Selasa, 18 November 2014

Masa Sekolah Menengah Pertama



Tugas Bahasa Indonesia - Cerita Berulang
Diah Pramesthi Ningrum
XI Science DA

 Masa Sekolah Menengah Pertamaku

            Masa Sekolah Menengah Pertama untukku adalah masa-masa yang tidak bisa aku lupakan. Saat-saat aku melakukan semua hal yang aku mau, seakan aku merasa semua perbuatanku lah yang paling benar dan semua pemikiranku yang paling dewasa. Padahal semua itu hanya hasil dari kelabilanku. Setiap aku mengingatnya pasti aku akan malu dan tertawa sendiri.

            Ketika SMP aku memiliki 3 orang teman baik dan aku selalu bersama mereka setiap hari di sekolah. Aku selalu bergaul, bercerita, dan bermain hanya bersama mereka. Mereka orang yang sangat terkenal dan cukup berpengaruh di sekolah. Pertama adalah Nadea, orang yang terkenal karena rasa percaya dirinya yang tinggi juga kemampuan bergaulnya yang baik. Selain itu, ia juga terkenal dengan keberaniannya berdebat dengan guru. Kedua adalah Sonia, dia sangat cantik dan juga pintar. Dia adalah ketua kelas selama 3 tahun berturut-turut dan dia sangat bertanggung jawab. Terakhir Nanda, orang yang cantik, keren dan terkenal selalu menjalin hubungan dengan orang yang berpengaruh di sekolah. 

Kami berempat berteman sejak tahun pertama sampai tahun ketiga SMP. Kami sangat mengenal satu sama lain dan tingkat solidaritas kami bisa dibilang sangat tinggi. Secara pribadi, aku bukan lah orang yang bisa hidup mematuhi semua aturan setiap saat. Di samping itu, aku tidak ingin terlihat berbeda dengan teman-teman baikku. Beberapa saat setelah mengenal mereka, aku menyadari bahwa kami berempat memiliki sifat yang sama.

 Sekolahku melarang siswanya mengendarai motor ke sekolah, tetapi kami tetap saja membawanya setiap hari, terlebih tanpa rasa bersalah kami berjalan dan tertawa bersama sepanjang jalan dari parkiran motor sampai gerbang sekolah. Beberapa hari menjelang Ujian Nasional tingkat SMP, kami banyak diberikan tugas di buku Detik-Detik Ujian Nasional. Pada saat itu juga komik Detective Conan sedang naik daun di kelas kami, semua orang membacanya termasuk aku dan ketiga temanku. Jujur saja aku sangat ketagihan membacanya, bahkan dalam satu hari aku bisa membaca 8 komik. Akan tetapi, membawa komik bukan lah hal yang diperbolehkan sekolah. Karena tidak bisa menahan untuk tidak membacanya, saat tidak ada guru dan kami diberikan tugas di buku Detuk-Detik Ujian Nasional, aku menyelipkan komik di balik buku itu seolah-olah dari kejauhan orang mengira aku sedang belajar, sehingga saat ada guru yang tiba-tiba masuk kelas tidak akan menyadari jika aku sedang fokus membaca komik.

            Hal yang paling sering dilanggar banyak siswa adalah membawa hand phone berkamera ke sekolah. Karena ketiga temanku membawanya, sebagai bukti dari solidaritas dan tidak ingin terlihat berbeda aku juga membaanya ke sekolah. Sampai suatu kejadian terjadi, Nanda sedang men-charge hand phone-nya melalui stop kontak di depan kelas, di samping papan tulis sembari ia sibuk memainkannya. Hal itu terbilang sangat nekat karena letak kelas kami saat itu bersebelahan dengan ruang guru, tetapi ia seolah tidak peduli. Sedangkan aku hanya memainkan hand phone-ku di meja barisan depan berseberangan dengan Nanda. Sonia dan Nadea sibuk bercerita di meja belakang tentang hal-hal yang baru ditemukan Nadea di Facebook melalui hand phone-nya. Tiba-tiba seorang guru masuk ke kelas kami mendapati Nanda memainkan hand pone-nya di depan kelas. Aku yang melihatnya secara spontan memasukkan hand phone-ku ke dalam laci di bawah meja lalu memerhatikan guru tersebut dengan perasaan takut. Seketika suasana kelas berubah menjadi tegang karena guru tersebut marah di hadapan kami semua.

Aku cukup terbawa suasana dan menjadi lebih takut lagi membayangkan jika hand phone-ku juga ketahuan, aku putuskan untuk menyelipkan hand phone-ku di antara buku-buku di bawah laci. Karena aku benar-benar ketakutan dan tidak kuat menahan rasa bersalah, aku putuskan akan membawa buku yang aku selipkan hand phone tersebut ke arah Sonia dan Nadea di meja belakang dan menyembunyikannya di sana. Aku mulai berdiri dan hendak berjalan secepatnya, tetapi tiba-tiba, “Praaang”, hand phone-ku terjatuh dengan lancarnya ke lantai, mungkin hal itu terjadi karena aku terlalu terburu-buru, atau itu memang hari sialku. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya dan membiarkannya di lantai begitu saja. Perhatian guruku teralih padaku dan langsung mengambil hand phone-ku di lantai lalu menyitanya. Setelah guru tersebut keluar, semua siswa di kelas langsung menertawai hal bodoh yang aku lakukan. Jujur saja, aku tidak merasa terlalu bersalah, malu, atau takut, karena Nanda juga mengalami hal yang sama. Tidak jera dengan hal yang telah terjadi, beberapa hari setelah hand phone kami dikembalikan, kami membawanya kembali beberapa hari kemudian, lalu berfoto, membuat banyak video dan online bersama.

Ketika mengingat hal-hal bodoh seperti itu membuat aku sering bertanya pada diriku sendiri, apa yang aku pikirkan pada saat itu? Akan tetapi, sekarang aku sadar, tidak ada hal yang percuma dan yang aku lakukan dahulu tidak lah percuma. Aku bisa belajar dari hal-hal yang aku lakukan di masa lalu, dan berusaha untuk tidak melakukannya lagi dan mencoba untuk menjadi lebih baik di masa depan. Hal-hal itu pun menjadi cerita yang paling berkesan untukku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar