Tugas Bahasa Indonesia - Cerita Berulang
Diah Pramesthi Ningrum
XI Science DA
Masa Sekolah
Menengah Pertamaku
Masa Sekolah Menengah Pertama untukku adalah masa-masa
yang tidak bisa aku lupakan. Saat-saat aku melakukan semua hal yang aku mau,
seakan aku merasa semua perbuatanku lah yang paling benar dan semua pemikiranku
yang paling dewasa. Padahal semua itu hanya hasil dari kelabilanku. Setiap aku
mengingatnya pasti aku akan malu dan tertawa sendiri.
Ketika SMP aku memiliki 3 orang
teman baik dan aku selalu bersama mereka setiap hari di sekolah. Aku selalu
bergaul, bercerita, dan bermain hanya bersama mereka. Mereka orang yang sangat
terkenal dan cukup berpengaruh di sekolah. Pertama adalah Nadea, orang yang
terkenal karena rasa percaya dirinya yang tinggi juga kemampuan bergaulnya yang
baik. Selain itu, ia juga terkenal dengan keberaniannya berdebat dengan guru.
Kedua adalah Sonia, dia sangat cantik dan juga pintar. Dia adalah ketua kelas
selama 3 tahun berturut-turut dan dia sangat bertanggung jawab. Terakhir Nanda,
orang yang cantik, keren dan terkenal selalu menjalin hubungan dengan orang
yang berpengaruh di sekolah.
Kami berempat berteman sejak tahun pertama sampai
tahun ketiga SMP. Kami sangat mengenal satu sama lain dan tingkat solidaritas
kami bisa dibilang sangat tinggi. Secara pribadi, aku bukan lah orang yang bisa
hidup mematuhi semua aturan setiap saat. Di samping itu, aku tidak ingin
terlihat berbeda dengan teman-teman baikku. Beberapa saat setelah mengenal
mereka, aku menyadari bahwa kami berempat memiliki sifat yang sama.
Sekolahku
melarang siswanya mengendarai motor ke sekolah, tetapi kami tetap saja
membawanya setiap hari, terlebih tanpa rasa bersalah kami berjalan dan tertawa
bersama sepanjang jalan dari parkiran motor sampai gerbang sekolah. Beberapa
hari menjelang Ujian Nasional tingkat SMP, kami banyak diberikan tugas di buku
Detik-Detik Ujian Nasional. Pada saat itu juga komik Detective Conan sedang
naik daun di kelas kami, semua orang membacanya termasuk aku dan ketiga
temanku. Jujur saja aku sangat ketagihan membacanya, bahkan dalam satu hari aku
bisa membaca 8 komik. Akan tetapi, membawa komik bukan lah hal yang
diperbolehkan sekolah. Karena tidak bisa menahan untuk tidak membacanya, saat
tidak ada guru dan kami diberikan tugas di buku Detuk-Detik Ujian Nasional, aku
menyelipkan komik di balik buku itu seolah-olah dari kejauhan orang mengira aku
sedang belajar, sehingga saat ada guru yang tiba-tiba masuk kelas tidak akan
menyadari jika aku sedang fokus membaca komik.
Hal yang paling sering dilanggar
banyak siswa adalah membawa hand phone
berkamera ke sekolah. Karena ketiga temanku membawanya, sebagai bukti dari
solidaritas dan tidak ingin terlihat berbeda aku juga membaanya ke sekolah.
Sampai suatu kejadian terjadi, Nanda sedang men-charge hand phone-nya melalui stop kontak di depan kelas, di
samping papan tulis sembari ia sibuk memainkannya. Hal itu terbilang sangat
nekat karena letak kelas kami saat itu bersebelahan dengan ruang guru, tetapi
ia seolah tidak peduli. Sedangkan aku hanya memainkan hand phone-ku di meja
barisan depan berseberangan dengan Nanda. Sonia dan Nadea sibuk bercerita di
meja belakang tentang hal-hal yang baru ditemukan Nadea di Facebook melalui hand phone-nya.
Tiba-tiba seorang guru masuk ke kelas kami mendapati Nanda memainkan hand pone-nya di depan kelas. Aku yang
melihatnya secara spontan memasukkan hand
phone-ku ke dalam laci di bawah meja lalu memerhatikan guru tersebut dengan
perasaan takut. Seketika suasana kelas berubah menjadi tegang karena guru
tersebut marah di hadapan kami semua.
Aku cukup terbawa suasana dan menjadi lebih takut lagi
membayangkan jika hand phone-ku juga
ketahuan, aku putuskan untuk menyelipkan hand
phone-ku di antara buku-buku di bawah laci. Karena aku benar-benar ketakutan
dan tidak kuat menahan rasa bersalah, aku putuskan akan membawa buku yang aku
selipkan hand phone tersebut ke arah
Sonia dan Nadea di meja belakang dan menyembunyikannya di sana. Aku mulai
berdiri dan hendak berjalan secepatnya, tetapi tiba-tiba, “Praaang”, hand phone-ku terjatuh dengan lancarnya
ke lantai, mungkin hal itu terjadi karena aku terlalu terburu-buru, atau itu
memang hari sialku. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya dan membiarkannya di
lantai begitu saja. Perhatian guruku teralih padaku dan langsung mengambil hand phone-ku di lantai lalu menyitanya.
Setelah guru tersebut keluar, semua siswa di kelas langsung menertawai hal bodoh yang
aku lakukan. Jujur saja, aku tidak merasa terlalu bersalah, malu, atau takut,
karena Nanda juga mengalami hal yang sama. Tidak jera dengan hal yang telah
terjadi, beberapa hari setelah hand phone
kami dikembalikan, kami membawanya kembali beberapa hari kemudian, lalu berfoto,
membuat banyak video dan online bersama.
Ketika mengingat hal-hal bodoh seperti itu membuat aku
sering bertanya pada diriku sendiri, apa yang aku pikirkan pada saat itu? Akan
tetapi, sekarang aku sadar, tidak ada hal yang percuma dan yang aku lakukan
dahulu tidak lah percuma. Aku bisa belajar dari hal-hal yang aku lakukan di
masa lalu, dan berusaha untuk tidak melakukannya lagi dan mencoba untuk menjadi
lebih baik di masa depan. Hal-hal itu pun menjadi cerita yang paling berkesan
untukku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar