Jumat, 28 November 2014

Analisis Cerita Ulang

Nama : Diah Pramesthi Ningrum
Kelas : XI Science DA
Tugas Bahasa Indonesia – Membandingkan dua cerita ulang yang memiliki cerita yang sama.

Legenda Gunung Batu Balai

Pada zaman dahulu, hidup seorang perempuan tua di tengah-tengah hutan Mentok, Bangka Belitung. Ia mempunyai anak bernama Dempu Awang yang memilki tanda goresan bekas luka terjatuh di keningnya. Kehidupan mereka sangat sederhana. Mereka hidup dari hasil ladang yang ditanami ubi, ketela dan lain-lain. Karena hasi ladang yang mereka peroleh sangat sedikit, Dempu Dawang bermaksud merantau mencari pekerjaan yang lebih baik. Ia mengungkapkan hal itu kepada ibunya dan sang ibu mengizinkannya merantau, dengan syarat ia harus kembali suatu saat nanti menemui ibunya.
Beberapa hari kemudian, Dempu Awang pamit kepada ibunya untuk merantau. Sepeninggal Dempu Awang merantau, sang ibu hanya tinggal seorang diri di tengah hutan. Ia selalu berdoa agar anaknya selamat dan mendapat pekerjaan. Dempu Awang pergi menumpang perahu layar milik orang lain. Karena tidak mempunyai ongkos naik perahu, ia bersedia menjadi anak buah pemilik perahu tersebut.
Tidak terasa sepuluh tahun telah berlalu. Berkat doa sang ibu, sekarang Dempu Awang telah menjadi seseorang yang kaya raya dan telah berkeluarga. Ia mempunyai seorang istri anak orang kaya yang sangat cantik. Namun ia tidak pernah memberikan kabar kepada ibunya. Kemudian Sang istri sangat ingin menemui ibu mertuanya, ia mengungkapkan hal tersebut kepada Dempu Awang dan Dempu Awang pun menurutinya.
Suatu hari, Dempu Awang bersama istrinya berangkat ke Mentok dengan menggunakan perahu layar miliknya sendiri. Tak berapa lama kemudian sampailah perahu layarnya di perairan kampung halamannya. Ketika melihat perahu layar Dempu Awang berlabuh, para nelayan yang berada di pinggir pantai perairan itu mengayuhkan sampan mereka mendekati perahu layar tersebut. Kemudian mereka melihat Dempu Awang bersama istrinya berdiri di pinggir geladak. Ia member isyarat agar nelayan-nelayan tersebut naik ke perahunya.
Beberapa nelayan naik ke perahu Dempu Awang, lalu Dempu Awang menanyakan kepada mereka, bagaimana keadaan ibunya. Para nelayan tersebut mengatakan bahwa ada seorang wanita tua yang hidup sendiri di tengah hutan. Mendengar hal itu, Dempu Awang meminta tolong kepada nelayan tersebut agar membawa wanita tua itu ke perahunya. Ia ingin memastikan apakah wanita tua itu ibunya atau orang lain yang mengaku sebagai ibunya. Para nelayan tersebut menuruti permintaan Dempu Awang, mereka menjemput wanita tua itu di tengah hutan.
Para nelayan tersebut kembali ke perahu bersama seorang wanita tua. Ketika Dempu Awang melihat wanita tua renta yang dibawa oleh para nelayan yang ia ketahui adalah ibunya sendiri hendak menaiki tangga perahu, cepat-cepat ia menyuruh para nelayan mengusir wanita tua itu.
“Jangan suruh ia naik ke perahu! Dia bukan ibu saya! Dia petani yang tidak kukenal!” teriaknya, Dempu Awang sangat malu mengakui ibunya yang sudah tua renta dan berpakaian compang camping di hadapan istrinya.
“Dia adalah ibunda Tuan.” kata para nelayan.
Sementara itu, di pinggir perahu perempun tua itu berkata, “Benar, saya adalah ibumu yang kamu tinggalkan sepuluh tahun yang lalu. Tanda goresan bekas luka terjatuh di keningmu itu adalah buktinya.”
Mendengar perkataan wanita tua itu Dempu Awang menjadi marah dan tidak memberi kesempatan kepada perempuan tua itu menaiki perahunya. Melihat kejadian itu, istrinya berkata, “Terimalah ibumu, jangan menjadi anak yang durhaka dan jangan malu.”
“Jangan suruh dia naik ke perahu! Dia bukan ibu saya! Dia …” teriaknya kembali tanpa memedulikan perkataan istrinya. Kemudian Dempu Awang mendorong wanita itu sampai terjatuh dari pinggir perahu ke sampan yang membawanya tadi. Para nelayan sangat sedih melihat keadaan wanita itu, lalu mereka mengayunkan sampannya, membawa wanita itu pulang.
Di dalam sampan, wanita tua itu berlutut sambil mengangkat kedua belah tangannya ke atas dan memohon kepada Yang Maha Esa agar memberikan balasan yang setimpal kepada Dempu Awang yang telah menjadi anak durhaka dan tidak mengakui ibu kandungnya.
Tiba-tiba turun angin ribut dan hujan lebat ditambah Guntur dan petir saat Dempu Awang hendak berlayar meninggalkan perairan kampung halamannya. Gelombang laut setinggi gunung menghantam kapal Dempu Awang. Saat itu juga perahu Dempu Awang pecah terbelah dua lalu karam. Setelah angin rebut dan hujan reda, Dempu Awang bersama perahunya telah berubah menjadi batu, sedangkan istrinya menjadi seekor kera putih.
Oleh masyarakat setempat, batu tersebut diberi nama Batu Balai karena pada zaman dahulu, di samping batu itu terdapat sebuah balai, yakni sebuah kantor pemerintahan yang biasa dijadikan sebagai tempat bermusyawarah. Batu  tersebut terletak sejauh 3,5 kilometer dari Mentok. Batu  itu berukuran 8x6 meter dan tingginya 5 meter. Batu tersebut masih ada sampai sekarang dan masih terpelihara dengan baik.


Legenda Gunung Batu Bangkai

Pada zaman dahulu, tinggal seorang pemuda bersama ibunya di Loksado, Kalimantan Selatan. Pemuda tersebut dipanggil Andung Kuswara oleh penduduk sekitar. Dia adalah seseorang yang cerdas dan memiliki keterampilan medis yang ia pelajari dari mendiang ayahnya. Setiap hari ia bekerja keras pergi ke hutan mencari buah-buahan dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Suatu hari ia menemukan seorang pria tua meremas buruk dalam perjalanan pulang. Andung Kuswara membantu pria itu dan menyembuhkannya. Setelah pria tua itu sembuh, pria tua itu memberikan sesuatu yang tergantung di lehernya kepada Andung Kuswara sebagai rasa terima kasih dan berkata semoga benda itu membawa nasib baik. Lalu Andung Kuswara melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.
Sebenarnya Andung Kuswara menikmati hidupnya saat ini, tetapi ia ingin kehidupan yang lebih baik. Ia berniat untuk merantau dan mempraktikkan keterampilan medisnya. Ia mengungkapkan niat tersebut pada ibunya, dan ibunya mengizinkannya.
Keesokan pagi, Andung Kuswara meninggalkan tanah kelahirannya ke luar negeri, sampai ia tiba di Kerajan Basiang. Ia bertemu dengan seorang petani yang tubuhnya penuh penyakit kudis. Andung Kuswara mencoba menyembuhkan penyakit tersebut dan ia berhasil. Petani tersebut menawarkan Andung Kuswara tinggal di rumahnya sebagai tanda terima kasih. Petani itu juga memberi tahu jika hampir semua penduduk negeri itu sedang menderita penyakit yang sama. Berita tentang keterampilan medis Andung Kuswara tersebar sangat cepat dan banyak orang berbondong-bondong datang kepada Andung Kuswara untuk menyembuhkan penyakit. Tentu saja semua penyakit yang mereka miliki dapat disembuhkan oleh Andung Kuswara
Raja Basiang mendengar berita tentang keterampilan medis Andung Kuswara. Ia mengundang Andung Kuswara ke istana untuk mengobati puterinya yang telah tidak sadar selama dua minggu. Sebelumnya,  ia telah mengundang banyak tabib untuk mengobati puterinya tetapi masih belum berhasil. Andung Kuswara diizinkan masuk ke kamar sang puteri. Sang Puteri terbaring dengan wajah yang sangat pucat dan tubuh yang lemah, hal itu tidak bisa menutupi kecantikkannya dan Andung Kuswara sangat kagum melihatnya. Ia mencoba mengobati Sang Puteri dengan cara seperti biasa tetapi tidak berhasil. Ia mencari cara lain, ia mengambil kalung pemberian pria tua yang dahulu diberikan padanya dan merendamnya dalam segelas cangkir dan mengusapkannya di wajah sang puteri. Tiba-tiba sang puteri terbangun dan sembuh dari penyakitnya.
Sang raja sangat berterima kasih pada Andung Kuswara. Andung Kuswara diperbolehkan untuk menikahi puterinya. Sang puteri  sangat senang menyambut Andung Kuswara sebagai suaminya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Andung Kuswara. Satu tahun berlalu dan Sang Puteri telah hamil. Dia mengatakan pada suaminya bahwa ia ingin memakan buah kasturi yang hanya tumbuh di Pulau Kalimantan. Andung Kuswara bersama prajuritnya pergi untuk mencari buah Kasturi menuju daerah yang banyak tumbuh pohon kasturi di Loksado, Pulau Kalimantan. Ia mencari pohon kasturi dan menemukannya di depan gubuk kecil. Ia sangat terkejut mengetahui itu adalah gubuk kecil ibunya. Andung Kuswara segera memerintahkan pasukan untuk kembali ke kerajaan itu tanpa mengambil buah untuk menghindari pertemuan ibunya sendiri.
Akan tetapi, tiba-tiba ibu Andung Kuswara keluar dari gubuk itu dan melihat anaknya di antara pasukan di depan rumahnya. “Andung … Andung … anakku...” ia mencoba memanggil anaknya. Andung Kuswara dan pasukannya terus berjalan untuk menjauh dari ibunya. Namun, sang ibu berlari mengejar mereka dan terus memanggil anaknya. Merasa malu di depan pasukannya sendiri, Andung Kuswara marah dengan ibunya dan berkata, “Berhenti panggil aku sebagai anakmu, perempuan tua!  Aku seorang bangsawan Kerajaan Basiang. Aku tidak pernah tahu seorang wanita tua sepertimu!” ucapnya. Setelah itu  Andung Kuswara melanjutkan perjalanannya.
Ibu Andung Kuswara sangat terkejut mendengar kata-kata dari putra kesayangannya. Dia menangis dan berdoa dengan bibir gemetar, “Oh Tuhan, tunjukkanlah kekuasaan dan keadilan-Mu.” Belum kering air liur tua renta itu berdoa, hallintar menyambar membelah bumi, kilat sambung-menyambung, langit mendadak gelap gulita dan badai bertiup menghempas keras. Kemudian hujan lebat tumpah dari langit. Dari kejauhan, Andung Kuswara berteriak keras “Maafkan aku, ibu!” tapi siksa Tuhan tak dapat dicabut lagi. Tiba-tiba Andung berubah menjadi sebuah batu.
Sejak saat itu, penduduk di sekitar Loksado menamai batu tersebut dengan sebutan Gunung Batu Bangkai, karena batu itu mirip sekali dengan bangkai manusia dan berada di atas gunung. Gunung Batu Bangkai ini dapat dijumpai di Kecamata Loksado, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.
Dikutip dari : http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/13-legenda-gunung-batu-bangkai#
Analisis Cerita

Cerita Legenda Gunung Batu Balai adalah cerita yang berasal dari Bangka Belitung, sedangkan Legenda Gunung Batu Bangkai adalah cerita yang berasal dari Kalimantan Selatan. Jika kedua cerita tersebut dianalisis dan dibandingkan, akan ada perbedaan dan kesamaan dari kedua cerita di atas.
 Kesamaan kedua cerita tersebut, di antaranya :
·      Kedua cerita tersebut diceritakan dengan cara yang sama, yaitu watak tokoh tidak diberi tahu secara langsung, melainkan dengan penggambaran perilaku tokoh. Selain itu, kedua cerita tersebut menggunakan bahasa yang Indonesia yang mudah dimengerti.
·      Dari segi jenis cerita, kedua cerita merupakan cerita ulang imajinatif, yaitu kejadian yang diceritakan belum tentu benar-benar terjadi.
·      Dari segi sudut pandang, kedua cerita tersebut bersudut pandang orang ketiga sebagai pengamat, karena seperti yang kita ketahui, kebanyakan dari cerita ulang menggunakan sudut pandang orang ketiga.
·      Dari segi penokohan, dalam kedua cerita tersebut memiliki kesamaan, yaitu sifat sang anak yang durhaka dan sifat sang ibu yang penyabar. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh keinginan pengarang yang sama, yaitu memberikan amanat kepada seseorang yang berbuat durhaka.
·      Dari segi garis besar cerita dalam Legenda Gunung Batu Balai dan Legenda Batu Bangkai menceritakan seorang wanita dengan anak laki-lakinya yang hanya tinggal berdua dan hidup susah. Kemudian anak laki-lakinya memutuskan untuk pergi merantau untuk memperbaiki kehidupan mereka. Setelah beberapa tahun merantau, ia menjadi sukses dan telah mempunyai seorang isteri tetapi melupakan ibunya. Saat ia bertemu dengan ibunya, mereka merasa malu mengakui ibunya sendiri dan tidak mau mengakuinya dihadapan orang lain. Setelah itu, sang ibu berdoa kepada Tuhan agar anaknya diberi balasan yang setimpal. Lalu, sang anak berubah menjadi batu. Kesamaaan garis besar cerita bisa disebabkan oleh keinginan pengarang agar masyarakat dapat mengerti cerita dengan mudah, karena memang cerita dengan alur seperti ini yang paling terkenal dan mudah dipahami. Selain itu, dalam kedua cerita, sang anak berubah menjadi batu karena batu adalah benda yang paling banyak ditemui dan paling sering dianggap sebagai jelmaan dari sesuatu karena bentuknya yang berbeda-beda dan unik.
·      Dari segi amanat cerita, kedua cerita memberikan amanat agar seorang anak tidak menjadi durhaka kepada ibunya karena suatu saat nanti pasti mereka akan mendapatkan akibatnya. Kemungkinan pembuatan cerita berawal dari pengarang yang menemui bentuk batu yang aneh, lalu pada lingkungannya saat itu banyak anak-anak yang berbuat durhaka kepada orang tuanya, akhirnya sang pengarang menghubungkan cerita akibat seorang anak jika berbuat durhaka dengan bentuk batu yang unik yang kemudian dianggap sebagai kutukan pada anak durhaka tersebut.

Beberapa perbedaan ditemukan dari kedua cerita tersebut, di antaranya :
§  Pekerjaan yang dilakukan tokoh dalam cerita Legenda Gunung Batu Balai adalah bertani, sedangkan pekerjaan tokoh dalam Legenda Gunung Batu Bangkai adalah pencari buah dan sayur dalam hutan. Hal ini dilatarbelakangi oleh keadaan tanah di Kalimantan Selatan yang gersang serta kurang subur dan keadaan tanah di Bangka Belitung yang subur.
§  Perbedaan cara memperbaiki nasib sang anak laki-laki dalam kedua cerita. Dalam Legenda Gunung Batu Balai dikisahkan sang anak menjadi menantu orang kaya raya, namun sebelumnya ia menjadi anak buah seorang pemilik perahu. Dalam keadaan ini bisa diketahui bahwa di Bangka Belitung banyak orang yang berprofesi sebagai pelaut atau nelayan.
Berbeda dengan Legenda Gunung Batu Bangkai, dikisahkan sang anak memiliki kemampuan medis yang tergolong supernatural yang membuat ia sukses. Hal ini dilatarbelakangi oleh kebanyakan masyarakat Kalimantan Selatan masih mempercayai hal-hal yang berbau magis bahkan hingga saat ini.
§  Latar yang banyak digunakan dalam kedua cerita. Kebanyakan latar dalam Legenda Gunung Batu Balai adalah lautan atau tempat yang berhubungan dengan perairan, sedangkan latar yang banyak digunakan dalam Legenda Gunung Batu Bangkai adalah hutan. Hal ini dilatarbelakangi oleh keadaan geografis Bangka Belitung yang memiliki banyak pantai dan banyak akses menuju daerah pantai atau lautan tersebut, sedangkan daerah Kalimantan Selatan yang memiliki banyak hutan.
§  Watak tokoh dalam Legenda Gunung Batu Balai cenderung lebih keras kepala dan kasar. Hal ini dapat dilihat dari percakapan tokoh dan kelakuan tokoh yang digambarkan. Seperti saat sang ibu yang tetap mendekati anaknya walaupun ia sudah ditolak lalu tindakan kasar sang anak kepada ibunya. Hal ini dapat dilatarbelakangi oleh kehidupan yang keras di Bangka Belitung yang keras yang dapat diketahui dari sang anak yang rela menjadi anak buah pemilik perahu.
Berbeda halnya dengan Legenda Gunung Batu Bangkai, dengan mudahnya sang anak menjadi sukses dengan kemampuannya sendiri. Bisa diketahui kehidupan di Kalimantan Selatan saat itu tidak sekeras kehidupan di Bangka Belitung sehingga watak tokoh yang digambarkan tidak keras kepala dan lebih sensitif. Deperti saat sang ibu yang mengejar anaknya, namun ia tak memaksakannya dan ia terlanjur sakit hati lalu meminta Tuhan membalasnya. Juga saat sang anak tengah dikutuk ia masih mengucapkan kata maaf.
§  Dari cara pemberian nama batu, dalam Legenda Gunung Batu Balai  memberikan nama Batu Balai berdasarkan letak batu yang berdekatan dengan sebuah balai, nama balai tersebut juga bisa diasumsikan bahwa mereka memberi nama berdasarkan fungsi sesuatu. Sedangkan  dalam Legenda Gunung Batu Bangkai, nama batu bangkai diberikan berdasarkan bentuk dari batu tersebut.
§  Dalam Legenda Gunung Batu Bangkai, ditunjukkan kekayaan alam yang dimiliki  daerah Kalimantan Selatan, dapat diketahui saat disebutkan buah kasturi yang hanya tumbuh di Pulau Kalimantan sedangkan pada Legenda Gunung Batu Baai tidak disebutkan sesuatu yang khas atau yang hanya terdapat di daerah itu.
Demikian analisis dari kedua cerita tersebut. Hal yang bisa disimpulkan adalah perbedaan daerah asal cerita dibuat dapat menyebabkan berbedanya beberapa unsur cerita, walaupun secara garis besar isi kedua cerita sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar