkk~)
“Khajja Jongwoon-sshi.”, ucap songsaengnim pada Yesung.
“Ne”.
#Author POV end
#Hyesun’s POV
“Annyeong.”, sapa songsaengnim yang membuyarkan lamunanku tentang
namja itu. Jujur saja, saat ini aku sedang malas belajar. Aku melihat
kearah songsaengnim dan… Namja itu?
“Saya membawa murid baru, silakan perkenalkan dirimu Jongwoon-sshi!”, ucap songsaengnim. Jadi, aku akan satu kelas dengannya?
“Annyeong haseyo, joneun Kim Jong Woon Imnida, tetapi, silakan
panggil saya Yesung.”, mulai namja itu yang ternyata bernama Yesung.
“Silakan kau duduk bersama Kyuhyun-sshi, di samping meja
Hyesun-sshi.”, ucap songsaengnim. Hah, dia duduk di sampingku lagi.
Benar-benar memalukan.
Saat istirahat, aku ingin sendiri. Dan ternyata aku benar-benar
sendiri, Sunhee malah benar-benar pergi, padahal sahabatnya sedang
kesulitan sekarang.
Yesung sangat membuatku tidak konsentrasi, saat songsaengnim
menjelaskan tadi aku merasa dia sedang memperhatikanku. Tetapi saat aku
menatapnya dia langsung membuang muka. Apa dia sampai semarah itu, ya?
“Hoahmm”, ngantuk, itu yang kurasa, aku sangat lelah.
“Hyesun-ah! Aku tau dia hanya berpura-pura menjadi pacarmu”
Degh
Donghae? Dia lagi. Mengganggu saja! Semua masalahku muncul, kan
gara-gara dia. Dia benar-benar membuatku menderita, aku sampai-sampai
kehabisan kata-kata untuk menolaknya.
“Apa sih yang kau inginkan?”, ucapku akhirnya.
“Kau menjadi pacarku!”, balasnya cepat. Dasar namja keras kepala!
“Sudah jangan ganggu dia!”, baru saja aku ingin membuka mulutku
tetapi ucapan seseorang membuatku mematung. Yesung? Sejak kapan dia
masuk kelas? Apa dia tadi menguping? *bahasa apa ni?*
“Dia memang benar pacarku! Jangan ganggu dia lagi! Jika kau masih
mengganggunya, kau akan merasakan akibatnya”, lanjutnya berbicara pada
donghae dengan nada datar. Aku hanya bisa diam sambil memandang bingung
namja ini.
Tanpa membalas ucapan Yesung, Donghae keluar. Setelah Donghae
benar-benar keluar senyum yang sangat manis terukir(?) di wajah Yesung.
Ada apa dengan namja ini?
Apa dia ingin balas dendam padaku? Atau dia tulus menolongku? Aku
hanya diam dan terus menatapnya yang berjalan dan duduk di bangkunya.
Diapun menatapku.
“Maaf dengan kata-kataku tadi.”, ucapnya.
“…ne”, balasku singkat, entah kenapa lidahku kaku.
“Jika kau keberatan dengan kejadian tadi, mungkin aku bisa pergi ke kelasnya dan menjelaskan ..”
“Ah, Ani. ANDWAE! Jangan, seharusnya aku ngengucapkan banyak terima
kasih padamu”, potongku, jika ia mengatakan yang sebenarnya, habislah
aku.
“Datanglah ke acara ulang tahunku nanti malam, aku ingin melihat
kalian berpasangan!”, ucap seseorang tiba-tiba di tengah pembicaraan
kami. Donghae. Hahh, apa dia mendengar pembicaraan kami tadi? Tanpa
mengucapkan apa-apa lagi ia pergi.
Aku merasakan Yesung menatapku. “Jika kau memerlukanku, aku akan membantumu.”, tawarnya. Hah, eottokhae?
#Hyesun’s POV end
xXxXx
#Yesung’s POV
Malam ini aku akan pergi bersamanya. Aku menjemputnya di taman pukul 7
nanti.Kenapa aku bisa menawarkan diriku berpura-pura menjadi pacarnya,
ya? Ataukah aku benar-benar telah menyukainya? Hahh, sudahlah, lebih
baik aku tidur.
“Eumm… Hhh..”, sudah jam berapa ini? Aku melihat jam yang ada di kamarku. Jam 6.30. Lebih baik aku bersiap-siap.
Setelah selesai mandi, aku memakai kemeja putih dan celana hitam yang
telah kusiapkan *jadi tai cicak ni oppa*. Sudah jam 7, aku harus
berangkat.
“Umma, aku pergi”, pamitku pada umma, tanpa menunggu jawaban umma aku
langsung masuk ke dalam mobil. Ku kendarai mobilku dengan kecepatan
sedang.
Setelah sampai di taman, aku langsung mencari Hyesun. Saat sampai di
sebuah kursi taman aku menemukannya. Aku tersenyum melihatnya, dia
sangat cantik dengan gaun putih selutut yang ia pakai.
#Yesung’s POV end
#Hyesun’s POV
Dia datang, sangat tampan.*ialah, suamiku gtu* “Annyeong Hyesun-sshi!”, sapanya.
“An-annyeong”, jawabku agak “Ayo kita berangkat!”, ajaknya. Aku hanya mengangguk.
Aku masuk ke dalam mobilnya dan duduk di sampingnya, suasana hening. Cukup lama, aku hanya memperhatikan jalanan.
“Jika kau hanya diam, kita tak akan sampai lho!”, guraunya. Aigo, iya, aku lupa menunjukkan jalan.
“Em, sampai ujung jalan ini, belok ke kanan, rumahnya dekat
jembatan.”, ucapku. Kulihat ia hanya mengangguk. “Yesung-sshi, kenapa
kau mau menolongku?”, tanyaku.
“Hahaha, gwaenchana. Aku hanya kasihan melihatmu. Lalu aku
menolongmu.”, jawabnya. Karna kasihan, ya? “Atau mungkin karna aku punya
maksud lain”, lanjut Yesung yang membuatku bingung.
“Maksudmu?”
“Eh, ani. Lupakan saja!”, jawabnya sambil tertawa tidak jelas. Lalu suasana kembali hening.
Akhirnya kami sampai di rumah Donghae. Kami turun dan masuk ke dalam
rumahnya. Ramai, tetapi hanya ada beberapa sahabat donghae, dan kurasa
yeoja-yeoja disini adalah mantan kekasihnya.
Aku menatap Yesung, dan ia mengangguk. Kami berjalan kearah Donghae
yang berada di samping meja dan di kerumuni oleh beberapa yeoja. Kulihat
Donghae melihatku, aku langsung mendekatinya bersama Yesung
dibelakangku.
“Saengil Cukkhae hamnida Donghae-sshi.”, ucapku sambil menyerahkan kado yang kubawa *nah, kadonya muncul dari mana?*
“Cukkhae!”, ucap Yesung.
Donghae menerima kado dariku. “Gomawo”, ucapnya. Tanpa persetujuanku,
Yesung menggenggam tanganku erat, sambil tersenyum aneh sendiri.
“Kami langsung pulang ya! Masih ada acara.”, pamitku pada Donghae.
“Ne, gomawo sudah datang”, ucapnya singkat.
Kamipun keluar dari sana, dan langsung masuk ke dalam mobil. Di jalan
kami bercerita cukup banyak, tetapi hanya tentang sekolah. Yesung juga
mengantarku sampai rumah.
xXxXx
Setelah kejadian malam itu kami menjadi lebih dekat. Yang lain sering
pergi ke game center untuk melihat raja game itu bermain, dan hanya
menyisakan kami di kelas saat istirahat, kami bercerita tentang
kehidupan kami. Aku merasa jika aku telah menyukai Yesung. Dan berkat
Yesung juga, sekarang Donghae tidak lagi menggangguku.
“Hyesun-ah, kenapa melamun? Sedang memikirkan Yesung, ya?”, gurau Sunhee yang baru duduk di bangkunya.
“Ah, ani!”, jawabku.
“Kau suka pada Yesung kan?”, tebak Sunhee. “Hayo! Mengaku saja! Kau sudah ketahuan oleh ku!”, lanjutnya.
“Sunhee-ya!”, teriakku.
‘teng.. teng..’, bel sekolah berbunyi, akupun menyudahi perdebatanku dengan Sunhee.
Aku sadar dengan sesuatu. “Kyuhyun-sshi, di mana Yesung-ah?”, tanyaku
pada Kyuhyun, karna sampai saat ini Yesung juga belum datang. Padahal
biasanya dia berangkat pagi sekali.
“Molla!”, jawab Kyuhyun yang hanya fokus dengan PSPnya.
Songsaengnimpun masuk kelas, Yesung juga belum datang, hei, ada yeoja di belakang songsaengnim. Murid baru ya?
“Annyeong”, sapa songsaengnim. “Hari ini saya membawa murid baru. Silakan perkenalkan dirimu.”, lanjutnya.
‘tok.. tok..’, seseorang mengetuk pintu kelas, Yesung, dia baru
datang. Tetapi kenapa dia hanya diam di depan pintu? Memandang syok ke
arah murid baru itu lagi.
#Hyesun’s POV end
#Yesung’s POV
Dia..
“Silakan masuk Jongwoon-sshi”, ucap songsaengnim. Akupun masuk dengan menunduk. Oh, padahal aku sudah hampir melupakannya.
“Annyeong haseyo, Joneun Park Sae Rin imnida”, mulainya. Saerin,
kenapa kau datang lagi disaat aku telah melupakanmu. Memang kurasa aku
telah menyukai Hyesun, setelah aku melupakan sakit hatiku karna Saerin,
karna dia telah menolakku.
“Saerin-sshi, duduklah di bangku kosong di belakang Yesung-sshi”,
ucap songsaengnim. Saerin berjalan dengan senyumannya yang dulu membuat
hatiku luluh, tapi kurasa senyumnya telah tertutupi oleh senyuman
Hyesun. Aku merasa Hyesun memandangiku dengan tatapan penuh tanya. Aku
hanya bisa menunduk.
Aku tak fokus dengan pelajaran kali ini. Aku berdebat di fikiranku,
memilih dan membandingkan Hyesun dan Saerin. Saat istirahat yang lain
kembali pergi ke game center. Kali ini tersisa aku, Hyesun dan Saerin.
Suasana hening.
“Oppa, akhirnya kita bertemu kembali”, ucap Saerin, memecahkan keheningan.
“..n-ne”, jawabku singkat. Kulihat Hyesun terlihat kaget dengan
pembicaraan singkat kami. Akhirnya Hyesun keluar kelas meninggalkan
kami.
#Yesung’s POV end
#Hyesun’s POV
Saerin. Siapa dia? Kenapa dia memanggil Yesung ‘oppa’? Apa mereka
saling mengenal? Lalu apa hubungan mereka? Hah! Aku memilih keluar untuk
menenangkan fikiranku. Aku merasa kacau bersama mereka. Sejak tadi aku
hanya menebak apa hubungan mereka.
Ya, aku memang menyukai Yesung. Mencintainya tepatnya. Jadi, aku agak
sakit melihat mereka tadi. Tetapi aku kan tak boleh berburuk sangka
pada Yesung, aku harus mencari tau dulu. Kuputuskan aku masuk kelas
lagi.
Aku berjalan perlahan ke arah kelas, setelah sampai di depan pintu, kuputuskan untuk berhenti dan melihat mereka dari sini.
Kulihat Saerin berjalan ke depan meja Yesung dan menatap Yesung yang
masih menunduk. “Yesung oppa, saranghae. Mian, dulu aku telah menolakmu,
sekarang aku sadar, aku tak bisa hidup tanpamu. Jadi aku jauh-jauh
pindah dari Amerika hanya untuk mencarimu Oppa”, aigo, jadi Saerin
pernah menolak Yesung? Aku sangat kaget mendengarnya, tubuhku menjadi
lemas, aku gugup dan takut menunggu jawaban dari Yesung.
Yesung mengangkat kepalanya dan menatap Saerin datar.
“Saranghae, jeongmal saranghaeyo, oppa”, ulang Saerin, mereka tidak
menyadari aku memperhatikan mereka disini, tetapi aku bisa memperhatikan
mereka dengan jelas.
Yesung berdiri dan… Memeluk Saerin.
Aigo.. Aku langsung berlari meninggalkan mereka. Hatiku sangat sakit.
Babo kau Yesung-ah! Seharusnya kau tak perlu berbuat sebaik itu padaku
agar aku tak menyukaimu jika akhirnya aku yang tersakiti! Babo kau
Yesung! Aku kecewa padamu!
#Hyesun’s POV end
#Yesung’s POV
Aku memeluknya, tetapi nihil, aku tak bisa menemukan rasa itu. Aku sudah tak mencintainya. Aku melepaskannya.
“Eottokhae, oppa?”, tanya Saerin.
“Mianhae, aku tak bisa. Aku sudah tak mencintaimu”, jawabku dan pergi
meninggalkannya. Aku keluar kelas. Aku ingin sendiri. Tetapi bagaimana
dengan Hyesun tadi, ya?
(pulang sekolah)
Ada apa dengan Hyesun? Selama pelajaran aku hanya dia diamkan. Apa
dia marah? Tetapi apa salahku. Pikirku sambil memasukan buku dan alat
tulisku ke dalam tas.
“Hyesun-ah, ayo kita pulang”, ajakku pada Hyesun, tetapi ia malah berlalu begitu saja di hadapanku.
“Ayo pulang Sunhee-ya!”, ucapnya pada Sunhee.
“Tapi Yesung..?”, tanya Sunhee.
“Biar!”, balas Hyesun cuek. Hei, apa salahku? Lalu mereka meninggalkanku. Hari ini aku harus pulang sendiri.
#Yesung’s POV end
(keesokan hari)
#Hyesun’s POV
“Hyesun-ah, kau ada acara nanti malam?”, tanya Yesung. Tetapi aku mendiamkannya. “Hyesun, ada apa denganmu?”, tanyanya lagi.
“Gwaenchana”, balasku dan tetap fokus pada buku yang kubaca.
“Annyeong Haseyo”, sapa songsaengnim. “Oke langsung saja, kalian saya
beri tugas membuat makalah bebas satu makalah dikerjakan 2 orang,
kalian pilih pasangan kalian sendiri. Saya keluar dulu”, lanjutnya dan
keluar.
“Hyesun, denganku yok!”, ajak Yesung padaku.
“Sunhee kita berdua ya!”, ucapku pada Sunhee
“Oh, ne.”, jawab Sunhee.
“Hei! Aku bicara padamu”, protes Yesung.
“Oh iyakah?”, balasku.
Aku benar-benar masih kesal padanya, jadi kuputuskan untuk menjauhinya dulu.
(pulang sekolah)
“Hyesun, aku ingin bicara”, ucap Yesung.
“Apa? Bicarakan saja!”, ucapku sambil memasukan buku-bukuku.
“Jangan disini”, pintanya.
“Sudah bicarakan disini saja!”, ucapku yang bersiap untuk pulang.
“Baik. SARANGHAE HYESUN-AH! Jangan diamkan aku seperti ini!”, teriak
Yesung yang membuat seluruh kelas menatap kami. Apa maunya, sih?
“Eh,? Aku tak percaya”, ucapku dan mulai berjalan.
“Wae?”
“Kau tak perlu tau”, ucapku.
Yesung menarikku keluar. Sampai di luar kelas ia melepaskanku dan
berbalik menatapku. Dia memegang bahuku dan mendorongku ke dinding *woi!
No Nc kekerasan!*.
“Saranghae, kenapa kau tak percaya”, ucapnya.
Aku mendorongnya. “Setelah kau memeluk orang lain di hadapanku, kau
mengatakan cinta padaku?”, tanyaku.”Oh jadi itu masalahnya?”, tanyanya,
ia kembali mendorongku ke dinding. “Kau salah paham, chagi”, ucapnya
dengan nada menggoda.
“Apa maksudmu?”, tanyaku. Jujur aku tak terbiasa dengan kondisi
seperti ini. Dia terlalu dekat denganku, yang membuat jantungku seperti
ingin lepas.
“Aku ingin menolaknya, jadi aku memeluknya lebih dulu. Kau pikir aku
tega menolak yeoja?”, jelasnya yang membuatku terdiam. Jadi aku salah
paham? “Sekarang kau percaya, kan? Tapi itu tak penting. Aku hanya
memerlukan jawabanmu”, lanjutnya.
“Jadi kau ingin tau jawabanku?”, ucapku, dengan nada menggoda dan mendorongnya hingga dia terhimpit ke tiang. Aku berjinjit.
‘chuup’, aku mencium bibirnya sekilas, “Nado saranghae”, ucapku sambil berlari meninggalkannya.
“Hei kau! Lihat ya, akan ku balas nanti! Hyesun-ah, tunggu!”
-the end-