Sabtu, 05 Juli 2014

Cerpen 2011 – My Love

warning : setelah membaca cerita ini anda bisa pusing, mual, diare atau serangan jantung

cast :
Yesung suju
Kim Hye Sun (OC)
Lee Sun Hee (OC)
Donghae suju
Kyuhyun suju
Park Sae Rin (OC)

Genre : romance, .. (gak tau deh, terserah reader)

xXxXx

#Hye Sun’s POV
Aku berlari menuju ke sekolah karena aku terlambat. Setelah sampai aku cukup bingung, mengapa sekolah sepi? Di kelaspun hanya ada beberapa orang, ‘aneh’ batinku.

Aku melihat kearah jam di kelas, dan itu membuatku kaget. Jam masih menunjukan pukul 7. ‘pantas saja masih sepi.. Huh jamku terlalu cepat’ pikirku.

“Annyeong Hyesun-sshi!”, sapa seseorang yang membuatku cukup terkejut. Akupun menoleh.

“Eh, An-annyeong Kyuhyun-sshi”, balasku.

“Kok melamun depan jam?”, tanyanya

“Em, tidak kok.. Aku hanya bingung, kenapa masih sepi.”, jawabku jujur yang membuat dia tertawa.

“Hahaha.. Kamu saja yang aneh, mana ada orang yang mau berangkat sepagi ini”, haaa? Aneh, dia bilang aku aneh? Lalu dia meninggalkanku menuju kursinya. Dasar, Kyuhyun maniak game yang menyebalkan!

“Hyesun-ah.. Kenapa kau meninggalkanku?”, teriak seseorang dibelakangku, Sunhee, teman sebangkuku

“Mian, jamku bermasalah”, jawabku. Akupun duduk di kursiku, disusul Sunhee di sampingku.

“Hyesun-ah, SARANGHAE”. Suara seseorang dari luar. Aigoo.. Suara itu?

Aku langsung berlari keluar kelas, meninggalkan Sunhee, mencoba menghindar dari orang yang mengatakan itu tadi. Kenapa harus keluar kelas? Kenapa tidak sembunyi saja dalam kelas? *entahlah author juga gak tau*

Aku melewati orang tadi. “Hyesun-sshi, saranghae”, teriaknya lagi. Tak ku sangka ternyata dia juga mengejarku. Aku menambah kecepatan lariku, tanpa memperhatikan jalan.

“Kenapa kau tak pernah mau menerimaku?”, ucapnya sambil terus berlari mengejarku. Aku tetap tak menghiraukan dia. Ya, memang sejak SMP dia selalu mengatakan cinta padaku, sampai sekarang SMA kelas 2 juga masih seperti itu. Aku juga selalu menolaknya, siapa juga yang mau dengan seorang Lee Donghae? Sudah penampilannya berantakan(?), suka membanggakan diri, playboy lagi. *digeplakfishy*

‘BRUUKK’
Karna tak terlalu memperhatikan jalan, tak terasa aku menabrak seseorang. “Mi-mianhamnida”, ucapku. Aku langsung membereskan buku-buku milik orang itu yang terjatuh. Akupun sadar akan sesuatu, Lee Donghae, ia telah ada dibelakangku.

Dan lagi-lagi ia mengucapkan, “Saranghae”.

Aku melihat orang yang kutabrak atau memperhatikan sejenak tepatnya. Dia namja yang cukup *sangat* tampan. Tanpa pikir panjang, aku berdiri dan meraih serta menggandeng tangan namja itu.

“Mian Donghae-sshi, aku telah menjadi miliknya, dia pacarku.”, teriakku pada Donghae, entah mengapa, mungkin aku sudah kesal padanya.

Donghae menatap kami dengan tatapan tak percaya, lalu dia meninggalkanku. Syukurlah.

Aku sadar dengan tatapan tak terima+tajam+aneh dari seseorang. Namja ini, perlahan aku melepaskan tangannya. Aku mengambil buku-buku miliknya yang telah kurapikan. Akupun memberikan buku-buku ini padanya. “Mianhamnida, tentang yang tadi, lupakanlah.. .. .. Mm, kamsahamnida”, ucapku.

Namja itu mengambil buku ditanganku dengan perlahan. Aku terus menatapnya sambil menunggu jawabannya. Tetapi setelah selesai mengambil buku dia langsung meninggalkanku.

Pabbo kau Hyesun. Dia marah, tapi akukan sudah minta maaf. Aku keterlaluan ya? Atau dia yang terlewat sombong?

Aku masuk kedalam kelas, mengikuti pelajaran. Aku tidak bisa fokus, memikirkan hal terbodoh yang ku lakukan tadi.

“Wae, Hyesun-ah? Terlihat gelisah sejak tadi”. Tanya Sunhee, selain teman sebangkuku dia juga sahabatku sejak sekolah dasar. “Bagaimana dengan Donghae tadi? Kau berhasil membuatnya tak lagi menyukaimu?”, tanyanya

Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal tentunya. Dan menceritakan kejadian tadi pada Sunhee.

“Hahahaha.. Pabboya! Hahaha”, tawanya pecah setelah mendengar ceritaku. Sahabat apa dia? Disaat aku sedang susah ia malah tertawa.

“Lalu aku harus bagaimana?”, tanyaku.

“Ah, kenapa juga kamu bisa melakukan ini pada orang yang belum kau kenal”, jawabnya, sambil mencoba menghentikan tawanya.

“Mm, rasanya aku ingin mati saja”, ucapku.

“Daripada terus berpikir, kita makan saja dulu, yuk. Aku sudah lapar.”, ajak Sunhee, aku mengikutinya, karena aku juga sudah lapar.

Sesampainya di kantin, aku memesan makanan dan membayarnya. Kantin terlihat penuh, untungnya masih ada satu meja yang kosong.

Kami duduk disana, dan memakan makanan kami. Tak lama aku merasa ada orang duduk di depan kami, memang meja ini berisi 4 kursi. Aku tak terlalu memperhatikannya.

“Annyeong Hyesun-sshi, Sunhee-ya. Aku duduk disini ya.”, kulihat Kyuhyun. Aku hanya tersenyum membalasnya, dan melanjutkan makanku.

“Silakan!”, jawab Sunhee.

“Aku juga ikut duduk disini ya”, kata seorang namja. Suara ini asing bagiku. Aku menoleh pada orang yang bersama Kyuhyun. Aigo.. Dia!

Aku langsung menghabiskan makananku tanpa banyak bicara.
#Hyesun’s POV End


#Author POV
Setelah menghabiskan makanannya, Hyesun langsung meninggalkan Sunhee,Kyuhyun, beserta teman Kyuhyun. Sunhee yang melihatnya pun langsung menghabiskan makanannya.

“Aku duluan ya!”, pamit Sunhee pada dua namja itu, yang dibalas anggukan oleh keduanya. Lalu diapun pergi meninggalkan kantin, menyusul Hyesun.

“Sebenarnya apa sih yang ada di pikiran yeoja itu?”, gumam Kyuhyun, sambil mengaduk minumannya.

“Molla.”, jawab temannya dengan malas.

“Ah, Yesung-ah, Lupakanlah masalah Sunhee dan Hyesun tadi”, ucap Kyuhyun.

“Jadi, yeoja yang pertama meninggalkan kita tadi namanya Hyesun?”, tebak temannya atau Yesung tepatnya *nah, akhirnya, suami author keluar juga name-nya*

“Ne, Waeyo?”, tanya Kyuhyun.

“Ah, ani. Gwaenchanayo”

“Ada yang ingin ku tanyakan, Yesung-ah.”, ucap Kyuhyun

“Apa? Tanyakan saja”, balas Yesung.

“Kan semenjak lulus dari sekolah dasar kau melanjutkan sekolah ke Amerika, tapi mengapa saat pertengahan SMA ini kau kembali ke Korea dan melanjutkan belajar ke sekolah Appa-mu?”, tanya Kyuhyun.

“Ah, itu. Itu karena Appa ingin aku lebih dekat dengannya.”, jawab Yesung.

“Oh, begitu. Tapi baguslah, karna itu aku jadi bisa bertemu kembali dengan sahabatku sejak kecil”, ucap Kyuhyun sambil tersenyum.

“Ne, jika kau ingin tau, kehidupanku disana tanpamu itu terasa ada yang kurang, *lebay oppa* Kyu”, ucap Yesung.

“Ne? Lalu kau ingin masuk kelas mana?”, tanya Kyuhyun.

“Inginnya, sih satu kelas denganmu!”

“Hm, ide yang bagus. Enak ya jadi anak pemilik sekolah ini, bisa memilih kelas mana saja”, ucap Kyuhyun.

“Kau bicara apa, sih?”

xXxXx

“Kau kenapa Hyesun-ah? Terlihat aneh sejak tadi”, ucap Sunhee yang melihat sahabatnya hanya diam sejak tadi.

“Kau melihat namja yang bersama Kyuhyun tadi, kan?”, tanya Hyesun.

“Ne, Wae?”

“Namja itu.. Namja yang kuakui sebagai pacarku di depang Donghae.”, jelas Hyesun.

“Mwo? Hahahaha.”, tawa Sunhee setelah mendengar penjelasan Hyesun.

“Hah, seperti perkiraanku, kau akan tertawa mendengarnya”, ucap Hyesun, lalu dia menumpukkan tangannya diatas meja, dan menenggelamkan kepalanya.

“Haha, mianhae”, ucap Sunhee yang mencoba menghentikan tawanya. “Tapi tunggu, sepertinya aku tau orang itu”.

Mendengar ucapan Sunhee Hyesun bangun dan menatap sahabatnya itu. “Ne? Di mana? Dia sebenarnya siapa?”, tanya Hyesun.

Terlihat Sunhee sedang berfikir sebentar. “Aku ingat. Kalau tidak salah aku pernah melihat fotonya di buku sejarah(?) Youngwoon-sshi, kepala sekolah kita.”,*keren amat kepsek pake dibuat sejarahnya* jelasnya.

“Jadi, dia anak Youngwoon-sshi?”, tanya Hyesun, tebaknya tepatnya. “Oh God, apalagi ini? Lalu aku harus bagaimana, jika dia menyuruh Youngwoon-sshi untuk mengeluarkanku karna telah mempermalukannya?”
#Author POV End

xXxXx

#Yesung’s POV
Ku letakkan tasku ke sebuah meja di kamarku ini, lalu ku baringkan tubuhku di atas ranjang, tanpa mengganti seragamku. Hari ini ada seorang yeoja yang bernama Hyesun masuk dalam hidupku. Saat pagi tadi dia menabrakku dan membuat buku yang ku bawa terjatuh, lalu dia mengakuiku sebagai pacarnya dihadapan seorang namja, tapi aku yakin pasti banyak yang mendengar. Lalu kami bertemu lagi di kantin. Hmm, yeoja itu cantik sih. Apalagi senyumannya tadi, saat memberikan bukuku yang terjatuh, sangat manis. Hei, kenapa aku jadi memikirkan yeoja itu? Apa aku menyukainya? Ah, jangan dulu Yesung, nanti ini dikira sebuah pelarian.

(keesokan hari)

“Umma, aku berangkat”, pamitku pada umma.

“Ne, jaga dirimu Jongwoon-ah.”, pesan umma.

“Ne Umma.”, lalu aku masuk kedalam mobil, di dalam mobil ada Appa yang menungguku.

“Kau ingin masuk kelas mana Jongwoon?”, tanya Appa sambil tetap fokus pada jalan.

“Satu kelas dengan Kyuhyun, Appa”, jawabku.

Setelah 20 menit dalam perjalanan, kamipun sampai.

“Selamat pagi Youngwoon-sshi, anda sudah ditunggu.”, ucap seseorang ketika kami keluar dari mobil.

“Baik, Jongwoon, masuklah dulu ke kelas Kyuhyun, nanti appa akan membicarakannya dengan wali kelas itu.”, ucap Appa lalu pergi meninggalkanku.

Aku memasuki halaman sekolah dan mencari kelas Kyuhyun yang pastinya aku tak tau di mana dan kelas apa. Dan bodohnya aku tak membawa ponsel.

Aku menanyai setiap kelas 2 yang ada di sekolah ini, tapi belum ada satu kelaspun yang mengatakan Cho Kyuhyun ada di kelasnya.

Sampai aku tiba di kelas 2-F, aku sedikit masuk agar orang disini bisa melihatku. Aku melihat ke dalam kelas ini dan … Aigo, Hyesun ada disini, dan hanya ada dia disini. Ku lihat dia cukup kaget melihatku. Karna tak ada pilihan lain akupun menanyainya.

“Apa em Cho Kyuhyun e ada di-di kelas ini?”, tanyaku sedikit gugup.

“N-ne dia di sini”, jawabnya si”Di mana, dia?”, tanyaku, tanpa menatapnya.

“Ke Game Center dekat sini, mungkin”, jawabnya.

Karena merasa tidak ada yang perlu kutanyakan lagi, kuputuskan untuk keluar dan menunggu Kyuhyun diluar.
#Yesung’s POV end


#Author POV
Tak lama setelah itu, siswa kelas 2-F pun kembali ke kelas mereka, setelah mereka bertanding game. Ya, mereka kembali karena merasa sudah saatnya pelajaran dimulai.

Langkah sang pemimpin rombongan atau raja game terhenti di depan kelasnya karena mendapati sahabatnya berdiri melamun. “Yesung-ah!”, tegurnya. Tetapi yang dipanggil masih memandang kosong depannya.

“YESUNG-AH!!”, teriak Kyuhyun akhirnya.

“Ne? Kenapa berteriak?”, tanya Yesung tanpa rasa bersalah.

“Hah.. Sudahlah. Kau tidak masuk?”, tanya Kyuhyun.

“Aku masih menunggu songsaengnim yang ingin masuk.”.

“Itu songsaengnimnya! Aku masuk duluan.”, pamit Kyuhyun dengan agak berlari masuk ke dalam kelas (evil takut ma guru ya? Kkk~)

“Khajja Jongwoon-sshi.”, ucap songsaengnim pada Yesung.

“Ne”.
#Author POV end


#Hyesun’s POV
“Annyeong.”, sapa songsaengnim yang membuyarkan lamunanku tentang namja itu. Jujur saja, saat ini aku sedang malas belajar. Aku melihat kearah songsaengnim dan… Namja itu?

“Saya membawa murid baru, silakan perkenalkan dirimu Jongwoon-sshi!”, ucap songsaengnim. Jadi, aku akan satu kelas dengannya?

“Annyeong haseyo, joneun Kim Jong Woon Imnida, tetapi, silakan panggil saya Yesung.”, mulai namja itu yang ternyata bernama Yesung.

“Silakan kau duduk bersama Kyuhyun-sshi, di samping meja Hyesun-sshi.”, ucap songsaengnim. Hah, dia duduk di sampingku lagi. Benar-benar memalukan.

Saat istirahat, aku ingin sendiri. Dan ternyata aku benar-benar sendiri, Sunhee malah benar-benar pergi, padahal sahabatnya sedang kesulitan sekarang.

Yesung sangat membuatku tidak konsentrasi, saat songsaengnim menjelaskan tadi aku merasa dia sedang memperhatikanku. Tetapi saat aku menatapnya dia langsung membuang muka. Apa dia sampai semarah itu, ya?

“Hoahmm”, ngantuk, itu yang kurasa, aku sangat lelah.

“Hyesun-ah! Aku tau dia hanya berpura-pura menjadi pacarmu”

Degh

Donghae? Dia lagi. Mengganggu saja! Semua masalahku muncul, kan gara-gara dia. Dia benar-benar membuatku menderita, aku sampai-sampai kehabisan kata-kata untuk menolaknya.

“Apa sih yang kau inginkan?”, ucapku akhirnya.

“Kau menjadi pacarku!”, balasnya cepat. Dasar namja keras kepala!

“Sudah jangan ganggu dia!”, baru saja aku ingin membuka mulutku tetapi ucapan seseorang membuatku mematung. Yesung? Sejak kapan dia masuk kelas? Apa dia tadi menguping? *bahasa apa ni?*

“Dia memang benar pacarku! Jangan ganggu dia lagi! Jika kau masih mengganggunya, kau akan merasakan akibatnya”, lanjutnya berbicara pada donghae dengan nada datar. Aku hanya bisa diam sambil memandang bingung namja ini.

Tanpa membalas ucapan Yesung, Donghae keluar. Setelah Donghae benar-benar keluar senyum yang sangat manis terukir(?) di wajah Yesung. Ada apa dengan namja ini?

Apa dia ingin balas dendam padaku? Atau dia tulus menolongku? Aku hanya diam dan terus menatapnya yang berjalan dan duduk di bangkunya. Diapun menatapku.

“Maaf dengan kata-kataku tadi.”, ucapnya.

“…ne”, balasku singkat, entah kenapa lidahku kaku.

“Jika kau keberatan dengan kejadian tadi, mungkin aku bisa pergi ke kelasnya dan menjelaskan ..”

“Ah, Ani. ANDWAE! Jangan, seharusnya aku ngengucapkan banyak terima kasih padamu”, potongku, jika ia mengatakan yang sebenarnya, habislah aku.

“Datanglah ke acara ulang tahunku nanti malam, aku ingin melihat kalian berpasangan!”, ucap seseorang tiba-tiba di tengah pembicaraan kami. Donghae. Hahh, apa dia mendengar pembicaraan kami tadi? Tanpa mengucapkan apa-apa lagi ia pergi.

Aku merasakan Yesung menatapku. “Jika kau memerlukanku, aku akan membantumu.”, tawarnya. Hah, eottokhae?
#Hyesun’s POV end

xXxXx

#Yesung’s POV
Malam ini aku akan pergi bersamanya. Aku menjemputnya di taman pukul 7 nanti.Kenapa aku bisa menawarkan diriku berpura-pura menjadi pacarnya, ya? Ataukah aku benar-benar telah menyukainya? Hahh, sudahlah, lebih baik aku tidur.


“Eumm… Hhh..”, sudah jam berapa ini? Aku melihat jam yang ada di kamarku. Jam 6.30. Lebih baik aku bersiap-siap.

Setelah selesai mandi, aku memakai kemeja putih dan celana hitam yang telah kusiapkan *jadi tai cicak ni oppa*. Sudah jam 7, aku harus berangkat.

“Umma, aku pergi”, pamitku pada umma, tanpa menunggu jawaban umma aku langsung masuk ke dalam mobil. Ku kendarai mobilku dengan kecepatan sedang.

Setelah sampai di taman, aku langsung mencari Hyesun. Saat sampai di sebuah kursi taman aku menemukannya. Aku tersenyum melihatnya, dia sangat cantik dengan gaun putih selutut yang ia pakai.
#Yesung’s POV end


#Hyesun’s POV
Dia datang, sangat tampan.*ialah, suamiku gtu* “Annyeong Hyesun-sshi!”, sapanya.

“An-annyeong”, jawabku agak “Ayo kita berangkat!”, ajaknya. Aku hanya mengangguk.

Aku masuk ke dalam mobilnya dan duduk di sampingnya, suasana hening. Cukup lama, aku hanya memperhatikan jalanan.

“Jika kau hanya diam, kita tak akan sampai lho!”, guraunya. Aigo, iya, aku lupa menunjukkan jalan.

“Em, sampai ujung jalan ini, belok ke kanan, rumahnya dekat jembatan.”, ucapku. Kulihat ia hanya mengangguk. “Yesung-sshi, kenapa kau mau menolongku?”, tanyaku.

“Hahaha, gwaenchana. Aku hanya kasihan melihatmu. Lalu aku menolongmu.”, jawabnya. Karna kasihan, ya? “Atau mungkin karna aku punya maksud lain”, lanjut Yesung yang membuatku bingung.

“Maksudmu?”

“Eh, ani. Lupakan saja!”, jawabnya sambil tertawa tidak jelas. Lalu suasana kembali hening.

Akhirnya kami sampai di rumah Donghae. Kami turun dan masuk ke dalam rumahnya. Ramai, tetapi hanya ada beberapa sahabat donghae, dan kurasa yeoja-yeoja disini adalah mantan kekasihnya.

Aku menatap Yesung, dan ia mengangguk. Kami berjalan kearah Donghae yang berada di samping meja dan di kerumuni oleh beberapa yeoja. Kulihat Donghae melihatku, aku langsung mendekatinya bersama Yesung dibelakangku.

“Saengil Cukkhae hamnida Donghae-sshi.”, ucapku sambil menyerahkan kado yang kubawa *nah, kadonya muncul dari mana?*

“Cukkhae!”, ucap Yesung.

Donghae menerima kado dariku. “Gomawo”, ucapnya. Tanpa persetujuanku, Yesung menggenggam tanganku erat, sambil tersenyum aneh sendiri.

“Kami langsung pulang ya! Masih ada acara.”, pamitku pada Donghae.

“Ne, gomawo sudah datang”, ucapnya singkat.

Kamipun keluar dari sana, dan langsung masuk ke dalam mobil. Di jalan kami bercerita cukup banyak, tetapi hanya tentang sekolah. Yesung juga mengantarku sampai rumah.

xXxXx

Setelah kejadian malam itu kami menjadi lebih dekat. Yang lain sering pergi ke game center untuk melihat raja game itu bermain, dan hanya menyisakan kami di kelas saat istirahat, kami bercerita tentang kehidupan kami. Aku merasa jika aku telah menyukai Yesung. Dan berkat Yesung juga, sekarang Donghae tidak lagi menggangguku.

“Hyesun-ah, kenapa melamun? Sedang memikirkan Yesung, ya?”, gurau Sunhee yang baru duduk di bangkunya.

“Ah, ani!”, jawabku.

“Kau suka pada Yesung kan?”, tebak Sunhee. “Hayo! Mengaku saja! Kau sudah ketahuan oleh ku!”, lanjutnya.

“Sunhee-ya!”, teriakku.

‘teng.. teng..’, bel sekolah berbunyi, akupun menyudahi perdebatanku dengan Sunhee.

Aku sadar dengan sesuatu. “Kyuhyun-sshi, di mana Yesung-ah?”, tanyaku pada Kyuhyun, karna sampai saat ini Yesung juga belum datang. Padahal biasanya dia berangkat pagi sekali.

“Molla!”, jawab Kyuhyun yang hanya fokus dengan PSPnya.

Songsaengnimpun masuk kelas, Yesung juga belum datang, hei, ada yeoja di belakang songsaengnim. Murid baru ya?

“Annyeong”, sapa songsaengnim. “Hari ini saya membawa murid baru. Silakan perkenalkan dirimu.”, lanjutnya.

‘tok.. tok..’, seseorang mengetuk pintu kelas, Yesung, dia baru datang. Tetapi kenapa dia hanya diam di depan pintu? Memandang syok ke arah murid baru itu lagi.
#Hyesun’s POV end

#Yesung’s POV
Dia..
“Silakan masuk Jongwoon-sshi”, ucap songsaengnim. Akupun masuk dengan menunduk. Oh, padahal aku sudah hampir melupakannya.

“Annyeong haseyo, Joneun Park Sae Rin imnida”, mulainya. Saerin, kenapa kau datang lagi disaat aku telah melupakanmu. Memang kurasa aku telah menyukai Hyesun, setelah aku melupakan sakit hatiku karna Saerin, karna dia telah menolakku.

“Saerin-sshi, duduklah di bangku kosong di belakang Yesung-sshi”, ucap songsaengnim. Saerin berjalan dengan senyumannya yang dulu membuat hatiku luluh, tapi kurasa senyumnya telah tertutupi oleh senyuman Hyesun. Aku merasa Hyesun memandangiku dengan tatapan penuh tanya. Aku hanya bisa menunduk.

Aku tak fokus dengan pelajaran kali ini. Aku berdebat di fikiranku, memilih dan membandingkan Hyesun dan Saerin. Saat istirahat yang lain kembali pergi ke game center. Kali ini tersisa aku, Hyesun dan Saerin. Suasana hening.

“Oppa, akhirnya kita bertemu kembali”, ucap Saerin, memecahkan keheningan.

“..n-ne”, jawabku singkat. Kulihat Hyesun terlihat kaget dengan pembicaraan singkat kami. Akhirnya Hyesun keluar kelas meninggalkan kami.
#Yesung’s POV end


#Hyesun’s POV
Saerin. Siapa dia? Kenapa dia memanggil Yesung ‘oppa’? Apa mereka saling mengenal? Lalu apa hubungan mereka? Hah! Aku memilih keluar untuk menenangkan fikiranku. Aku merasa kacau bersama mereka. Sejak tadi aku hanya menebak apa hubungan mereka.

Ya, aku memang menyukai Yesung. Mencintainya tepatnya. Jadi, aku agak sakit melihat mereka tadi. Tetapi aku kan tak boleh berburuk sangka pada Yesung, aku harus mencari tau dulu. Kuputuskan aku masuk kelas lagi.

Aku berjalan perlahan ke arah kelas, setelah sampai di depan pintu, kuputuskan untuk berhenti dan melihat mereka dari sini.

Kulihat Saerin berjalan ke depan meja Yesung dan menatap Yesung yang masih menunduk. “Yesung oppa, saranghae. Mian, dulu aku telah menolakmu, sekarang aku sadar, aku tak bisa hidup tanpamu. Jadi aku jauh-jauh pindah dari Amerika hanya untuk mencarimu Oppa”, aigo, jadi Saerin pernah menolak Yesung? Aku sangat kaget mendengarnya, tubuhku menjadi lemas, aku gugup dan takut menunggu jawaban dari Yesung.

Yesung mengangkat kepalanya dan menatap Saerin datar.

“Saranghae, jeongmal saranghaeyo, oppa”, ulang Saerin, mereka tidak menyadari aku memperhatikan mereka disini, tetapi aku bisa memperhatikan mereka dengan jelas.

Yesung berdiri dan… Memeluk Saerin.

Aigo.. Aku langsung berlari meninggalkan mereka. Hatiku sangat sakit. Babo kau Yesung-ah! Seharusnya kau tak perlu berbuat sebaik itu padaku agar aku tak menyukaimu jika akhirnya aku yang tersakiti! Babo kau Yesung! Aku kecewa padamu!
#Hyesun’s POV end


#Yesung’s POV
Aku memeluknya, tetapi nihil, aku tak bisa menemukan rasa itu. Aku sudah tak mencintainya. Aku melepaskannya.

“Eottokhae, oppa?”, tanya Saerin.

“Mianhae, aku tak bisa. Aku sudah tak mencintaimu”, jawabku dan pergi meninggalkannya. Aku keluar kelas. Aku ingin sendiri. Tetapi bagaimana dengan Hyesun tadi, ya?

(pulang sekolah)

Ada apa dengan Hyesun? Selama pelajaran aku hanya dia diamkan. Apa dia marah? Tetapi apa salahku. Pikirku sambil memasukan buku dan alat tulisku ke dalam tas.

“Hyesun-ah, ayo kita pulang”, ajakku pada Hyesun, tetapi ia malah berlalu begitu saja di hadapanku.

“Ayo pulang Sunhee-ya!”, ucapnya pada Sunhee.

“Tapi Yesung..?”, tanya Sunhee.

“Biar!”, balas Hyesun cuek. Hei, apa salahku? Lalu mereka meninggalkanku. Hari ini aku harus pulang sendiri.
#Yesung’s POV end

(keesokan hari)

#Hyesun’s POV
“Hyesun-ah, kau ada acara nanti malam?”, tanya Yesung. Tetapi aku mendiamkannya. “Hyesun, ada apa denganmu?”, tanyanya lagi.

“Gwaenchana”, balasku dan tetap fokus pada buku yang kubaca.

“Annyeong Haseyo”, sapa songsaengnim. “Oke langsung saja, kalian saya beri tugas membuat makalah bebas satu makalah dikerjakan 2 orang, kalian pilih pasangan kalian sendiri. Saya keluar dulu”, lanjutnya dan keluar.

“Hyesun, denganku yok!”, ajak Yesung padaku.

“Sunhee kita berdua ya!”, ucapku pada Sunhee

“Oh, ne.”, jawab Sunhee.

“Hei! Aku bicara padamu”, protes Yesung.

“Oh iyakah?”, balasku.

Aku benar-benar masih kesal padanya, jadi kuputuskan untuk menjauhinya dulu.

(pulang sekolah)

“Hyesun, aku ingin bicara”, ucap Yesung.

“Apa? Bicarakan saja!”, ucapku sambil memasukan buku-bukuku.

“Jangan disini”, pintanya.

“Sudah bicarakan disini saja!”, ucapku yang bersiap untuk pulang.

“Baik. SARANGHAE HYESUN-AH! Jangan diamkan aku seperti ini!”, teriak Yesung yang membuat seluruh kelas menatap kami. Apa maunya, sih?

“Eh,? Aku tak percaya”, ucapku dan mulai berjalan.

“Wae?”

“Kau tak perlu tau”, ucapku.

Yesung menarikku keluar. Sampai di luar kelas ia melepaskanku dan berbalik menatapku. Dia memegang bahuku dan mendorongku ke dinding *woi! No Nc kekerasan!*.

“Saranghae, kenapa kau tak percaya”, ucapnya.

Aku mendorongnya. “Setelah kau memeluk orang lain di hadapanku, kau mengatakan cinta padaku?”, tanyaku.”Oh jadi itu masalahnya?”, tanyanya, ia kembali mendorongku ke dinding. “Kau salah paham, chagi”, ucapnya dengan nada menggoda.

“Apa maksudmu?”, tanyaku. Jujur aku tak terbiasa dengan kondisi seperti ini. Dia terlalu dekat denganku, yang membuat jantungku seperti ingin lepas.

“Aku ingin menolaknya, jadi aku memeluknya lebih dulu. Kau pikir aku tega menolak yeoja?”, jelasnya yang membuatku terdiam. Jadi aku salah paham? “Sekarang kau percaya, kan? Tapi itu tak penting. Aku hanya memerlukan jawabanmu”, lanjutnya.

“Jadi kau ingin tau jawabanku?”, ucapku, dengan nada menggoda dan mendorongnya hingga dia terhimpit ke tiang. Aku berjinjit.

‘chuup’, aku mencium bibirnya sekilas, “Nado saranghae”, ucapku sambil berlari meninggalkannya.

“Hei kau! Lihat ya, akan ku balas nanti! Hyesun-ah, tunggu!”



-the end-

Best Friend Forever part1



#Hankyung’s POV

“Kau tau yeoja yang ada di foto ini? Dia pacarku lo…”, ucap Donghae, sambil memamerkan sebuah foto di dompetnya.

“Aku tak kaget”, balas Eunhyuk.

“Berarti pacarmu ada, em.. satu, dua …. …. Tiga belas?”, tebak siwon dengan ekspresi tidak percaya.


Perlahan ku alihkan pandanganku pada temanku yang lain.
“Jangan menggangguku, hyung, nanti aku kalah.”, ucap Kyuhyun yang berusaha menghindar dari gangguan Kangin.

“Kan kau juga yang kalah, wee..”, jawab Kangin, “Ayo Heechul hyung kita ganggu lagi dia.”, sambungnya.

“Ayo, ini balasan untukmu magnae menyebalkan!”, ucap Heechul hyung.


Aku mengalihkan lagi pandanganku pada temanku yang lain.
“Jika ada teman di kelasku yang keterlaluan, aku akan membunuhnya.”, ucap Yesung.

“Itu sih terlalu hyung.”, balas Shindong.

“Bagaimana denganmu, Kibum-ya?”, Tanya Yesung.

“Akan ku diamkan.”, jawab Kibum tenang.


Aku melihat Ryeowook dan Sungmin di dekatku yang masih terlihat sibuk dengan aktivitas mereka.
“Jika kau ingin membuat untuk lima porsi, kau harus menambahkan airnya lagi, hyung.”, ucap Ryeowook.

“Oh, begitu, baiklah. Setelah ini apalagi, Wookie-ya?”, Tanya Sungmin sambil menambahkan air ke masakkannya.


“Kau tidak bergabung dengan mereka, Hankyung-ah?”, seseorang mengagetkan ku.

“Ani hyung, aku sedang ingin memperhatikan mereka”, jawabku padanya, Leeteuk hyung.

“Baiklah”, balasnya dan ia menghampiri Sungmin dan Ryeowook. “Ada yang bisa ku bantu?”, tanyanya.

“Bisa kau ambilkan garam di dapur, hyung?”, pinta Ryeowook.

“Baiklah.”, jawab Leeteuk hyung.


Ya, inilah kami. 13 namja yang bersahabat sejak 7 tahun yang lalu karena rumah kami yang berdekatan. Usia kami hanya terpaut beberapa hari. Dan Leeteuk hyung, ia adalah yang tertua di sini, jadi kami menganggapnya sebagai leader.

Sekarang kami sedang berada di apartemen yang kami sewa, kami memutuskan menyewanya dan tinggal bersama beberapa saat yang lalu. Karena rumah kami terlalu jauh dari sekolah kami yang baru.


‘Every single day I try ….’, terdengar handphone Donghae berbunyi. Kami pun menalihkan pandangan padanya.

“Yeoboseo”, ucapnya. “Ne? Jinjja? Oh, hahaha. Ne, arasseo, kamsahamnida.”

“Dari siapa Donghae-ya?”, Tanya Leeteuk.

“Kenapa kau terlihat senang begitu?”, Tanya Siwon.

“Kalian masih ingat kan permintaan kita ke sekolah beberapa hari yang lalu?”, Tanya Donghae.

“Eh, maksudmu yang mana?”, Tanya Shindong. “Memperbaiki ekstra kurikuler musik, eh?”, tebaknya.

“Ya, tepat. Kepala sekolah memberi kita kesempatan untuk memperbaikinya. Dan jika kita berhasil menarik minat banyak orang ia akan mengajak kita berlibur ke pulau jeju.”, ucap Donghae senang.

“JINJJA???”, Tanya mereka bersamaan, kecuali aku dan Kibum tentunya. Berlibur ke pulau jeju? Menarik sekali.

“Jeongmal, hahaha, tetapi aku lah yang ditunjuk sebagai Leader-nya?”, ucap Donghae.

“Hah? Apa tidak bisa diadakan voting di sekolah untuk memilihnya? Masa Lee Donghae leader kita?”, gerutu Heechul hyung.

“Diadakan voting pun pasti Donghae yang menang, hyung. Pacarnya saja sudah belasan.”, jelas Siwon. Hahaha benar sekali ucapannya.

“Aish, benar juga ya.”, ucap Heechul hyung.

“Biarlah Donghae yang menjadi leader nantinya. Yang penting kita kan mengurusnya bersama.”, ucap Leeteuk hyung.

“Aku setuju”, aku memberi persetujuan pada ucapan Leeteuk hyung. Asalakan kita selalu bersama, tak apa kan?

“Hey. Kita kan juga belum tentu menjadi pengurus tetap ekskul musik, yang perlu kita pikirkan sekarang adalah bagaimana menarik minat orang-orang.”, Sungmin mulai ikut bicara.

“Hahaha, Sungmin benar. Kalian saja, belum juga apa-apa sudah memikirkan hal itu.”, ucap Kangin. Hm, benar juga.

“Apa rencanamu, Kibum-ya? Kyuhyun-ah?”, Tanya Leeteuk.

“Bagaimana jika kita membuat konsep baru?”, usul Donghae.

“Itu pasti. Tetapi bagaimana caranya LEE DONGHAE?”, Tanya Eunhyuk.

“Bagaimana jika kita membuat konsep Boyband atau Girlband, selain bernyanyi kita juga menari? Menarik bukan?”, usul Kyuhyun.

“Setuju!!!”, ucap kami serentak.

#Hankyung’s POV end


-esok hari-


“AYOOOOO SEMUA BANGUN!!!!” teriak Heechul, alarm hidup di apartemen mereka. Dan ia berteriak tepat di depan ke-enam kamar 13 namja itu. Satu per satu para penghuni kamar itu pun keluar. “Satu, dua, tiga, empat …… …….”, Heechul menghitung teman-temannya yang telah keluar. “Sebelas? Eh, Hankyung mana?”, tanyanya setelah menghitung.

“Sudahlah, Hankyung pasti tak jauh dari sini. Ayo semua cepat mandi.”, koor Leeteuk pada temannya. Yang lain pun segera menuju kamar mandi di dekat dapur.

“Jadwal hari ini Kangin yang mandi pertama, Kibum kedua, Yesung ketiga lalu .. ”, dalam perjalanan menuju(?) kamar mandi itu Heechul membagi urutannya. “Siwon keempat, Leeteuk kelima …..”.

“Hankyung hyung? Apa yang kau lakukan di sini?”, Yesung memotong pemberitahuan Heechul karena menemukan Hankyung di dapur. Yang lain pun menunjukan tatapan ingin tahunya pada Hankyung.

“Kalian sudah bangun? Aku sedang memasak kimchi untuk perayaan kita”, jawab Hankyung tenang.

“Perayaan apa?”, Tanya Donghae.

“Kenapa kau memasak pagi sekali?” Ucap Leeteuk.

“Benar, hari ini hari libur bukan? Kenapa  harus pagi-pagi?” sambung Eunhyuk.

“Kenapa kau tak meminta bantuan kami?”, Tanya Ryeowook.

Beruntun pertanyaan yang mereka berikan pada Hankyung. “Perayaan karena kita diberikan kesempatan memperbaiki ekskul musik. Jawaban untuk yang lain(?) aku hanya ingin saja.”, jawabnya tenang sambil melanjutkan kegiatannya.

Setelah diberi penjelasan oleh Hankyung, mereka mulai mengantri mandi, sesuai dengan urutan yang dikatakan Heechul.



Sekitar 50 menit barulah ke-13 namja itu selesai. Mereka pun duduk di meja makan untuk sarapan.

“Kau sudah mandi, hyung?”, Tanya Kibum pada Hankyung.

“Ne, tadi aku bangun jam 5 dan langsung mandi. Waeyo? Kau meragukan penampilanku?”, jawab Hankyung sambil menyiapkan makanan ke piring mereka masing-masing.

“Hahahaha, ani.” Jawab Kibum, dan mulai memakan makanannya.

“Hm, enak sekali masakanmu kali ini hyung.”, puji Ryeowook.

“Benar, aku belum pernah memakan makanan selezat ini.”, sambung Sungmin.

“Gomawo.”balas Hanyung.

“Kita ke mana hari ini?”, Tanya Kyuhyun sambil tetap memakan makanannya.

“Mini market seberang, aku ingin membeli sesuatu.”, jawab Eunhyuk.

“Apa yang ingin kau beli? DVD yadong tak ada di sana.” Ucap Donghae.

“Bukan itu babo!”, jawab Eunhyuk pada ucapan Donghae dan diikuti tawa semua orang.

“Setelah itu bagaimana kalau kita pergi ke magic kafe, sudah lama kita tidak ke sana.” Usul Leeteuk.

“Setuju, lalu kita pergi ke taman bermain”, sambung Shindong.

“Buat apa kita ke sana, hyung?” Tanya Siwon

“Mengenang masa lalu, hehehe”, jawab Shindong.

“Tidak buruk juga. Setelah makan kita bersiap-siap.”, ucap Heechul dan di jawab anggukan semua orang, kecuali Hankyung, tetapi mereka tidak menyadarinya.
Setalah selesai makan dan bersiap-siap, mereka mulai menjalankan rencana mereka.

“Hankyung? Hankyung mana? dia kok tidak ada?”, Tanya Leeteuk.

“Aku tak ikut”, jawab Hankyung yang tiba-tiba mucul di belakang mereka.

“Waeyo?”, Tanya Heechul.

“Aku malas saja.”, Jawabnya dan meninggalkan mereka yang masih bingung dengan jawabannya.

“Apa tak apa kita meninggalkan Hankyung hyung?” Tanya Yesung pada Leeteuk.

“Ku rasa tak apa. Dia sudah besar, tidak mungkin hilang.”, jawab Heechul santai dan mulai keluar, diikuti yang lain.


Sementara itu, Hanyung hanya duduk terdiam di ruang tengah.
“Ada apa ini. Kenapa aku bias merasa sepusing ini?”, tanyanya pada dirinya sendiri. Ia pun tak menghiraukan rasa pusingnya itu. Ia mengambil sebuah album foto yang tertata rapi di pojok ruangan itu.

Ia membuka setiap lembaran album itu. Dan setelah menemukan sebuah foto, ia merasa aneh pada dirinya.
“Ini foto sewaktu apa?” tanyanya lagi pada dirinya. Ia berusaha mengingatnya, tetapi nihil, ia sama sekali tak ingat apa pun tentang foto itu. Tak terasa darah mengalir darihidungnya. “Omo!”, ucapnya.

“Hyung? Kau kenapa?”, teriak seseorang yang terlihat khawatir pada Hankyung, ia mencari-cari tisu di ruangan itu dan memberikannya pada Hankyung.

“Gomawo.”, ucap Hankyung setelah menerima tisu itu. “Kenapa kau ada di sini Kibum-ya?”. Tanya Hankyung pada Kibum.

“Dompetku tertinggal di ruang tamu, aku ingin mencarimu tadinya, menawarimu ikut kami. Gwaenchanayo?”, Tanya Kibum.

“Ani, gwaenchana. Aku hanya kelelahan”, jawab Hankyung.

“Apa tak apa kau di sini sendiri, hyung? Kau mau ikut? Atau perlu kutemani?”, tanyanya lagi.

“Tidak, kau tak perlu khawatir”, ucap Hankyung.

“Baiklah.” Ucap Kibum, walaupun dia berkata seperti itu, sebenarnya rasa khawatir masih menyertainya. Ia berbalik dan mulai meninggalkan Hankyung.

“Kibum-ya?”, panggil Hankyung.

“Ne?”, Kibum berbalik.

“Tolong jangan beritahu yang lain masalah ini”, pinta Hankyung.

“Oh, ne. kau bias mempercayaiki, hyung”, jawab Kibum. Dan ia keluar dari ruangan itu.


-malam hari-

“Apa yang dilakukan Hanyung ya?”, Tanya Yesung.

“Entahlah, mungkin ia memasak makanan yang lezat”, jawab Shindong sambil memikirkan sebuah makanan.

“Ayo kita masuk!”, suruh Leeteuk pada semua dongsaengnya, ia pun membuka pintu. Ke-12 namja itu masuk dengan tertib (?) dan beberapa dari mereka mencari Hankyung.

“Hankyung-ah. Kau di mana?”, panggil Heechul.

“Apa yang kau lakukan di sini, Hyung?” Teriak Donghae ketika mendapati Hankyung kamarnya. Setelah mendengar teriakan itu yang lain mendatanginya.

“Eh, aku, aku em, membuat ini” jawab Hankyung yang sepertinya agak kaget dan ia menunjukkan selembaran kertas.

I’m The Real Your Secret Admirer! part 1



Namaku Dinda, umurku 17 tahun. Aku anak tunggal dalam keluargaku. Aku tinggal di Bandung. Saat ini aku bersekolah di salah satu sekolah menengah atas di Bandung.
“Kamu udah makan, Din?”, tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapanku. Rafa, dia temanku sejak sekolah menengah pertama.
“Udah kok, kamu gak makan, Raf?”, aku balik bertanya padanya.
“Aku udah makan kok”, jawabnya dengan tersenyum, lalu ia duduk di sampingku. Di bangku depan kelas.  “Tau gak? Kemarin aku abis beli buku ini, lho!”, ucapnya sambil mencari-cari sesuatu di dalam tasnya.
“Buku apa, Raf?”, tanyaku penasaran.
“Tada! Super Junior’s History New Edition, Din!”, jawabnya dengan bangga sambil menunjukkan bukunya.
“Aku mau, dong, Raf. Kamu gak adil, ah. Masa aku gak kamu beliin sih?”, aku memprotesnya.
“Tenang, Din, tenang. Rencananya aku mau kasih ke kamu kok, Din”, ucapnya.
“Bener, Raf?” tanyaku.
“Bener, lah. Masa aku becanda?”, dia balik bertanya.
“Ah Rafa! Kamu memang sahabatku yang paling baik.” Ucapku sambil merebut buku yang ia pegang.
“Iya-iya, aku tau kok”, jawabnya, aku membaca sekilas halaman demi halaman buku yang Rafa berikan.
“Bobby!”, suara seseorang memanggil nama yang tidak asing lagi buatku. Pandanganku teralihkan dari buku yang kubaca mencari-cari Bobby, orang yang ia panggil.
Ah, itu, dia berada di depan pintu kelasnya yang berada di depan kelasku. Bobby, orang yang berbadan tinggi, kulitnya putih, wajahnya tampan, ia juga pandai dalam banyak bidang olah raga juga musik, aku sangat mengaguminya. Aku pun mengalihkan pandangan dari buku yang diberikan Rafa, saat melihatnya entah mengapa pikiranku menjadi kacau.
“Heh, Din!”, panggilan seseorang. Rafa, mengganggu saja dia.
“Ah, kenapa sih, Raf?”, aku mengalihkan pandanganku padanya.
“Abis kamu kalau udah ngeliatin dia udah ngeliatin dia kayak pindah ke dunia lain aja tau.”, protesnya.
“Biarin lah. Kenapa? Cemburu kamu, hah?”, tanyaku, aku hendak memandangi Bobby lagi dan ternyata dia telah tidak berada di sana lagi. “Tuh, kan, dia pergi, kamu, sih”, tanpa menunggu jawaban Rafa aku meniggalkannya memasuki kelas. Entah kenapa jika sedang memandangi Bobby aku tidak suka diganggu.

“Din, masa udah dikasih buku masih marah sih? Jangan marah, ya. Aku janji nanti aku traktir es krim deh.”, Rafa menghampiriku, ke dalam kelas, kebetulan kami satu kelas, dia merayuku seperti biasa. Sebenarnya aku gak marah, cuma sebel aja, karna Rafa selalu menggangguku setiap aku memandangi Bobby.
“Kamu sesalu bilang gitu, Raf.”, ucapku sebel.
“Hahaha, gak jadi marah, kan?” tanyanya
“Iya, deh, enggak”, ucapku agak ketus.
“Gak gitu juga kali jawabnya, Din”, komentarnya.
“Tersarah, Raf” balasku.

Aku mengalihkan pandanganku ke buku yang diberikan Rafa, aku merasakan Rafa berjalan meninggalkanku untuk pergi ke tempat duduknya di belakang tempat dudukku.
“Yang namanya Dinda yang mana ya?” seseorang menyebut namaku, spontan aku langsung mencari sumber suaranya. Di depan pintu kelas, ternyata itu dia, Bobby. Ya Tuhan aku seperti tidak bisa berbicara lagi. “Kamu Dinda?”, dia menunjuk ke arahku. Aku hanya menganggukkan kepala. Dengan langkah tegapnya ia memasuki kelasku dan menghampiriku. Semakin ia mendekat nafasku terasa semakin berat.

“Kamu tau, kan tugas yang diberikan ibu Sari tentang pertukaran pendapat pelajaran Lingkungan Hidup antarkelas? Nah, perwakilan yang dipilih dari kelasku aku sendiri, sedangkan dari kelas ini kamu. Jadi kita harus bekerja sama.Kebetulan kelasku menjadi satu tim dengan kelas ini.”, jelasnya yang semakin membuat aku ingin mati di tempat. Kerja sama dengan Bobby? Huaaa betapa beruntungnya aku.
“A-aku baru tahu itu”, jawabku agak terbata.
“Haha, makanya sekarang aku kasih tahu kamu”, jawabnya sambil tersenyum, membuat wajahnya semakin manis saja.
“Ehm, terimakasih, mohon kerjasamanya.”, ucapku sambil menunduk.
“Iya, aku juga. Ya udah kalau gitu, aku balik ke kelas dulu”, ucapnya lalu ia meninggalkan kelasku.

Ahhh mimpi apa aku semalam? Aku benar-benar bahaia saat in. Bobby……
“Dinda masih gak lupa sama aku, kan?”, Tanya seseorang dari belakang yang membuat aku mengalihkan pandanganku padanya.
“Apaan, sih, Rafaa? Ya enggak, lah. Jangan berlebihan, deh!”, omelku padanya. Benar-benar menjengkelkan dia. Aku pun membalikkan badanku lagi dan kembali membaca buku yang sejak tadi aku pegang. Dasar Rafa, mengganggu saja.

“Kamu kenapa, Din? Kok mukanya gak enak banget?”, Tanya seseorang yang tiba-tiba menghampiriku, aku melihatnya sekilas. Vera, ia temanku sejak sekolah menengah pertama.
“Rafa, tuh”, jawabku singkat dan pandanganku kembali pada buku yang kubaca.
“Kamu apain Dinda, Raf?”, Tanya Vera pada Rafa.
“Gak aku apa-apain kok, malahan aku balikin dia ke jalan yang bener.” Jawaban Rafa sambil terkekeh, semakin membuat aku sebal saja.
“Kalian kenapa, sih”, tanya Vera, tanpa menunggu jawaban kami ia langsung menuju tempat duduknya.

-Setelah pulang sekolah-
-di kamar Dinda-

“Haaahhhh”, aku meletakkan tasku di sembarang tempat dan membaringkan badanku di tempat tidur. Aku kembali membayangkan kejadian di sekolah tadi. Bobby, senyumnya aahh, belum lagi harus bekerja sama dengannya.
‘Heeyy, heeiii heeeiii.. your lipstick….’, suara handphone membuyarkan lamunanku, aku langsung mengambilnya dan melihatnya. Satu pesan masuk, aku langsung membukanya. ‘Dinda, besok kamu tanya teman-teman kamu ya pendapat mereka tentang keamanan sekolah, Bobby J’
“Aaaaaaaaa”, teriakku karena terlalu senang. Dia mengirim pesan untukku. Aku membalas pesannya. ‘oh oke, Bobby J’, jawabku singkat karena aku tak bisa memikirkan kata-kata lagi.

-Esok Hari-

“Pagi semuaaa~”, sapaku bahagia kepada orang-orang di kelas. Sebenarnya aku sadar mereka memandangiku dengan tatapan yang aneh tetapi aku tak menghiraukan itu, rasanya hal-hal yang menganggu itu telah tertutupi rasa senangku hari ini. Aku menuju tempat dudukku dan meletakkan tasku dan segera berbalik. “Rafaaaa~”, panggilku saat melihat Rafa telah ada di bangkunya. “Walaupun aku tau kamu ga suka dengernya tapi aku bakalan certain ini ke kamu. Sumpaahh aku seneng banget, Raf!”, ocehku dengan ekspresi bahagia.
“Eh? Kenapa, Din?”, Tanya Rafa datar, dia tak seperti biasanya. Rasa bahagiaku hilang seketika. Ia memandangiku menunggu jawabanku.
“Kamu kenapa, Raf?”, aku berbalik menanyainya.
“Loh, malah balik tanya kamu. Aku gapapa, kamu mau cerita apa?”, tanyanya lagi dengan senyum yang agak dipaksakan. Aku merasa semakin aneh dengannya, kenapa , sih dia? “Kok malah diem? Ehmm aku tau nih, pasti masalah Bobby kan? Kenapa? Dia nembak kamu eh?” tanyanya dengan sedikit tertawa.
“Ngawur kamu! Belum juga apa-apa. Eh kamu kenapa sih? Kalo ada apa-apa cerita aja lah”, ucapku. Tetapi ia hanya meresponku dengan tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya ke buku yang terdapat di atas mejanya.
“Aku gak papa”, ucapnya singkat.
Aku hanya membaikkan badanku, enggan memaksa ia bercerita saat ini. Jujur melihat sahabatku sendiri seperti itu rasa bahagiaku ini seakan tak ada artinya hari ini. Rafa kenapa?

-Jam Istirahat-

“Dindaaaa~”, panggil seseorang dari belakang, “Kamu kenapa diem aja dari tadi eoh?”, lanjutnya. Haaah akhirnya Rafa telah kembali seperti biasa.
Perlahan aku membalikkan badanku dan menatapnya sedikit tersenyum sebal. “Gara-gara kamu tau!”, jawabku. Seenarnya aku cukup lega mengetahui ia telah kembali seperti biasa. Aku berdiri dari bangkuku, “Teman-teman, boeh aku minta waktu kalian sebentar?”, pintaku.
“Eh ada apa?” “Kita ga ada bikin masalah kan?” “Tugas lagi kah” bisik-bisik mereka.
“Tolong tuliskan pendapat kalian tentang keamanan sekolah di selembar kertas, setelah itu berikan padaku selesai istirahat, terima kasih”, aku mengakhiri ucapanku santai dan langsung menarik Vera menuju kantin sekolah.
“Vera!! Kamu harus tau gimana senengnya aku hahaha”, ucapku dalam perjalanan.
“Bobby kan? Tanpa kamu cerita aku juga udah tau, Din”, balasnya datar.
“Kamu ga seru banget, Ver, diajak curhat”, ucapku jujur sedangkan ia hanya tersenyum jahil. “Eh kamu sadar gak, sih, tadi pagi Rafa beda banget?”, tanyaku.
“Iya, Din. Aku juga ngerasa gitu, rasanya aneh kan liat Rafa dateng lebih lambat dari biasanya terus dia langsung baca buku di bangkunya.”, ceritanya yang membuat aku semakin aneh dengan Rafa.

-Pulang Sekolah-

“Langsung pulang, Din? Mau aku anter?”, Tanya Rafa, “Eh, tapi aku dianter ya, ga jadi deh, Din, hehe”, lanjutnya terkekeh.
“Aku masih mau ngurus sesuatu dulu sama Bobby, Raf.”, jawabku sambil merapikan bawaanku. “Ga biasanya kamu dianter, Raf?” tanyaku yang baru saja menyadari keanehan itu.
“Gak papa, Din, lagi pengen aja, mumpung masih punya Mama-Papa wkwk”, ucapnya sambil tertawa aneh.
“Dasar bocah”, ejekku dan aku beranjak pergi dari bangkuku. “Duluan ye bocah!”, pamitku dan meninggalkan Bobby.

Aku memasuki ruang kelas Bobby, dari ambang pintu aku melihatnya tertawa ecil embaca selembaran kertas yang ia pegang.aku mendekatinya, “Maaf lama”, ucapku pelan.
“Ahaha lama apanya? Cepet banget kok!”, ucapnya. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. “Silakan duduk”, ia menarik bangku kosong di sampingnya dan menawarkanku untuk duduk di situ melalui gerakkan tangannya. Tanpa basa-basi aku enggan melewatkan kesempatan seperti ini, aku langsung duduk di sebelahnya dan membacakan satu persatu pendapat teman-temanku, dan sesekali kami tertawa membaca pendapat yang agak aneh dan terlalu frontal.

-Esok Hari-

Aku memasuki kelasku pagi ini, “Rafaaaaaa!!!!!”, panggilku tanpa memperhatikan keadaan kelas. Aku berlari kecil mendekati sahabatku itu. “Aku bahagiiaaaa aaaaa”
“Dasar bocah!” ejeknya dengan muka yang seolah-olah marah. “Senengnya ga usah keterlaluan dong!”, lanjutnya, tetapi tak lama kemudian ia tersenyum.
“Ahahaha, pokoknya aku seneng banget, Raf. Walaupun aku tau kamu sama Vera udah bosen dengerin curhatanku makanya aku jarang cerita lagi sama kalian, tapi aku bakalan tetep ngasih tau kalo aku seneng hahaha”, ocehku.
“Jangan sampe lupa jalan lho, Din”, candanya.
“Terserah, deh, Raf, terserah!”, balasku kesal. Aku membuka tasku dan mengambil buku yang hendak kutaruh di laci mejaku. Aku membuka laci itu, tetapi aneh, terasa lebih susah dari biasanya. Aku sedikit memaksakannya dan akhirnya pun aku berhasil membukanya. Tetapi aku menemukan sesuatu, sebuah boneka beruang dibungkus rapi dengan plastic bermoti dan terdapat surat di dekatnya. ‘Have a nice day! Semoga kita bisa selalu bersama’, isi suratnya. Dari siapa ini? Secret admirer kah? -_-