Sabtu, 05 Juli 2014

“My Fate”



terinspirasi dari 49 days dan komik conan XD
dan bukan pengalaman pribadi yaa :D
dan inilah apa adanya *gaje-_-*
juga kayaknya ngga bakal aku lanjutin soalnya udah ga dapet ide -_-v iseng ngeshare aja lah wkwk XD

cast :
- Lee Sungmin (main cast) _ GS
- Kim Heechul  _ GS
- Cho Kyuhyun
- Lee Donghae
- Lee Hyukjae
- Choi Siwon
- Kim Kibum
- Tan Hankyung
- Kim Ryeowook _ GS
- Kim Jongwoon
- Park Jungsoo _ GS
- Kim Youngwoon
- Shin Donghee
- Henry Lau
- Zhoumi

genre : fantasy

summary :
“Lakukan dalam 66 hari!”
“Hanya 3 orang yang boleh mengetahui ini!”
“Akan ku dapatkan kembali tubuhku….”

                                                                                       ---- start ----

“Satu lagi hyung..”, ucap seseorang.

“Apa?” tanya temannya, “Kasus apa lagi?”

“Begini …..”

***

‘every single day I try ..’ terdengar suara alarm dari sebuah kamar.

‘brak’

‘klik’

“Hoaaaaammm, jam berapa ini?” ucapnya, penghuni kamar itu, “Sudah siang, bodoh kau Lee Sungmin, kenapa pasang alarm sesiang ini? Aku harus cepat bangun dan menyiapkan makanan untuk yang lain”, ia berbicara sendiri seraya bangun dari tempat tidurnya.

#Sungmin’s POV

Aku menuruni tangga menuju dapur tentunya. Hah, sepertinya aku sudah lama tak melewati tangga ini. Aku tersenyum kecil. Bodoh, harusnya kan setiap hari aku melewati tangga ini, hahaha.

setelah sampai di dapur aku mulai melihat sayuran dalam kulkas. aku mengambil beberapa jenis sayuran yang kuperlukan, setelah itu aku mengambil pisau dan memotongnya.

 Hmm, banyak yang berbeda di ruangan ini. Ada apa ini?

“Aku pulang”, ucap seseorang dari pintu dan menuju dapur, sepertinya Appa. Dari mana dia?

“Kenapa lama sekali? Aku sudah lapar!”, Umma keluar dari kamarnya dan menghampiri Appa.

“Salah sendiri kau kesiangan dan menyuruhku mencari makanan! Kenapa kau tidak masak sendiri?”, Appa menyalahkan umma.

“Haha, aku hanya bercanda, jangan marah” ucap umma sambil menyiapkan piring untuk makanan yang telah dibeli appa.

kalau mereka sudah membeli makanank berarti aku tak perlu memasak. Hmm, aku pun meninggalkan pekerjaanku dan mencuci tanganku. Sebelum aku duduk di kursiku, aku memandangi mereka.

Tunggu! Kursi di meja makan kenapa hanya tiga? Aku makin merasa aneh pada rumah ini. Aku pun memutuskan untuk lebih lama diam dan memerhatikan mereka.

“Wookie-ya! Cepat sarapan”, panggil umma

“Ne, sebentar” jawab Ryeowook, dongsaengku, sambil menuruni tangga. “Appa cepat sekali?” tanyanya, ia langsung duduk di kursinya. Umma dan appa pun juga duduk di kursinya.

“Mereka melupakanku?” ucapku pelan.

Mereka memakan makanannya dengan diselingi tawa, tanpa aku tentunya, apa mereka ta melihat aku berdiri di sini? Apa-apaan ini?

“Seandainya Sungmin eonni masih ada ..”, ucap Ryeowook.

‘deg’ apa katanya? Maksudnya apa?

seketika appa dan umma berhenti tertawa dan memandang Ryeowook dengan tatapan sedih.

“Umma, Appa, Ryeowook, maksudnya apa? Kenapa kalian sedih? Aku masih di sini! Apa kalian tak melihatku?” aku berteriak, tetap mereka seperti tak mendengarku.

“Sudahlah, aku berangkat kerja dulu” ucap appa dan ia meninggalkan umma dan Ryeowook.

“Appa, tunggu!”, pintaku, tetapi nihil, ia tak bisa mendengarku. Air mataku pun mulai terjatuh, jadi maksudnya aku … telah meninggal? Aku telah meninggalkan dunia ini? Tapi mengapa aku ada di sini sekarang? Kenapaaa??

“Jangan ingat lagi masalah itu, berangkatlah, sudah siang.”, ucap umma pada Ryeowook.

“Ne”, jawabnya dan ia berdiri dari kursinya dan meninggalkan umma sendiri. Ummaaa.. apa yang telah terjadi?

“Hiks” umma menangis, ummaa, kenapa umma menangis?

“Umma?” panggilku.

“Lee Sungmin, aku yakin kau mendengar ini”, ucap umma pelan, “Maafkan aku, aku tidak bisa menjagamu pada saat itu. Walaupun kau hanya anak angkatku tetapi aku sangat menyayangimu, aku tak bisa kehilanganmu. Tapi terlambat, ini semua telah terjadi. Peristiwa dua tahun yang lalu tak akan pernah ku lupakan Lee Sungmin, peristiwa yang merenggut nyawamu”, umma menghapus air matanya dan berdiri dari kursinya, lalu berjalan hendak pergi meninggalkan ruang ini.

“Umma,apa yang telah terjadi? benarkah umma bisa melihatku?” tanyaku pelan sambil berjalan hendak menghampirinya.

Umma menghentikan langkahnya, dan berbalik. Aku merasa senang ternyata ia masih bisa melihatku.

Tetapi ia hanya mengambil handphone-nya dan keluar rumah. Ternyata ia juga tak bisa melihatku ..

‘bruk’ aku terjatuh, sepertinya aku tak bisa menahan tubuhku lagi saat ini. Apa yang terjadi? Apa? Dua tahun yang lalu? Peristiwa yang merenggut nyawaku?

“Hiks, hiks.. ” aku hanya bisa menangis, karna tak ada lagi yang bisa kulakukan.

‘clap clap’ tiba-tiba terdengar seperti suara kilat dari belakangku, aku pun berbalik, dan …

***

“Siapa kalian?” tanyaku ketika mendapati dua orang laki-laki berbaju putih di belakangku. Seketika ruangan ini berubah menjadi sebuah ruangan serba putih, aku sangat bingung dengan keadaan ini.

“Kami ..”, seseorang dari mereka mencoba menjawab.

“Malaikatmu!” sambung namja yang satunya.

“Malaikatku?” tanyaku sambil memandangi kedua namja itu. Satu

Cerpen Bahasa Indonesia - Tak Selalu Buruk

Namaku Sendy, umurku 16 tahun. Aku bersekolah di SMA swasta yang tak jauh dari rumahku. Aku memiliki badan yang lumayan tinggi, rambut panjang yang sering diikat dan aku suka menggunakan pakaian yang cukup feminim.

Banyak orang yang mengatakan aku baik, cantik, dan pintar. Karena semua hal di dunia ini aku jalani dengan baik, dari belajar, bergaul dengan orang lain dan lainnya, terkecuali cinta. Bukan karena aku tidak berhasil, tetapi karena aku belum pernah mencobanya, aku takut gara-gara cinta bisa melupakan orang-orang di sekitarku, belum lagi nilai-nilai pelajaran akan turun jika ada masalah. Hal yang menyulitkan hahaha. Sangat tidak menguntungkan.

“Sendy! Tadi aku liat anak cowok kece banget, lho di jalan, dia lagi nganter adeknya sekolah tadi”, ucapan seseorang membuyarkan lamunanku. Ia duduk di bangku di sampingku.

“Ih kece apanya? Lebih kecean juga cowok yang di depan mall tadi, udah tinggi, putih, ih pokoknya keren!”, timpal orang yang lain dan ia duduk di meja di hadapanku. Tasya dan Intan, mereka adalah teman baikku, setiap saat yang dibicarakan hanyalah laki-laki, padahal mereka telah memiliki pacar. Aku juga tak mengerti pikiran mereka.

“Udah ah Intan, nggak bakalan nyambung kalo ngomongin cowok sama Sendy”, ucap Tasya.

“Eh maksud kalian apa?” tanyaku, enak saja mereka bilang begitu, memang seberapa parahnya aku tidak mengerti laki-laki. Ya memang, sih aku tak tertarik membicarakan laki-laki sebelumnya, dan mereka tahu itu.

“Haha cuma becanda kok, Sen.”, ucap Intan dan disambung tawa kami bersamaan. “Tapi, Sen, selama kita temenan aku gak pernah sekali pun liat kamu deket sama cowok”, lanjutnya yang membuat tawaku terhenti dan memasang muka sebal.

“Intan, jangankan deket sama cowok, ngomongin cowok aja Sendy ga pernah”, sambung Tasya. Yang membuatku semakin tambah sebal. “Paling-paling ngomongin cowok juga masih ada hubungannya sama pelajaran hahaha.” Dia tertawa, aku hanya memandanginya sinis, seenaknya saja orang ini.

“Tapi kami ngerti kok alasan kamu, Sen”, sepertinya ia mencoba memperbaiki kata-katanya karena tatapanku.

“Udah lah, sana kalian balik ke tempat kalian” usirku, mereka membuat moodku jelek saja. Akhirnya mereka kembali ke tempat mereka, bangku di belakangku.

-Waktu pelajaran selesai-

“Eh Tasya, hari ini kamu ke toko buku gak?”, tanyaku pada Tasya. Rencananya hari ini aku ingin membeli buku untuk menjadi referensi membuat cerpen untuk dilombakan lusa.

“Gak, Sen, lagi ga punya uang, ntar kalau aku khilaf gimana?”, ia malah balik bertanya.

“Yee, kamu ah”, balasku. “Kalau kamu ke …”

“Aku lagi mau bikin kue buat ulang tahun Denny, Sen.”, belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku Intan sudah menjawabnya.

“Ooh, iya deh.”, sepertinya aku memang harus ke sana sendirian. Haah, nasib jomblo. Tapi gak papa deh, yang penting gak pernah galau, hahaha.

Aku pun berjalan keluar sekolah menuju toko buku yang cukup dekat dari sekolah. Berjalan menusuri pinggiran jalan yang ramai dengan berbagai kegiatan, aku memerhatikan sekelilingku. Kendaraan lalu lalang,banyak orang yang hendak menyeberangi jalanan, orang berjualan, aktivitas yang terjadi setiap harinya, yang membuat suasana semakin ramai dan semakin terasa “Panaaass”, ucapku pelan, bisa dibayangkan bagaimana rasanya berjalan di siang hari di keadaan seperti ini.

Akhirnya aku sampai di toko buku, aku langsung masuk dan mencari buku yang aku inginkan, cukup banyak pilihan sehingga membuat aku harus membacanya satu persatu. Aku meletakkan tasku di tempat yang kosong di dekatku.

“Untuk referensi cerpen sebaiknya yang ini”, terdengar ucapan seorang laki-laki di belakangku. Aku tak menengok kearahnya dan tetap fokus pada buku yang kupegang. Apa-apaan dia?

“Kamu dengar, kan? Aku udah milih, lho. Isinya bagus, lengkap, deh pokoknya”, dia meneruskan ucapannya, aku tetap tak memperhatikannya.

“Apalagi harganya murah, ga bakalan rugi, deh kalo kamu dengerin aku”, ini orang sales kali ya, kalo aku punya sales seperti dia mungkin sudah aku pecat, mengganggu kesenangan pelanggan, cih.

“Sayang~”

‘Deg’ ini sudah keterlaluan. “Apa-apaan, sih? Kamu itu siapa?!”, aku berteriak sambil membalikkan badanku. Dan setelah aku melihat keadaan yang sebenarnya. Mati kamu Sendy! Ternyata cowok itu sedang berbicara dengan orang yang sepertinya pacarnya yang sedang memakai headset.

“Ma-maksudnya?”, ia balik bertanya dengan muka yang terkejut. Aku kira mukaku sudah benar-benar merah karena terlalu malu.

“Kenapa?”, pacarnya melepaskan headset yang ia kenakan dan bertanya. Dia menatapku dan pacarnya bergantian.

“A-aku gak tau, Ly” jawabnya polos.

“Maaf!”, aku membungkukkan badanku dan meninggalkan mereka dengan cepat. Bodoh kamu Sendy, bodoh!

Aku keluar dari toko buku dan berjalan dengan cepat menuju rumah, panas matahari seperti sudah tak terasa lagi dan bukan menjadi penghalangku untuk menuju rumah.

Sesampainya aku di rumah aku langsung menuju kamarku.

“Udah pulang, Sen?”, tanya mama, aku hanya menganggukkan kepala dan langsung meninggalkannya. “Kamu kenapa, Sen? Kok beda banget”, aku tak menjawab pertanyaan mama dan langsung menutup pintu kamar.

“Aaaa, Sendy! Kenapa kamu bodoh banget sih!!!” aku berteriak sendiri di kamar, rasanya kejadian tadi ingin cepat aku lupakan. Aku berbaring di kasur dan menyembunyikan kepalaku di bawah bantal.

“Sen, Sendy!”, terdengar samar-samar suara mama memanggilku. Aku menyingkirkan bantal. “Sendy”, suara mama terdengar jelas. Ada apa ya?

“Iya, ma”, jawabku sambil berdiri dan membuka pintu. “Ada apa, ma?” tanyaku.

“Ternyata ini ya yang bikin kamu beda”, ucap mama sambil menatapku aneh.

“Hah? Kenapa sih, ma?” tanyaku bingung.

“Tuh, pacar kamu nyariin di depan”, ucap mama yang membuat aku syok.

“Apaan, sih ma? Aku ga punya pacar” aku mengelak.

“Liat aja itu di depan”, aku berlari ke depan. Siapa sih?

Sampai depan pintu aku melihat seorang laki-laki yang menghadap belakang, memakai jaket dan memegang helm di tangannya. “Siapa?”, tanyaku ketus.

Dia membalikkan badannya dan saat itu juga aku ingin berlari ke ujung dunia. Cowok yang tadi! “Eh, ka-kamu kenapa di sini?”, tanyaku panik.

“Pelajaran ya buat kamu, kalau mau kabur bawa dulu tasnya, jangan ditinggal gitu aja, hahaha”, ucapnya sambil menunjukkan tasku. Aku merasa lebih bodoh lagi. “Untung aku yang nemuin, aku nemuin alamat kamu dari kartu pelajar di tas kamu. Gak ada yang hilang kok”, ia tersenyum.

“I-iya, maksih banyak ya”, ucapku singkat, aku merasa kehabisan kata-kata. Aku melirik ke arah belakangnya, ke mana pacarnya? Aku mengambil tasku.

“Oh iya, tadi kenapa?”, tanyanya.

“Oh, tadi… tadi itu em…”, tak mungkin aku menjelaskannya.

“Sen, kok gak diajak masuk temennya?”, mama berteriak dari dalam rumah.

“Ma-masuk dulu”, ucapku.

“Gak usah kok, aku cepet aja, yaudah aku balik dulu ya”, ucapnya tenang, ia membalikkan badan, memakai helm dan berjalan mendekati motornya kemudian menaikkinya dan meninggalkan rumahku.

Aku terdiam, baik sekali orang ini. Eh ya ampun Sendy, kenapa gak bilang makasih tadi? “Aaarrghhh”, teriakku frustasi.

Aku memasuki kamar lagi, tentunya tanpa menjawab pertanyaan beruntun yang dilontarkan mama. Senyumnya masih terbayang, ternyata ada, ya cowok sebaik itu, hahaha.
EH iya, Sendy! Gak boleh mikirin cowok! Dia Cuma ngancurin hidup kamu. “Huft”.

-Esok hari-

“Muka kamu kenapa beda gitu, Sen?”, tanya Tasya yang tiba-tiba ada di hadapanku.

“Tasya, emang cowok itu semua baik ya?”, tanyaku.

“Eh?”, dia terlihat bingung. “Cie Sendy!! Akhirnya kamu normal juga!”, ia langsung berteriak dan membuat semua orang di kelas melihat ke arahku.

“Apa, sih, Tasya!” ucapku dan kembali terdiam.

“Hahaha, kenapa, sih Sen?”, dia bertanya lagi tetapi aku tak berniat menjawabnya.

“Eh, kalian udah ngerjain cerpen?” Intan tiba-tiba datang dan menanyakan itu.

“Ya ampun”, aku baru ingat kemarin tidak jadi membeli buku untuk mengerjakannya. “Deadline-nya besok, ‘kan?” tanyaku.

“Iya, punyaku masih kosong, aku bingung mau nulis apa”, curhatnya. Sepertinya aku harus ke toko buku lagi hari ini, haaahhh. “Belum lagi besok ada kunjungan yang mau liat karya kita”, lanjutnya. Menyusahkan.

-Pulang sekolah-

Benar ‘kan laki-laki itu buat hidup kita berantakan. Baru saja kenal, belum juga pacaran tugas aku jadi gak beres semua. Aku memasuki toko buku. Lagi-lagi aku bertemu orang itu, mau diletakkan di mana mukaku?. Kalau bukan aku sangat perlu mungkin aku sudah pergi dari sini. Aku menuju tempat kemarin dan kebetulan ia juga berada di sana.

Baiklah, sebelum aku bertambah malu. “Kemarin makasih, ya”, ucapku sambil mengalihkan pandangan ke arah buku-buku dan melihat isinya satu persatu.

“Oke, sama-sama”, jawabnya. “Kali ini aku ngomong sama kamu ya, haha”, sambungnya sambil tertawa. Aahhh Sendy ternyata dia tau.

“Haha”, aku tertawa datar masih tanpa mengalihkan pandanganku dari buku.
Aku merasakan ia mendekat ke arahku, jantungku serasa ingin lepas. “Lagi nyari apa? Mungkin aku bisa bantu”, tawarnya.

“Eh, ga usah kok, haha”, jawabku. Baik sekali orang ini. Lalu ia menjauh, aku kembali mencari buku yang bagus.

Setengah jam,

satu jam,

satu jam setengah aku mencari-cari dan masih belum aku temukan. Pikiranku kacau entah kenapa. Aku melihat sekelilingku dan ternyata orang itu masih berada di sini. Tunggu, kemarin kan ia mencarikan buku untuk pacarnya. Tapi masa aku minta tolong? Tadi kan udah nolak.

“Sendy oon”, ucapku pelan dan memukulkan kepalaku dengan buku.

“Perlu bantuan?”.

“EH!”, aku terkejut. Tiba-tiba ia telah berada di belakangku.

“Keliatannya sedang kesusahan?”, dia kembali menawarkan bantuan.

Aku melihat sekeliling mencari pacarnya, kalau ada, kan nanti dia kira aku ngerebut pacarnya, ternyata tidak ada. Akhirnya aku putuskan untuk bertanya. “Bisa kasih pendapat buku mana yang bagus buat referensi cerpen?”, tanyaku pelan.

“Oh itu”, ucapnya sambil tertawa pelan. Dia mulai melihat buku-buku di dekatku. Gayanya keren banget, rasanya aku mau mati di tempat. Tanpa membukanya ia langsung memberikan 3 buku ke arahku. “Ini, coba saja”.

Aku terdiam sebentar. Sudah dapat? Bisa, kah aku percaya dengan orang ini? Aku menerimanya dengan muka kebingungan, wajar saja dari tadi aku mencari-cari tidak menemukannya tetapi dalam sekejap ia langsung dapat.

“Gak usah ragu gitu, liat dulu, deh. Oh ya, nama kamu siapa?”

“Sendy, kamu sendiri?”, aku balik bertanya.

“Farhan”, jawabnya lagi-lagi dengan senyuman yang terlihat tulus. Mama… apa yang salah sama anakmu ini? Aku terpaku pada senyumannya.

“Oh iya, makasih ya, Farhan”, ucapku yang kembali sadar dari lamunan dan langsung meninggalkannya menuju kasir, aku tidak ingin salah tingkah di depannya. Setelah ini aku ingin pulang ke rumah dan langsung mengerjakannya. Semoga saja selesai.

-Esok harii-
-Di sekolah-

Aku memandangi cerpenku dengan bangga, bayangkan saja aku dapat menyelesaikannya dalam waktu semalam dan aku cukup merasa puas dengan hasilnya.

“Selesai, Sen?”, Tanya Intan.

“Selesai, lah”, ucapku bangga.

“Kok kamu seneng banget, sih Sen? Ada sesuatu ya?”, Tanya Tasya.

“Eh, jangan ngambil kesimpulan sendiri. dong”, jawabku.

“Jangan-jangan masalah cowok ya?”, tebak Tasya.

“Apaan sih, Tasya”, elakku.

“Sendy? Mikirin cowok? Sejak kapan, Tasy?” Tanya Intan. Kenapa mereka jadi ngomong yang enggak-enggak gini?

“Loh, kamu gak denger kemarin dia nanyain tentang cowok ke aku, lhoo”, jawabnya.

“Berhenti ngomongin ini. Itu gurunya udah dateng”, ucapku sambil menunjuk ke arah guru yang telah masuk kelas.

“Silakan kumpul cerpen kalian”, perintahnya. “Inilah penilai kita”, lanjutnya diikuti beberapa orang masuk kelas dan itu ternyata…. Farhan! Ternyata dia termasuk penilai, pantas saja dia cepat memilih buku kemarin. Aku semakin terdiam dengan kondisi ini. Bagaimana tidak, melihat ia berdiri di sana dengan pakaian yang rapi, formal, dan senyumannya yang manis itu. Kacau, sepertinya aku telah menyukainya.

Aku terdiam dan menunduk di bangku. “Nitip dong Tasy”, pintaku pada Tasya.

“Kamu kenapa, Sendy?”, Intan bertanya dengan suara yang keras, spontan aku melihat ke arahnya dan sekeliling, semua orang memperhatikanku, tak terkecuali Farhan, dia memandangku dengan tertawa kecil. Aahhh memalukan!

Mereka mulai mengambil cerpen kami dan membacanya.

-Istirahat-

“Kamu gak makan, Sen?”, Tanya Tasya.

“Udah kenyang”, jawabku singkat. Lalu mereka meninggalkanku. Aku terdiam di bangkuku memainkan pensil.

“Karya kamu keren”, ucap seseorang aku mencari sumber suaranya, tepat di depanku, Farhan.

“Ahaha? Benarkah?”, jawabku yang sebenarnya berbalik bertanya.

“Iya”, ucapnya dengan senyum yang meyakinkan. Entah kenapa pikiranku jadi tambah kacau melihatnya.

“Haha, kan kamu yang milih buku buat referensinya, ya jelas bagus lah”, ucapku.

“Gak, lho, walaupun aku kasih referensi buku sebagus apa pun kalau orangnya memang gak bisa ya tetep aja jelek”, keliatannya ia tak ingin kalah debat. Aku putuskan hanya tersenyum.

“Makasih”.

“Sama-sama”.

“Oh ya, kamu kenapa gak bilang kalau kamu penilai karya kami. Aku jadi gak enak, harusnya aku lebih sopan kan kemarin, gak seharusnya juga aku minta tolong kamu”, ucapku panjang lebar. Jujur ini adalah pertama kalinya aku berbicara begini sama cowok.

“Hah? Terus aku salah?”, tanyanya yang membuat aku lagi-lagi terdiam. “Kalau kamu menang kamu harus ke toko buku lagi bersamaku untuk membuat karya yang lebih bagus untuk mewakili sekolah, hahaha”, ucapnya sambil tersenyum bangga lalu ia meninggalkan kelas.
Diam. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat berhadapan dengannya hari ini. Salah tingkah? Mungkin.

Aku mengaguminya? Aku juga tak bisa mengatakan itu salah, aku memang mengagumi kebaikannya, belum lagi ia cukup tampan, tinggi, pintar, kata-katanya membuat aku tenang dan terus mengingatnya, hahaha. HEH! Sendy! Apa yang kamu pikirin? Aaahhh. Aku memukulkan buku ke kepalaku.

“Sen?” Tasya dan Intan tiba-tiba berada di hadapanku memandang aneh ke arahku.

“Eh, apa?”, tanyaku dengan muka tak bersalah.

“Kamu ada hubungan apa sama penilai kita?”, Tanya Intan. “Kok tadi serius banget ngomongnya?”, lanjutya. “Kami sampe ga jadi masuk kelas buat ngambil uangku yang ketinggalan, lho ngeliat kalian yang kayak gitu.”

“Iya belum lagi kamu cuma diem, terus waktu dia keluar kamu senyum-senyum sendiri.”, sambung Tasya.

“Belum lagi abis itu kamu mukulin buku ke kepala. Pasti ada sesuatu kan?”, mereka memandangku penuh Tanya.

Aku diam sebentar. Oke Sendy, mungkin ini adalah waktu untuk mengagumi bahkan menyukai seorang laki-laki. Sebaiknya memang aku ceritakan pada mereka.

-Setelah itu-

“Ciyee Sendy, akhirnya kan, hahaha”, Tasya tertawa setelah mendengarkan ceritaku. Sedangkan Intan tersenyum-senyum penuh arti.

“Tapi, emm”, aku berhenti sebentar, hal yang menjadi masalah terbesar saat ini. “Dia udah punya pacar”, ucapku sangat pelan, tetapi sepertinya mereka mendengarnya, terlihat dari ekspresi mereka yang langsung berubah.

“Sen? Kamu kenapa sekali suka sama orang yang udah punya pacar?”, Tanya Intan.

“Kayak pepatah, cinta itu buta”, jawabku santai, tapi sebenarnya aku kecewa. “Tapi aku gak ada niat buat milikin dia kok, cuma ganggu sekolah”, sambungku. Memang benar, aku tak ada niat untuk pacaran.

“Ah masa?”, Tanya Tasya. “Kalau masih awal-awal emang bilangnya gitu kok, Sen, coba kalau udah lama”, ucapnya sambil tersenyum iseng.

“Terserah kalian, deh”, akhirnya aku mengalah lagi. Haahh.

“Kita disuruh ke lapangan di luar, pengumuman cerpen terbaik”, ucap Andi, ketua kelas kami yang tiba-tiba masuk kelas dan memberi arahan.

“Oke deh”, jawab Intan. Lalu kami bersiap-siap keluar.

Sesampainya di lapangan kami mencari tempat yang teduh, terlihat Farhan di seberang sana tersenyum ke arahku, aku pun membalas senyumannya.

“Ehm, Sendy, hahaha. Tenang, Sen, mereka juga anak SMA kayak kita, kok”, gurau Tasya.

“Haha kamu kenapa, sih Tasy, aku, kan gak ada niat buat pacaran”, ucapku.

“Cerpen terbaik tahun ini adalah, milik…” terdengar suara dari speaker, sepertinya sengaja dihentikan sejenak supaya menambah penasaran.

“Sendy Audra”, lanjutannya yang membuat aku syok, kaget, senang, sekaligus bangga.

“Yee, Sendy hebat”, ucap temen-teman di sekelililngku. Aku hanya tersenyum.

-Pulang Sekolah-

“Ke toko buku lagi, deh”, sindir Intan. Ia tahu kalau aku harus ke toko buku untuk mencari referensi baru.

“Hahaha”, aku hanya tertawa.

“Ketemu lagi, deh”, kali ini Tasya. Aku hanya tersenyum.

“Aku duluan ya”, ucapku lalu meninggalkan mereka.

Satu hal yang baru aku sadari adalah ternyata manyukai seseorang itu menyenangkan, aku seperti mendapatkan semangat baru. Tapi tetap saja menyakitkan dan menyusahkan, Farhan kan sudah punya pacar. Huh.

“Kenapa mukanya dilipet gitu?”, seseorang membuyarkan lamunanku, aku menghentikan jalanku.

“Eh, Farhan. Haha gak papa, kok”, jawabku.

“Mau ke toko buku, kan? Ayo bareng, aku cariin lagi, deh bukunya”, aku menganggukkan kepalaku.

Kami berjalan berdua keluar dari halaman sekolah dan menyusuri pinggir jalan.

“Pacar kamu gak marah, Far?” akhirnya aku menanyakan ini karena aku khawatir kalau tiba-tiba pacarnya melihat aku berjalan bersamanya.

“Hah? Pacar?” dia balik bertanya, raut mukanya berubah kebingungan. Tak lama ia tertawa kecil, “Ohh, kamu salah paham, Sen, dia adik aku. Kalau pacar aku kayak gitu aja udah pasti aku putusin dar awal, hahaha”, ucapnya tenang.

Sendy, kenapa kamu jadi gini sih. Kan awalnya aku nyimpulin sendiri kalau itu pacarnya. “Oh”, jawabku singkat sambil menatap lurus ke jalanan.
“Kenapa? Kamu cemburu?”, tanyanya.

“Eh enggak lah, aku gak mau pacaran, cuma ganggu sekolah”, elakku cepat.

“Sendy, siapa yang ngajak kamu pacaran? Aku kan cuma nanya hahaha”, jelasnya santai. Ya ampun, iya juga, aah kenapa aku jadi gini.

“Aahh iya maaf”, ucapku cepat, kacau, aku salah tingkah.

“Tapi dari awal aku juga udah berkomitmen ga akan pacaran kok”, ucapnya. Aku memandanginya. Ternyata ia sepikiran denganku. “Jujur, ini juga pertama kalinya aku gini sama cewe”,lanjutnya yang buat aku semakin kaget. Kami sama?

“Sen, aku suka sama kamu dari awal kita ketemu”, ucapnya sambil tertunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Apa?”, sebenarnya aku telah mendengarnya jelas, hanya meyakinkan.

“Cuma suka, aku gak berniat pacaran”, ia menatapku dan tersenyum. Rasanya saat ini aku ingin meluncur ke bulan. Ternyata perasaan kami sama!

“Eh iya?”, jawabku. “Ehm, aku juga gitu”, lanjutkuku sambil menggaruk kepalaku yang sebenarnya tak gatal.

“Em, terus gimana ya?”, tanyanya sambil melihat jalanan yang ramai, seolah ia bisa menemukan jawaban dengan melihat jalanan itu. “Aku jadiin kamu penyemangat belajar aku aja, boleh gak?”, tanyanya dengan senyuman yang terlewat manis. Dewasa sekali orang ini, pikirannya sama sepertiku.

Sebelumnya belum pernah aku bertemu dengan orang sepertinya.

“Ahahaha, boleh lah”, jawabku. “Berarti aku juga boleh dong?”, aku balik bertanya lalu kami tertawa bersama.

Banyak hal yang aku pelajari. Saat-saat seperti ini sekolah memang sangat penting, jangan sampai ada yang mengganggunya. Menyukai orang lain juga tak selamanya buruk. Ia bisa menjadi semangat belajar kita. Jadi kita harus mengatur itu semua sebaik-baiknya.
 
____ TAMAT ___

Cerpen 2011 – My Love

warning : setelah membaca cerita ini anda bisa pusing, mual, diare atau serangan jantung

cast :
Yesung suju
Kim Hye Sun (OC)
Lee Sun Hee (OC)
Donghae suju
Kyuhyun suju
Park Sae Rin (OC)

Genre : romance, .. (gak tau deh, terserah reader)

xXxXx

#Hye Sun’s POV
Aku berlari menuju ke sekolah karena aku terlambat. Setelah sampai aku cukup bingung, mengapa sekolah sepi? Di kelaspun hanya ada beberapa orang, ‘aneh’ batinku.

Aku melihat kearah jam di kelas, dan itu membuatku kaget. Jam masih menunjukan pukul 7. ‘pantas saja masih sepi.. Huh jamku terlalu cepat’ pikirku.

“Annyeong Hyesun-sshi!”, sapa seseorang yang membuatku cukup terkejut. Akupun menoleh.

“Eh, An-annyeong Kyuhyun-sshi”, balasku.

“Kok melamun depan jam?”, tanyanya

“Em, tidak kok.. Aku hanya bingung, kenapa masih sepi.”, jawabku jujur yang membuat dia tertawa.

“Hahaha.. Kamu saja yang aneh, mana ada orang yang mau berangkat sepagi ini”, haaa? Aneh, dia bilang aku aneh? Lalu dia meninggalkanku menuju kursinya. Dasar, Kyuhyun maniak game yang menyebalkan!

“Hyesun-ah.. Kenapa kau meninggalkanku?”, teriak seseorang dibelakangku, Sunhee, teman sebangkuku

“Mian, jamku bermasalah”, jawabku. Akupun duduk di kursiku, disusul Sunhee di sampingku.

“Hyesun-ah, SARANGHAE”. Suara seseorang dari luar. Aigoo.. Suara itu?

Aku langsung berlari keluar kelas, meninggalkan Sunhee, mencoba menghindar dari orang yang mengatakan itu tadi. Kenapa harus keluar kelas? Kenapa tidak sembunyi saja dalam kelas? *entahlah author juga gak tau*

Aku melewati orang tadi. “Hyesun-sshi, saranghae”, teriaknya lagi. Tak ku sangka ternyata dia juga mengejarku. Aku menambah kecepatan lariku, tanpa memperhatikan jalan.

“Kenapa kau tak pernah mau menerimaku?”, ucapnya sambil terus berlari mengejarku. Aku tetap tak menghiraukan dia. Ya, memang sejak SMP dia selalu mengatakan cinta padaku, sampai sekarang SMA kelas 2 juga masih seperti itu. Aku juga selalu menolaknya, siapa juga yang mau dengan seorang Lee Donghae? Sudah penampilannya berantakan(?), suka membanggakan diri, playboy lagi. *digeplakfishy*

‘BRUUKK’
Karna tak terlalu memperhatikan jalan, tak terasa aku menabrak seseorang. “Mi-mianhamnida”, ucapku. Aku langsung membereskan buku-buku milik orang itu yang terjatuh. Akupun sadar akan sesuatu, Lee Donghae, ia telah ada dibelakangku.

Dan lagi-lagi ia mengucapkan, “Saranghae”.

Aku melihat orang yang kutabrak atau memperhatikan sejenak tepatnya. Dia namja yang cukup *sangat* tampan. Tanpa pikir panjang, aku berdiri dan meraih serta menggandeng tangan namja itu.

“Mian Donghae-sshi, aku telah menjadi miliknya, dia pacarku.”, teriakku pada Donghae, entah mengapa, mungkin aku sudah kesal padanya.

Donghae menatap kami dengan tatapan tak percaya, lalu dia meninggalkanku. Syukurlah.

Aku sadar dengan tatapan tak terima+tajam+aneh dari seseorang. Namja ini, perlahan aku melepaskan tangannya. Aku mengambil buku-buku miliknya yang telah kurapikan. Akupun memberikan buku-buku ini padanya. “Mianhamnida, tentang yang tadi, lupakanlah.. .. .. Mm, kamsahamnida”, ucapku.

Namja itu mengambil buku ditanganku dengan perlahan. Aku terus menatapnya sambil menunggu jawabannya. Tetapi setelah selesai mengambil buku dia langsung meninggalkanku.

Pabbo kau Hyesun. Dia marah, tapi akukan sudah minta maaf. Aku keterlaluan ya? Atau dia yang terlewat sombong?

Aku masuk kedalam kelas, mengikuti pelajaran. Aku tidak bisa fokus, memikirkan hal terbodoh yang ku lakukan tadi.

“Wae, Hyesun-ah? Terlihat gelisah sejak tadi”. Tanya Sunhee, selain teman sebangkuku dia juga sahabatku sejak sekolah dasar. “Bagaimana dengan Donghae tadi? Kau berhasil membuatnya tak lagi menyukaimu?”, tanyanya

Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal tentunya. Dan menceritakan kejadian tadi pada Sunhee.

“Hahahaha.. Pabboya! Hahaha”, tawanya pecah setelah mendengar ceritaku. Sahabat apa dia? Disaat aku sedang susah ia malah tertawa.

“Lalu aku harus bagaimana?”, tanyaku.

“Ah, kenapa juga kamu bisa melakukan ini pada orang yang belum kau kenal”, jawabnya, sambil mencoba menghentikan tawanya.

“Mm, rasanya aku ingin mati saja”, ucapku.

“Daripada terus berpikir, kita makan saja dulu, yuk. Aku sudah lapar.”, ajak Sunhee, aku mengikutinya, karena aku juga sudah lapar.

Sesampainya di kantin, aku memesan makanan dan membayarnya. Kantin terlihat penuh, untungnya masih ada satu meja yang kosong.

Kami duduk disana, dan memakan makanan kami. Tak lama aku merasa ada orang duduk di depan kami, memang meja ini berisi 4 kursi. Aku tak terlalu memperhatikannya.

“Annyeong Hyesun-sshi, Sunhee-ya. Aku duduk disini ya.”, kulihat Kyuhyun. Aku hanya tersenyum membalasnya, dan melanjutkan makanku.

“Silakan!”, jawab Sunhee.

“Aku juga ikut duduk disini ya”, kata seorang namja. Suara ini asing bagiku. Aku menoleh pada orang yang bersama Kyuhyun. Aigo.. Dia!

Aku langsung menghabiskan makananku tanpa banyak bicara.
#Hyesun’s POV End


#Author POV
Setelah menghabiskan makanannya, Hyesun langsung meninggalkan Sunhee,Kyuhyun, beserta teman Kyuhyun. Sunhee yang melihatnya pun langsung menghabiskan makanannya.

“Aku duluan ya!”, pamit Sunhee pada dua namja itu, yang dibalas anggukan oleh keduanya. Lalu diapun pergi meninggalkan kantin, menyusul Hyesun.

“Sebenarnya apa sih yang ada di pikiran yeoja itu?”, gumam Kyuhyun, sambil mengaduk minumannya.

“Molla.”, jawab temannya dengan malas.

“Ah, Yesung-ah, Lupakanlah masalah Sunhee dan Hyesun tadi”, ucap Kyuhyun.

“Jadi, yeoja yang pertama meninggalkan kita tadi namanya Hyesun?”, tebak temannya atau Yesung tepatnya *nah, akhirnya, suami author keluar juga name-nya*

“Ne, Waeyo?”, tanya Kyuhyun.

“Ah, ani. Gwaenchanayo”

“Ada yang ingin ku tanyakan, Yesung-ah.”, ucap Kyuhyun

“Apa? Tanyakan saja”, balas Yesung.

“Kan semenjak lulus dari sekolah dasar kau melanjutkan sekolah ke Amerika, tapi mengapa saat pertengahan SMA ini kau kembali ke Korea dan melanjutkan belajar ke sekolah Appa-mu?”, tanya Kyuhyun.

“Ah, itu. Itu karena Appa ingin aku lebih dekat dengannya.”, jawab Yesung.

“Oh, begitu. Tapi baguslah, karna itu aku jadi bisa bertemu kembali dengan sahabatku sejak kecil”, ucap Kyuhyun sambil tersenyum.

“Ne, jika kau ingin tau, kehidupanku disana tanpamu itu terasa ada yang kurang, *lebay oppa* Kyu”, ucap Yesung.

“Ne? Lalu kau ingin masuk kelas mana?”, tanya Kyuhyun.

“Inginnya, sih satu kelas denganmu!”

“Hm, ide yang bagus. Enak ya jadi anak pemilik sekolah ini, bisa memilih kelas mana saja”, ucap Kyuhyun.

“Kau bicara apa, sih?”

xXxXx

“Kau kenapa Hyesun-ah? Terlihat aneh sejak tadi”, ucap Sunhee yang melihat sahabatnya hanya diam sejak tadi.

“Kau melihat namja yang bersama Kyuhyun tadi, kan?”, tanya Hyesun.

“Ne, Wae?”

“Namja itu.. Namja yang kuakui sebagai pacarku di depang Donghae.”, jelas Hyesun.

“Mwo? Hahahaha.”, tawa Sunhee setelah mendengar penjelasan Hyesun.

“Hah, seperti perkiraanku, kau akan tertawa mendengarnya”, ucap Hyesun, lalu dia menumpukkan tangannya diatas meja, dan menenggelamkan kepalanya.

“Haha, mianhae”, ucap Sunhee yang mencoba menghentikan tawanya. “Tapi tunggu, sepertinya aku tau orang itu”.

Mendengar ucapan Sunhee Hyesun bangun dan menatap sahabatnya itu. “Ne? Di mana? Dia sebenarnya siapa?”, tanya Hyesun.

Terlihat Sunhee sedang berfikir sebentar. “Aku ingat. Kalau tidak salah aku pernah melihat fotonya di buku sejarah(?) Youngwoon-sshi, kepala sekolah kita.”,*keren amat kepsek pake dibuat sejarahnya* jelasnya.

“Jadi, dia anak Youngwoon-sshi?”, tanya Hyesun, tebaknya tepatnya. “Oh God, apalagi ini? Lalu aku harus bagaimana, jika dia menyuruh Youngwoon-sshi untuk mengeluarkanku karna telah mempermalukannya?”
#Author POV End

xXxXx

#Yesung’s POV
Ku letakkan tasku ke sebuah meja di kamarku ini, lalu ku baringkan tubuhku di atas ranjang, tanpa mengganti seragamku. Hari ini ada seorang yeoja yang bernama Hyesun masuk dalam hidupku. Saat pagi tadi dia menabrakku dan membuat buku yang ku bawa terjatuh, lalu dia mengakuiku sebagai pacarnya dihadapan seorang namja, tapi aku yakin pasti banyak yang mendengar. Lalu kami bertemu lagi di kantin. Hmm, yeoja itu cantik sih. Apalagi senyumannya tadi, saat memberikan bukuku yang terjatuh, sangat manis. Hei, kenapa aku jadi memikirkan yeoja itu? Apa aku menyukainya? Ah, jangan dulu Yesung, nanti ini dikira sebuah pelarian.

(keesokan hari)

“Umma, aku berangkat”, pamitku pada umma.

“Ne, jaga dirimu Jongwoon-ah.”, pesan umma.

“Ne Umma.”, lalu aku masuk kedalam mobil, di dalam mobil ada Appa yang menungguku.

“Kau ingin masuk kelas mana Jongwoon?”, tanya Appa sambil tetap fokus pada jalan.

“Satu kelas dengan Kyuhyun, Appa”, jawabku.

Setelah 20 menit dalam perjalanan, kamipun sampai.

“Selamat pagi Youngwoon-sshi, anda sudah ditunggu.”, ucap seseorang ketika kami keluar dari mobil.

“Baik, Jongwoon, masuklah dulu ke kelas Kyuhyun, nanti appa akan membicarakannya dengan wali kelas itu.”, ucap Appa lalu pergi meninggalkanku.

Aku memasuki halaman sekolah dan mencari kelas Kyuhyun yang pastinya aku tak tau di mana dan kelas apa. Dan bodohnya aku tak membawa ponsel.

Aku menanyai setiap kelas 2 yang ada di sekolah ini, tapi belum ada satu kelaspun yang mengatakan Cho Kyuhyun ada di kelasnya.

Sampai aku tiba di kelas 2-F, aku sedikit masuk agar orang disini bisa melihatku. Aku melihat ke dalam kelas ini dan … Aigo, Hyesun ada disini, dan hanya ada dia disini. Ku lihat dia cukup kaget melihatku. Karna tak ada pilihan lain akupun menanyainya.

“Apa em Cho Kyuhyun e ada di-di kelas ini?”, tanyaku sedikit gugup.

“N-ne dia di sini”, jawabnya si”Di mana, dia?”, tanyaku, tanpa menatapnya.

“Ke Game Center dekat sini, mungkin”, jawabnya.

Karena merasa tidak ada yang perlu kutanyakan lagi, kuputuskan untuk keluar dan menunggu Kyuhyun diluar.
#Yesung’s POV end


#Author POV
Tak lama setelah itu, siswa kelas 2-F pun kembali ke kelas mereka, setelah mereka bertanding game. Ya, mereka kembali karena merasa sudah saatnya pelajaran dimulai.

Langkah sang pemimpin rombongan atau raja game terhenti di depan kelasnya karena mendapati sahabatnya berdiri melamun. “Yesung-ah!”, tegurnya. Tetapi yang dipanggil masih memandang kosong depannya.

“YESUNG-AH!!”, teriak Kyuhyun akhirnya.

“Ne? Kenapa berteriak?”, tanya Yesung tanpa rasa bersalah.

“Hah.. Sudahlah. Kau tidak masuk?”, tanya Kyuhyun.

“Aku masih menunggu songsaengnim yang ingin masuk.”.

“Itu songsaengnimnya! Aku masuk duluan.”, pamit Kyuhyun dengan agak berlari masuk ke dalam kelas (evil takut ma guru ya? Kkk~)

“Khajja Jongwoon-sshi.”, ucap songsaengnim pada Yesung.

“Ne”.
#Author POV end


#Hyesun’s POV
“Annyeong.”, sapa songsaengnim yang membuyarkan lamunanku tentang namja itu. Jujur saja, saat ini aku sedang malas belajar. Aku melihat kearah songsaengnim dan… Namja itu?

“Saya membawa murid baru, silakan perkenalkan dirimu Jongwoon-sshi!”, ucap songsaengnim. Jadi, aku akan satu kelas dengannya?

“Annyeong haseyo, joneun Kim Jong Woon Imnida, tetapi, silakan panggil saya Yesung.”, mulai namja itu yang ternyata bernama Yesung.

“Silakan kau duduk bersama Kyuhyun-sshi, di samping meja Hyesun-sshi.”, ucap songsaengnim. Hah, dia duduk di sampingku lagi. Benar-benar memalukan.

Saat istirahat, aku ingin sendiri. Dan ternyata aku benar-benar sendiri, Sunhee malah benar-benar pergi, padahal sahabatnya sedang kesulitan sekarang.

Yesung sangat membuatku tidak konsentrasi, saat songsaengnim menjelaskan tadi aku merasa dia sedang memperhatikanku. Tetapi saat aku menatapnya dia langsung membuang muka. Apa dia sampai semarah itu, ya?

“Hoahmm”, ngantuk, itu yang kurasa, aku sangat lelah.

“Hyesun-ah! Aku tau dia hanya berpura-pura menjadi pacarmu”

Degh

Donghae? Dia lagi. Mengganggu saja! Semua masalahku muncul, kan gara-gara dia. Dia benar-benar membuatku menderita, aku sampai-sampai kehabisan kata-kata untuk menolaknya.

“Apa sih yang kau inginkan?”, ucapku akhirnya.

“Kau menjadi pacarku!”, balasnya cepat. Dasar namja keras kepala!

“Sudah jangan ganggu dia!”, baru saja aku ingin membuka mulutku tetapi ucapan seseorang membuatku mematung. Yesung? Sejak kapan dia masuk kelas? Apa dia tadi menguping? *bahasa apa ni?*

“Dia memang benar pacarku! Jangan ganggu dia lagi! Jika kau masih mengganggunya, kau akan merasakan akibatnya”, lanjutnya berbicara pada donghae dengan nada datar. Aku hanya bisa diam sambil memandang bingung namja ini.

Tanpa membalas ucapan Yesung, Donghae keluar. Setelah Donghae benar-benar keluar senyum yang sangat manis terukir(?) di wajah Yesung. Ada apa dengan namja ini?

Apa dia ingin balas dendam padaku? Atau dia tulus menolongku? Aku hanya diam dan terus menatapnya yang berjalan dan duduk di bangkunya. Diapun menatapku.

“Maaf dengan kata-kataku tadi.”, ucapnya.

“…ne”, balasku singkat, entah kenapa lidahku kaku.

“Jika kau keberatan dengan kejadian tadi, mungkin aku bisa pergi ke kelasnya dan menjelaskan ..”

“Ah, Ani. ANDWAE! Jangan, seharusnya aku ngengucapkan banyak terima kasih padamu”, potongku, jika ia mengatakan yang sebenarnya, habislah aku.

“Datanglah ke acara ulang tahunku nanti malam, aku ingin melihat kalian berpasangan!”, ucap seseorang tiba-tiba di tengah pembicaraan kami. Donghae. Hahh, apa dia mendengar pembicaraan kami tadi? Tanpa mengucapkan apa-apa lagi ia pergi.

Aku merasakan Yesung menatapku. “Jika kau memerlukanku, aku akan membantumu.”, tawarnya. Hah, eottokhae?
#Hyesun’s POV end

xXxXx

#Yesung’s POV
Malam ini aku akan pergi bersamanya. Aku menjemputnya di taman pukul 7 nanti.Kenapa aku bisa menawarkan diriku berpura-pura menjadi pacarnya, ya? Ataukah aku benar-benar telah menyukainya? Hahh, sudahlah, lebih baik aku tidur.


“Eumm… Hhh..”, sudah jam berapa ini? Aku melihat jam yang ada di kamarku. Jam 6.30. Lebih baik aku bersiap-siap.

Setelah selesai mandi, aku memakai kemeja putih dan celana hitam yang telah kusiapkan *jadi tai cicak ni oppa*. Sudah jam 7, aku harus berangkat.

“Umma, aku pergi”, pamitku pada umma, tanpa menunggu jawaban umma aku langsung masuk ke dalam mobil. Ku kendarai mobilku dengan kecepatan sedang.

Setelah sampai di taman, aku langsung mencari Hyesun. Saat sampai di sebuah kursi taman aku menemukannya. Aku tersenyum melihatnya, dia sangat cantik dengan gaun putih selutut yang ia pakai.
#Yesung’s POV end


#Hyesun’s POV
Dia datang, sangat tampan.*ialah, suamiku gtu* “Annyeong Hyesun-sshi!”, sapanya.

“An-annyeong”, jawabku agak “Ayo kita berangkat!”, ajaknya. Aku hanya mengangguk.

Aku masuk ke dalam mobilnya dan duduk di sampingnya, suasana hening. Cukup lama, aku hanya memperhatikan jalanan.

“Jika kau hanya diam, kita tak akan sampai lho!”, guraunya. Aigo, iya, aku lupa menunjukkan jalan.

“Em, sampai ujung jalan ini, belok ke kanan, rumahnya dekat jembatan.”, ucapku. Kulihat ia hanya mengangguk. “Yesung-sshi, kenapa kau mau menolongku?”, tanyaku.

“Hahaha, gwaenchana. Aku hanya kasihan melihatmu. Lalu aku menolongmu.”, jawabnya. Karna kasihan, ya? “Atau mungkin karna aku punya maksud lain”, lanjut Yesung yang membuatku bingung.

“Maksudmu?”

“Eh, ani. Lupakan saja!”, jawabnya sambil tertawa tidak jelas. Lalu suasana kembali hening.

Akhirnya kami sampai di rumah Donghae. Kami turun dan masuk ke dalam rumahnya. Ramai, tetapi hanya ada beberapa sahabat donghae, dan kurasa yeoja-yeoja disini adalah mantan kekasihnya.

Aku menatap Yesung, dan ia mengangguk. Kami berjalan kearah Donghae yang berada di samping meja dan di kerumuni oleh beberapa yeoja. Kulihat Donghae melihatku, aku langsung mendekatinya bersama Yesung dibelakangku.

“Saengil Cukkhae hamnida Donghae-sshi.”, ucapku sambil menyerahkan kado yang kubawa *nah, kadonya muncul dari mana?*

“Cukkhae!”, ucap Yesung.

Donghae menerima kado dariku. “Gomawo”, ucapnya. Tanpa persetujuanku, Yesung menggenggam tanganku erat, sambil tersenyum aneh sendiri.

“Kami langsung pulang ya! Masih ada acara.”, pamitku pada Donghae.

“Ne, gomawo sudah datang”, ucapnya singkat.

Kamipun keluar dari sana, dan langsung masuk ke dalam mobil. Di jalan kami bercerita cukup banyak, tetapi hanya tentang sekolah. Yesung juga mengantarku sampai rumah.

xXxXx

Setelah kejadian malam itu kami menjadi lebih dekat. Yang lain sering pergi ke game center untuk melihat raja game itu bermain, dan hanya menyisakan kami di kelas saat istirahat, kami bercerita tentang kehidupan kami. Aku merasa jika aku telah menyukai Yesung. Dan berkat Yesung juga, sekarang Donghae tidak lagi menggangguku.

“Hyesun-ah, kenapa melamun? Sedang memikirkan Yesung, ya?”, gurau Sunhee yang baru duduk di bangkunya.

“Ah, ani!”, jawabku.

“Kau suka pada Yesung kan?”, tebak Sunhee. “Hayo! Mengaku saja! Kau sudah ketahuan oleh ku!”, lanjutnya.

“Sunhee-ya!”, teriakku.

‘teng.. teng..’, bel sekolah berbunyi, akupun menyudahi perdebatanku dengan Sunhee.

Aku sadar dengan sesuatu. “Kyuhyun-sshi, di mana Yesung-ah?”, tanyaku pada Kyuhyun, karna sampai saat ini Yesung juga belum datang. Padahal biasanya dia berangkat pagi sekali.

“Molla!”, jawab Kyuhyun yang hanya fokus dengan PSPnya.

Songsaengnimpun masuk kelas, Yesung juga belum datang, hei, ada yeoja di belakang songsaengnim. Murid baru ya?

“Annyeong”, sapa songsaengnim. “Hari ini saya membawa murid baru. Silakan perkenalkan dirimu.”, lanjutnya.

‘tok.. tok..’, seseorang mengetuk pintu kelas, Yesung, dia baru datang. Tetapi kenapa dia hanya diam di depan pintu? Memandang syok ke arah murid baru itu lagi.
#Hyesun’s POV end

#Yesung’s POV
Dia..
“Silakan masuk Jongwoon-sshi”, ucap songsaengnim. Akupun masuk dengan menunduk. Oh, padahal aku sudah hampir melupakannya.

“Annyeong haseyo, Joneun Park Sae Rin imnida”, mulainya. Saerin, kenapa kau datang lagi disaat aku telah melupakanmu. Memang kurasa aku telah menyukai Hyesun, setelah aku melupakan sakit hatiku karna Saerin, karna dia telah menolakku.

“Saerin-sshi, duduklah di bangku kosong di belakang Yesung-sshi”, ucap songsaengnim. Saerin berjalan dengan senyumannya yang dulu membuat hatiku luluh, tapi kurasa senyumnya telah tertutupi oleh senyuman Hyesun. Aku merasa Hyesun memandangiku dengan tatapan penuh tanya. Aku hanya bisa menunduk.

Aku tak fokus dengan pelajaran kali ini. Aku berdebat di fikiranku, memilih dan membandingkan Hyesun dan Saerin. Saat istirahat yang lain kembali pergi ke game center. Kali ini tersisa aku, Hyesun dan Saerin. Suasana hening.

“Oppa, akhirnya kita bertemu kembali”, ucap Saerin, memecahkan keheningan.

“..n-ne”, jawabku singkat. Kulihat Hyesun terlihat kaget dengan pembicaraan singkat kami. Akhirnya Hyesun keluar kelas meninggalkan kami.
#Yesung’s POV end


#Hyesun’s POV
Saerin. Siapa dia? Kenapa dia memanggil Yesung ‘oppa’? Apa mereka saling mengenal? Lalu apa hubungan mereka? Hah! Aku memilih keluar untuk menenangkan fikiranku. Aku merasa kacau bersama mereka. Sejak tadi aku hanya menebak apa hubungan mereka.

Ya, aku memang menyukai Yesung. Mencintainya tepatnya. Jadi, aku agak sakit melihat mereka tadi. Tetapi aku kan tak boleh berburuk sangka pada Yesung, aku harus mencari tau dulu. Kuputuskan aku masuk kelas lagi.

Aku berjalan perlahan ke arah kelas, setelah sampai di depan pintu, kuputuskan untuk berhenti dan melihat mereka dari sini.

Kulihat Saerin berjalan ke depan meja Yesung dan menatap Yesung yang masih menunduk. “Yesung oppa, saranghae. Mian, dulu aku telah menolakmu, sekarang aku sadar, aku tak bisa hidup tanpamu. Jadi aku jauh-jauh pindah dari Amerika hanya untuk mencarimu Oppa”, aigo, jadi Saerin pernah menolak Yesung? Aku sangat kaget mendengarnya, tubuhku menjadi lemas, aku gugup dan takut menunggu jawaban dari Yesung.

Yesung mengangkat kepalanya dan menatap Saerin datar.

“Saranghae, jeongmal saranghaeyo, oppa”, ulang Saerin, mereka tidak menyadari aku memperhatikan mereka disini, tetapi aku bisa memperhatikan mereka dengan jelas.

Yesung berdiri dan… Memeluk Saerin.

Aigo.. Aku langsung berlari meninggalkan mereka. Hatiku sangat sakit. Babo kau Yesung-ah! Seharusnya kau tak perlu berbuat sebaik itu padaku agar aku tak menyukaimu jika akhirnya aku yang tersakiti! Babo kau Yesung! Aku kecewa padamu!
#Hyesun’s POV end


#Yesung’s POV
Aku memeluknya, tetapi nihil, aku tak bisa menemukan rasa itu. Aku sudah tak mencintainya. Aku melepaskannya.

“Eottokhae, oppa?”, tanya Saerin.

“Mianhae, aku tak bisa. Aku sudah tak mencintaimu”, jawabku dan pergi meninggalkannya. Aku keluar kelas. Aku ingin sendiri. Tetapi bagaimana dengan Hyesun tadi, ya?

(pulang sekolah)

Ada apa dengan Hyesun? Selama pelajaran aku hanya dia diamkan. Apa dia marah? Tetapi apa salahku. Pikirku sambil memasukan buku dan alat tulisku ke dalam tas.

“Hyesun-ah, ayo kita pulang”, ajakku pada Hyesun, tetapi ia malah berlalu begitu saja di hadapanku.

“Ayo pulang Sunhee-ya!”, ucapnya pada Sunhee.

“Tapi Yesung..?”, tanya Sunhee.

“Biar!”, balas Hyesun cuek. Hei, apa salahku? Lalu mereka meninggalkanku. Hari ini aku harus pulang sendiri.
#Yesung’s POV end

(keesokan hari)

#Hyesun’s POV
“Hyesun-ah, kau ada acara nanti malam?”, tanya Yesung. Tetapi aku mendiamkannya. “Hyesun, ada apa denganmu?”, tanyanya lagi.

“Gwaenchana”, balasku dan tetap fokus pada buku yang kubaca.

“Annyeong Haseyo”, sapa songsaengnim. “Oke langsung saja, kalian saya beri tugas membuat makalah bebas satu makalah dikerjakan 2 orang, kalian pilih pasangan kalian sendiri. Saya keluar dulu”, lanjutnya dan keluar.

“Hyesun, denganku yok!”, ajak Yesung padaku.

“Sunhee kita berdua ya!”, ucapku pada Sunhee

“Oh, ne.”, jawab Sunhee.

“Hei! Aku bicara padamu”, protes Yesung.

“Oh iyakah?”, balasku.

Aku benar-benar masih kesal padanya, jadi kuputuskan untuk menjauhinya dulu.

(pulang sekolah)

“Hyesun, aku ingin bicara”, ucap Yesung.

“Apa? Bicarakan saja!”, ucapku sambil memasukan buku-bukuku.

“Jangan disini”, pintanya.

“Sudah bicarakan disini saja!”, ucapku yang bersiap untuk pulang.

“Baik. SARANGHAE HYESUN-AH! Jangan diamkan aku seperti ini!”, teriak Yesung yang membuat seluruh kelas menatap kami. Apa maunya, sih?

“Eh,? Aku tak percaya”, ucapku dan mulai berjalan.

“Wae?”

“Kau tak perlu tau”, ucapku.

Yesung menarikku keluar. Sampai di luar kelas ia melepaskanku dan berbalik menatapku. Dia memegang bahuku dan mendorongku ke dinding *woi! No Nc kekerasan!*.

“Saranghae, kenapa kau tak percaya”, ucapnya.

Aku mendorongnya. “Setelah kau memeluk orang lain di hadapanku, kau mengatakan cinta padaku?”, tanyaku.”Oh jadi itu masalahnya?”, tanyanya, ia kembali mendorongku ke dinding. “Kau salah paham, chagi”, ucapnya dengan nada menggoda.

“Apa maksudmu?”, tanyaku. Jujur aku tak terbiasa dengan kondisi seperti ini. Dia terlalu dekat denganku, yang membuat jantungku seperti ingin lepas.

“Aku ingin menolaknya, jadi aku memeluknya lebih dulu. Kau pikir aku tega menolak yeoja?”, jelasnya yang membuatku terdiam. Jadi aku salah paham? “Sekarang kau percaya, kan? Tapi itu tak penting. Aku hanya memerlukan jawabanmu”, lanjutnya.

“Jadi kau ingin tau jawabanku?”, ucapku, dengan nada menggoda dan mendorongnya hingga dia terhimpit ke tiang. Aku berjinjit.

‘chuup’, aku mencium bibirnya sekilas, “Nado saranghae”, ucapku sambil berlari meninggalkannya.

“Hei kau! Lihat ya, akan ku balas nanti! Hyesun-ah, tunggu!”



-the end-

Best Friend Forever part1



#Hankyung’s POV

“Kau tau yeoja yang ada di foto ini? Dia pacarku lo…”, ucap Donghae, sambil memamerkan sebuah foto di dompetnya.

“Aku tak kaget”, balas Eunhyuk.

“Berarti pacarmu ada, em.. satu, dua …. …. Tiga belas?”, tebak siwon dengan ekspresi tidak percaya.


Perlahan ku alihkan pandanganku pada temanku yang lain.
“Jangan menggangguku, hyung, nanti aku kalah.”, ucap Kyuhyun yang berusaha menghindar dari gangguan Kangin.

“Kan kau juga yang kalah, wee..”, jawab Kangin, “Ayo Heechul hyung kita ganggu lagi dia.”, sambungnya.

“Ayo, ini balasan untukmu magnae menyebalkan!”, ucap Heechul hyung.


Aku mengalihkan lagi pandanganku pada temanku yang lain.
“Jika ada teman di kelasku yang keterlaluan, aku akan membunuhnya.”, ucap Yesung.

“Itu sih terlalu hyung.”, balas Shindong.

“Bagaimana denganmu, Kibum-ya?”, Tanya Yesung.

“Akan ku diamkan.”, jawab Kibum tenang.


Aku melihat Ryeowook dan Sungmin di dekatku yang masih terlihat sibuk dengan aktivitas mereka.
“Jika kau ingin membuat untuk lima porsi, kau harus menambahkan airnya lagi, hyung.”, ucap Ryeowook.

“Oh, begitu, baiklah. Setelah ini apalagi, Wookie-ya?”, Tanya Sungmin sambil menambahkan air ke masakkannya.


“Kau tidak bergabung dengan mereka, Hankyung-ah?”, seseorang mengagetkan ku.

“Ani hyung, aku sedang ingin memperhatikan mereka”, jawabku padanya, Leeteuk hyung.

“Baiklah”, balasnya dan ia menghampiri Sungmin dan Ryeowook. “Ada yang bisa ku bantu?”, tanyanya.

“Bisa kau ambilkan garam di dapur, hyung?”, pinta Ryeowook.

“Baiklah.”, jawab Leeteuk hyung.


Ya, inilah kami. 13 namja yang bersahabat sejak 7 tahun yang lalu karena rumah kami yang berdekatan. Usia kami hanya terpaut beberapa hari. Dan Leeteuk hyung, ia adalah yang tertua di sini, jadi kami menganggapnya sebagai leader.

Sekarang kami sedang berada di apartemen yang kami sewa, kami memutuskan menyewanya dan tinggal bersama beberapa saat yang lalu. Karena rumah kami terlalu jauh dari sekolah kami yang baru.


‘Every single day I try ….’, terdengar handphone Donghae berbunyi. Kami pun menalihkan pandangan padanya.

“Yeoboseo”, ucapnya. “Ne? Jinjja? Oh, hahaha. Ne, arasseo, kamsahamnida.”

“Dari siapa Donghae-ya?”, Tanya Leeteuk.

“Kenapa kau terlihat senang begitu?”, Tanya Siwon.

“Kalian masih ingat kan permintaan kita ke sekolah beberapa hari yang lalu?”, Tanya Donghae.

“Eh, maksudmu yang mana?”, Tanya Shindong. “Memperbaiki ekstra kurikuler musik, eh?”, tebaknya.

“Ya, tepat. Kepala sekolah memberi kita kesempatan untuk memperbaikinya. Dan jika kita berhasil menarik minat banyak orang ia akan mengajak kita berlibur ke pulau jeju.”, ucap Donghae senang.

“JINJJA???”, Tanya mereka bersamaan, kecuali aku dan Kibum tentunya. Berlibur ke pulau jeju? Menarik sekali.

“Jeongmal, hahaha, tetapi aku lah yang ditunjuk sebagai Leader-nya?”, ucap Donghae.

“Hah? Apa tidak bisa diadakan voting di sekolah untuk memilihnya? Masa Lee Donghae leader kita?”, gerutu Heechul hyung.

“Diadakan voting pun pasti Donghae yang menang, hyung. Pacarnya saja sudah belasan.”, jelas Siwon. Hahaha benar sekali ucapannya.

“Aish, benar juga ya.”, ucap Heechul hyung.

“Biarlah Donghae yang menjadi leader nantinya. Yang penting kita kan mengurusnya bersama.”, ucap Leeteuk hyung.

“Aku setuju”, aku memberi persetujuan pada ucapan Leeteuk hyung. Asalakan kita selalu bersama, tak apa kan?

“Hey. Kita kan juga belum tentu menjadi pengurus tetap ekskul musik, yang perlu kita pikirkan sekarang adalah bagaimana menarik minat orang-orang.”, Sungmin mulai ikut bicara.

“Hahaha, Sungmin benar. Kalian saja, belum juga apa-apa sudah memikirkan hal itu.”, ucap Kangin. Hm, benar juga.

“Apa rencanamu, Kibum-ya? Kyuhyun-ah?”, Tanya Leeteuk.

“Bagaimana jika kita membuat konsep baru?”, usul Donghae.

“Itu pasti. Tetapi bagaimana caranya LEE DONGHAE?”, Tanya Eunhyuk.

“Bagaimana jika kita membuat konsep Boyband atau Girlband, selain bernyanyi kita juga menari? Menarik bukan?”, usul Kyuhyun.

“Setuju!!!”, ucap kami serentak.

#Hankyung’s POV end


-esok hari-


“AYOOOOO SEMUA BANGUN!!!!” teriak Heechul, alarm hidup di apartemen mereka. Dan ia berteriak tepat di depan ke-enam kamar 13 namja itu. Satu per satu para penghuni kamar itu pun keluar. “Satu, dua, tiga, empat …… …….”, Heechul menghitung teman-temannya yang telah keluar. “Sebelas? Eh, Hankyung mana?”, tanyanya setelah menghitung.

“Sudahlah, Hankyung pasti tak jauh dari sini. Ayo semua cepat mandi.”, koor Leeteuk pada temannya. Yang lain pun segera menuju kamar mandi di dekat dapur.

“Jadwal hari ini Kangin yang mandi pertama, Kibum kedua, Yesung ketiga lalu .. ”, dalam perjalanan menuju(?) kamar mandi itu Heechul membagi urutannya. “Siwon keempat, Leeteuk kelima …..”.

“Hankyung hyung? Apa yang kau lakukan di sini?”, Yesung memotong pemberitahuan Heechul karena menemukan Hankyung di dapur. Yang lain pun menunjukan tatapan ingin tahunya pada Hankyung.

“Kalian sudah bangun? Aku sedang memasak kimchi untuk perayaan kita”, jawab Hankyung tenang.

“Perayaan apa?”, Tanya Donghae.

“Kenapa kau memasak pagi sekali?” Ucap Leeteuk.

“Benar, hari ini hari libur bukan? Kenapa  harus pagi-pagi?” sambung Eunhyuk.

“Kenapa kau tak meminta bantuan kami?”, Tanya Ryeowook.

Beruntun pertanyaan yang mereka berikan pada Hankyung. “Perayaan karena kita diberikan kesempatan memperbaiki ekskul musik. Jawaban untuk yang lain(?) aku hanya ingin saja.”, jawabnya tenang sambil melanjutkan kegiatannya.

Setelah diberi penjelasan oleh Hankyung, mereka mulai mengantri mandi, sesuai dengan urutan yang dikatakan Heechul.



Sekitar 50 menit barulah ke-13 namja itu selesai. Mereka pun duduk di meja makan untuk sarapan.

“Kau sudah mandi, hyung?”, Tanya Kibum pada Hankyung.

“Ne, tadi aku bangun jam 5 dan langsung mandi. Waeyo? Kau meragukan penampilanku?”, jawab Hankyung sambil menyiapkan makanan ke piring mereka masing-masing.

“Hahahaha, ani.” Jawab Kibum, dan mulai memakan makanannya.

“Hm, enak sekali masakanmu kali ini hyung.”, puji Ryeowook.

“Benar, aku belum pernah memakan makanan selezat ini.”, sambung Sungmin.

“Gomawo.”balas Hanyung.

“Kita ke mana hari ini?”, Tanya Kyuhyun sambil tetap memakan makanannya.

“Mini market seberang, aku ingin membeli sesuatu.”, jawab Eunhyuk.

“Apa yang ingin kau beli? DVD yadong tak ada di sana.” Ucap Donghae.

“Bukan itu babo!”, jawab Eunhyuk pada ucapan Donghae dan diikuti tawa semua orang.

“Setelah itu bagaimana kalau kita pergi ke magic kafe, sudah lama kita tidak ke sana.” Usul Leeteuk.

“Setuju, lalu kita pergi ke taman bermain”, sambung Shindong.

“Buat apa kita ke sana, hyung?” Tanya Siwon

“Mengenang masa lalu, hehehe”, jawab Shindong.

“Tidak buruk juga. Setelah makan kita bersiap-siap.”, ucap Heechul dan di jawab anggukan semua orang, kecuali Hankyung, tetapi mereka tidak menyadarinya.
Setalah selesai makan dan bersiap-siap, mereka mulai menjalankan rencana mereka.

“Hankyung? Hankyung mana? dia kok tidak ada?”, Tanya Leeteuk.

“Aku tak ikut”, jawab Hankyung yang tiba-tiba mucul di belakang mereka.

“Waeyo?”, Tanya Heechul.

“Aku malas saja.”, Jawabnya dan meninggalkan mereka yang masih bingung dengan jawabannya.

“Apa tak apa kita meninggalkan Hankyung hyung?” Tanya Yesung pada Leeteuk.

“Ku rasa tak apa. Dia sudah besar, tidak mungkin hilang.”, jawab Heechul santai dan mulai keluar, diikuti yang lain.


Sementara itu, Hanyung hanya duduk terdiam di ruang tengah.
“Ada apa ini. Kenapa aku bias merasa sepusing ini?”, tanyanya pada dirinya sendiri. Ia pun tak menghiraukan rasa pusingnya itu. Ia mengambil sebuah album foto yang tertata rapi di pojok ruangan itu.

Ia membuka setiap lembaran album itu. Dan setelah menemukan sebuah foto, ia merasa aneh pada dirinya.
“Ini foto sewaktu apa?” tanyanya lagi pada dirinya. Ia berusaha mengingatnya, tetapi nihil, ia sama sekali tak ingat apa pun tentang foto itu. Tak terasa darah mengalir darihidungnya. “Omo!”, ucapnya.

“Hyung? Kau kenapa?”, teriak seseorang yang terlihat khawatir pada Hankyung, ia mencari-cari tisu di ruangan itu dan memberikannya pada Hankyung.

“Gomawo.”, ucap Hankyung setelah menerima tisu itu. “Kenapa kau ada di sini Kibum-ya?”. Tanya Hankyung pada Kibum.

“Dompetku tertinggal di ruang tamu, aku ingin mencarimu tadinya, menawarimu ikut kami. Gwaenchanayo?”, Tanya Kibum.

“Ani, gwaenchana. Aku hanya kelelahan”, jawab Hankyung.

“Apa tak apa kau di sini sendiri, hyung? Kau mau ikut? Atau perlu kutemani?”, tanyanya lagi.

“Tidak, kau tak perlu khawatir”, ucap Hankyung.

“Baiklah.” Ucap Kibum, walaupun dia berkata seperti itu, sebenarnya rasa khawatir masih menyertainya. Ia berbalik dan mulai meninggalkan Hankyung.

“Kibum-ya?”, panggil Hankyung.

“Ne?”, Kibum berbalik.

“Tolong jangan beritahu yang lain masalah ini”, pinta Hankyung.

“Oh, ne. kau bias mempercayaiki, hyung”, jawab Kibum. Dan ia keluar dari ruangan itu.


-malam hari-

“Apa yang dilakukan Hanyung ya?”, Tanya Yesung.

“Entahlah, mungkin ia memasak makanan yang lezat”, jawab Shindong sambil memikirkan sebuah makanan.

“Ayo kita masuk!”, suruh Leeteuk pada semua dongsaengnya, ia pun membuka pintu. Ke-12 namja itu masuk dengan tertib (?) dan beberapa dari mereka mencari Hankyung.

“Hankyung-ah. Kau di mana?”, panggil Heechul.

“Apa yang kau lakukan di sini, Hyung?” Teriak Donghae ketika mendapati Hankyung kamarnya. Setelah mendengar teriakan itu yang lain mendatanginya.

“Eh, aku, aku em, membuat ini” jawab Hankyung yang sepertinya agak kaget dan ia menunjukkan selembaran kertas.