Sabtu, 05 Juli 2014

You Are The Best, Mom!





            Jangan pernah malu untuk menunjukkan siapa dirimu karena pasti kamu mempunyai kelebihan yang tak dimiliki orang lain. Kalimat itu adalah kalimat yang akan selalu kuingat. Kalimat yang selalu aku tuturkan ketika aku masih kecil, aku selalu mengatakannya walapun aku tak mengetahui maknanya saat itu. Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang aku ingat dari seorang ibu.
Namaku Sandra, umurku 15 tahun. Saat ini aku tinggal di sebuah panti asuhan, aku berada di sini sejak 11 tahun yang lalu. Dalam waktu yang cukup lama itu aku hidup mandiri tanpa mengenal bantuan orang tua.
Di mana ibu sekarang? Aku pun tak tahu. Yang aku ingat hanyalah saat usiaku 4 tahun aku berjalan bersamanya menusuri rel kereta api di bawah terik matahari untuk membeli sebuah makanan dari uang hasil berjualan kami di tengah keramaian pasar pada pagi hari  yang telah kami kumpulkan.
Saat itu aku terus berjalan bersamanya. Hingga tiba saat itu, saat yang paling aku benci tetapi aku akan selalu mengingatnya, di mana kami hendak menyebrangi rel ada sebuah kereta api yang hendak lewat. Saat itu aku menggenggam tangan ibu dengan erat, tetapi aku tidak tahu apa yang terjadi. Genggaman tanganku terlepas dari ibu dan ia menyebrangi rel itu padahal kereta api hanya berjarak 5 meter lagi, tanpa aku, aku tak mengerti apakah aku tertinggal atau kah ia sengaja meninggalkanku.
Yang bisa aku lakukan saat itu hanyalah menangis, mungkin orang-orang disekelilingku bertanya-tanya apa yang terjadi dan mungkin sebagian dari mereka merasa iba. Tetapi aku tidak peduli, yang aku inginkan saat itu hanyalah menyeberangi rel dan bertemu dengan ibu. Di sela tangisanku aku melihat kereta yang sedang lewat hanya tersisa beberapa gerbong lagi, tangisanku mulai mereda. Dan setelah kereta itu telah lewat sepenuhnya aku memandang ke seberang. Mencari sosok seorang ibu. Tetapi aku tak menemukan apa pun.
Aku hanya bisa terduduk di pinggir rel dan menangis sejadi-jadinya. Banyak orang-orang menghampiriku setelahnya. Bagaimana tidak? Mereka pasti tak akan membiarkan seorang anak kecil menangis sendirian di tempat yang sebenarnya berbahaya. Dan akhirnya mereka membawaku ke sebuah tempat yang disebut panti asuhan.
Ayah, aku telah kehilangan seorang ayah sejak aku berumur 1 tahun, ibu bercerita saat itu ayah sakit keras dan kami tidak mempunyai biaya untuk mengobatinya. Dan saat ini aku pun telah kehilangan sosok ibu.betapa malangnya nasibku?
“Besok sepertinya kita akan berkunjung ke panti asuhan di kota”, ucap seseorang yang membuyarkan lamunanku. Tira, ia adalah teman baikku selama aku berada di sini, dan kebetulan umur kami sama.
“Oh ya? Baiklah, aku akan mempersiapkan untuk besok”, balasku sambil tersenyum dan beranjak dari dudukku meninggalkan dia untuk masuk ke kamar dan mempersiapkan yang perlu aku bawa untuk esok hari.
Besok adalah hari minggu, hari itu memang menjadi rutinitas kami untuk mengunjungi sebuah instansi dan saling berbagi di sana. Menyenangkan bukan? Aku sangat menanti-nanti saat itu. Saat di mana aku bisa membalas jasa orang-orang yang dulu telah mengunjungi panti asuhan dan menghiburku. Yang perlu aku bawa adalah beberapa buku-buku yang akan aku gunakan untuk berbagi sedikit ilmu dengan mereka.

____ esok hari ____

“Sandra, ayo kita berangkat”, seru seseorang dari luar kamar.
“Iya sebentar”,  jawabku. Aku merapikan pakaian yang aku kenakan dan memakai tasku. Aku keluar dari kamar dan berkumpul dengan teman-teman lainnya di depan panti di pinggir jalan, untuk menunggu angkot.
“Ini kunjungan pertama kita ke sana ya, aku tidak sabar” ucap Tira sambil tersenyum senang. Angkot yang kami tunggu pun telah tiba.
Aku tersenyum. Ya, ini memang kunjungan pertama kami ke sana.”Mudah-mudahan kita bisa member yang terbaik nantinya.”, balasku sambil memasuki angkot disusul oleh teman-temanku yang lain.
Aku melewati perjalanan yang terasa lama ini dengan bercanda bersama Tira. Hingga kami telah sampai ditujuan, salah satu panti asuhan yang berada di kota. Kami turun dari angkot lalu berkumpul bersama di depan panti.
“Baiklah, lakukan yang telah kalian rencanakan dan kita berkumpul di sini kembali di pukul 5 sore”, instruksi Ibu Neni, orang yang telah kami anggap orang tua kami sendiri.
Pandanganku langsung tertuju pada seorang yang mungkin lebih tua dariku dengan tampang resah. Ia duduk di taman panti dengan wajah kebingungan. Entah kenapa aku sangat tertarik mengunjunginya. “Selamat pagi”, sapaku.
“Eh, pagi.”, balasnya dengan senyum yang terlihat terpaksa. Aku pun tersenyum melihatnya. “Eh, em ada apa ya?”, tanyanya.
“Sandra 15 tahun” aku memperkenalkan diri dan mengulurkan tanganku. Ia membalas yang kulakukan, ia menjabat tanganku masih dengan tampang kebingungannya, dan kurasa semakin bingung melihat apa yang aku lakukan.
“Sendy, 17 tahun”, ucapnya, benar dugaanku ia lebih tua dariku.
“Aku panggil kakak boleh?”, tanyaku yang hanya dibalas anggukannya. Aku melapaskan jabatan tangan kami dan duduk disebelahnya. Aku merasa senang berada di dekatnya, entah mengapa. “Apa ada yang bisa aku bantu, kak? Sepertinya kakak sedang kebingungan”, tanyaku lagi. “Aku juga anak panti asuhan lho, sepertinya tidak ada salahnya jika kita saling berbagi” sambungku dengan tersenyum lebar.
“Haha, tidak ada apa-apa kok, dek”, jawabnya dengan pandangan lurus ke depan, ia hanya menatap kosong ke arah tanaman.
“Tapi wajah kakak terlihat sedang kebingungan.”, ucapku.
“Hah, iya?”, ia bertanya sambil memandangku dengan tampang kaget. “Haha ternyata aku memang tidak bisa menyembunyikan masalah.”, ucapnya.
“Kakak ‘kan tidak sendiri. Kakak bisa berbagi.”, saranku. “Mungkin aku bisa mencari jalan keluar untuk masalah kakak”, sambungku
“Sebenarnya ini masalah sekolah, kakak harus menampilkan bakat kakak di depan orang-orang, tetapi kakak sama sekali tak memiliki kemampuan”, Kak Sendy mulai bercerita. Aku terdiam sebentar mencerna kata-katanya dan berpikir apa yang harus aku katakan. Aku juga memikirkan mengapa ia mudah menceritakan masalahnya pada orang yang baru ia kenal? Apakah ia tak memiliki teman di panti in?
“Jangan pernah malu untuk menunjukkan siapa dirimu karena pasti kamu mempunyai kelebihan yang tak dimiliki orang lain.”, ucapku sambil tersenyum memandang lurus ke arah tumbuhan, aku mengalihkan pandanganku ke kak Sendy. “Eh?”, aku tak tahu apa yang terjadi tetap ia memandangku dengan tatapan kaget.
“Kamu dapat dari mana kata-kata itu?” tanyanya. “Aku … akuuu …” ucapnya terbata-bata tanpa melepaskan pandangan kagetnya padaku. Ada apa ini?
“A-aku mendapatkannya dari i-ibu” jawabku terbata-bata karena aku merasa kurang nyaman dengan tatapannya. Tetapi ternyata ada yang salah dengan jawabanku, ia semakin menatapku dengan tatapan yang jauh lebih kaget.
“Kamu siapa?” tanyanya. Pertanyaan yang membuatku tersentak.
“Maksud kakak?”
“Kamu siapa?” ulangnya, matanya mulai berkaca-kaca. “Kenapa kata-kata yang kita dapatkan dari seorang ibu sama persis?”, jawabnya. Mataku terbelalak kaget. Apa maksudnya? Sama? Kenapa bisa? Aku melihat matanya mulai menetskan air mata. Nafasku terasa sesak dengan keadaan ini. “Ceritakan yang kamu ketahui tentang orang tuamu sekarang!”, suruhnya.
Aku terdiam sejenak dan mulai mengingat kejadian terpahit dalam hidupku. Untuk apa ia ingin mengetahui orang tuaku? Tapi biarlah, “Dulu saat aku berumur 4 tahun aku berjalan dengan ibu di pinggir rel kereta. Tetapi saat ada kereta yang hendak lewat ibu menyeberangi rel itu dan meninggalkanku sendiri.”, ceritaku padanya.
 “Tunggu apa kamu Acan?” tanyanya, aku dibuat bingung oleh pertanyaannya itu. Aku hanya terdiam dan memandanginya berusaha mencari arti ucapannya dalam wajahnya. “Kamu Acan, ‘kan? Kamu adikku yang dulu? Kamu ..”, lanjutnya. Adiknya? Aku tak pernah tahu kalau aku pernah memiliki kakak.
“Maksud Kak Sendy apa? Acan siapa? Aku tak mengenalnya. Adik kakak siapa?”, akhirnya aku berbalik bertanya padanya karna tak berhasil menemukan jawaban.
Ia menghela nafas nya, “Dulu …”, ia mulai bercerita. “Aku tinggal bertiga dengan keluargaku, keluarga yang sangat kekurangan. Dan saat aku berusia satu tahun aku memiliki seorang adik, aku tak tahu nama aslinya, yang aku tahu namanya adalah Acan. Saat aku berusia 3 tahun ayah sakit keras. Dan tak lama beliau meninggal dunia. Sepertinya ibu sangat terpukul dengan keadaaan itu. Jadi ia …” ia menghentikan sejenak ceritanya untuk menghela nafas panjang dan menyeka air matanya. “Menitipkanku di sebuah panti asuhan tetapi Acan tetap bersamanya.”,  ia memandang kosong ke depan saat mengatakan itu. Menurutku itu adalah hal yang sangat ia benci.
“Jadi wajar saja adik kakak yang bernama Acan tidak mengenal kakak karena ia masih kecil saat itu”, ucapku pelan.
“Aku tahu, tapi mengapa kata-kata yang kita ingat dari ibu kandung kita sama?” tanyanya, aku hanya terdiam memikirkannya. “Acan, Sandra, tidak berbeda jauh kan? Apa kamu bisa menjelaskannya? Atau mungkin kamu memiliki satu cerita lagi yang bisa menemukan kenyataan ini?” lanjutnya.
“Mungkin di sekitar rel kereta di kota sebelah, mungkin ibu masih di sana.” Ucapku dengan air mata mengalir. Karena sejak awal bersama Kak Sendy aku merasa tenang, entah mengapa aku bisa seperti ini, aku bisa merasakan bahwa aku memang memiliki ikatan darah dengannya.
“Ibu? Ibu masih hidup? Jadi kamu, mungkinkah kamu benar-benar Acan adikku?”, tanyanya ditengah tangisannya.
“Aku rasa” jawabku singkat lalu aku memeluknya, memeluk seorang kakak yang baru sekali ini aku temui, ia membalas pelukanku. Aku melepaskan pelukannya dan menyeka air mataku. “Ayo kak, kita ke kota sebelah mencari ibu di sekitar rel kereta. Aku memang belum pernah mengunjungi tempat itu lagi.” Ajakku.
“Baik” jawabnya, kami berdiri dari duduk kami lalu berlari kecil mencari Ibu Neni di depan panti. Saat menemukanya aku menghampirinya.
“Ibu, kami ingin pergi ke kota sebellah sebentar, kami hendak mencari ibu kami.” Aku meminta ijin padanya. Kak Sendy langsung menarikku tanpa menunggu jawaban Bu Neni.
“Tunggu!” panggil Bu Neni.
“Eh, kak!” aku menegurnya tetapi itu tak bisa menghentikannya. Ia langsung memanggil angkot dan menarikku masuk.
“Semoga saja aku masih bisa menemukannya”, ucapnya dengan pandangan tertuju pada jalanan, aku hanya terdiam dan memandanginya. Aku merasa sangat bodoh, mengapa aku tak ter[ikir mencari ibu di sana? Sedangkan Kak Sendy yang baru mendengarnya saja langsung pergi ke dekat rel. padahal Kak Sendy belum tentu benar kakakku. Aku mengalihkan pndanganku dari wajahnya kejalanan yang akan kami lalui.
Hampir 1 jam berlalu, akhirnya kami sampai di sebuah stasiun kereta, Kak Sendy langsung menuruni angkot dan berlari menelusuri rel kereta. Aku menyusulnya setelah membayar angkot.
“Kak, tunggu!”, teriakku. Aku berlari dengan cepat, berusaha mengejarnya. Cukup jauh kami telah berlari dan kecepatan lari Kak Sendy semakin berkurang, hingga akhirnya aku berhasil menyusulnya. Kami terhenti di pinggir rel yang sepi, samping kanan dan kiri hanyalah rerumputan, dan mungkin hanya ada beberapa rumah di sekelilingnya.
“Kak, aku tak ingat dimana terakhir kami bertemu.”, ucapku dengan nafas yang terengah-engah. Aku melihat wajahnya, ia tertunduk dan menatap seberang jalan dengan kecewa, matanya pun telah berkaca-kaca. “Kakak?”, panggilku, tetapi sepertinya ia tak berniat menjawabnya.
Ini adalah saat yang membingungkan. Apa yang bisa aku lakukan saat ini? Aku hanya seperti memberi harapan palsu pada orang lain, seharusnya aku tak perlu mengatakannya tadi. Aku terduduk  dan tertunduk di pinggir rel. Menyesali apa yang telah aku perbuat. “ Maafkan aku kak”, ucapku pelan. Ia juga tak menjawab maafku. Aku mencoba menatapnya. “Eh, kenapa kak?”, tanyaku karena melihat raut wajahnya yang aneh. Aku pun berdiri.
“Ayo seberangi rel ini, dan pergi ke sana.” Ucapnya sambil menunjuk ke arah sebuah kolong jembatan yang cukup jauh dari tempat kami berdiri.
“Untuk apa, Kak?” tanyaku, tetapi ia langsung menarik tanganku dan berlari kecil ke arah tempat yang ia maksud. Jujur aku semakin ragu dengan permintaannya. Karena semakin dekat kami dengan tempat itu hanya ada tumpukan kardus. Tempat yang bisa dikatakan mustahil ditinggali orang lain, apalagi ibu, tak mungkin ada orang tua tinggal di sana tempat yang jauh dari keramaian bahkan apa pun. “Lebih baik kita kembali kak.”, ucapku.
“Ayo lihat dulu!”, pintanya dengan mata yang lagi-lagi telah berkaca-kaca. Akhirnya aku menurutinya.
Sesampainya di sana aku menanti apa yang akan dilakukan Kak Sendy. Ia terdiam dan mulai mencari-cari sesuatu di sana, entah apa yang akan ia lakukan. “Kakak sedang apa?”, tanyaku. Aku memandangi sekitar. Pandanganku tertuju pada ujung jembatan, di sana ada seperti sebuah rumah yang dindingnya terbuat dari kardus yang didirikan. “Kak, ayo ke sana.”, ajakku, aku berlari menghampiri tempat itu disusul Kak Sendy.
Aku semakin mendekat dengan tempat itu. Setibanya aku langsung membuka kerdus yang dijadikan pintu itu. “Ya ampun.”, ucapku sehabis membuka pintu dan aku langsung memasuki bangunan yang rapuh itu dengan hati-hati, Kak Sendy menyusulku. Di tempat yang sangat sempit ini terbaring seorang wanita tua. Aku membalikkan tubuh yang tak berdaya itu. “Ibu”, panggilku.
“Apa?”, Kak Sendy bertanya.
“Mung-mungkinkah ini ibu?”, aku berbalik bertanya padanya. Aku memperhatikan wajah wanita tua dihadapanku, ia tak terbangun, kukira ia sedang sakit keras.
“Kalian siapa?”, pertanyaan seseorang mengagetkan kami. Seorang wanita yang lebih muda dari kami. Ia tiba-tiba masuk ruangan ini dengan membawa sekantong plastik. Siapa dia?
Aku langsung berdiri. “Maaf”, ucapku sambil sedikit membungkukkan badan. “Kami sedang mencari ibu kami yang hilang sekitar 11 tahun yang lalu.”, ucapku pelan.
“Kenapa di sini?”, ia kembali bertanya.
“Karena aku terakhir bertemu dengan ibu di sekitar sini.”, ucapku sambil tertunduk.
Dia meletakkan  bawaannya di bawah dan mengeluarkannya. Isinya adalah kotak makan dan sebuah termos kecil. Dia kembali berdiri. “Apa kau tahu nama ibumu, nak?”, tanyanya.
Aku memandang Kak Sendy, ia menggelengkan kepalanya. “Tidak, bu”, ucapku dengan nada kecewa.
“Jangan mencari di sini. Wanita ini adalah wanita tua yang tak memiliki siapa pun, aku telah merawatnya 5 tahun ini, tak mungkin ia memiliki keluarga karena selama ini tak pernah ada yang mencarinya”, ucapnya.  Aku terdiam sejenak, ada perasaan kecewa karena ternyata itu bukan ibu. “Oh iya, siapa nama kalian, nak?” tanyanya.
“Saya Sandra, dan ini Kak Sendy”, jawabku sambil menunjuk Kak Sendy. “Baiklah kalau begitu, kami pamit dulu bu, maaf kalau kami telah masuk sembarangan”, lanjutku.
“San-sandra…” terdengar suara yang sangat lemah memanggil nama Kak Sandra, aku pun kaget, dan ternyata ibu itu terlihat lebih kaget, kami melihat sosok ibu yang terbaring itu dan ternyata memang ialah yang bersuara barusan. Benarkah ia ibu?
“Ibu! Ibu!”, panggilku dan Kak Sendy bersamaan, kami memanggil seorang ibu yang telah lama tidak kami temui, seorang ibu yang telah melahirkan kami sekarang telah ada dihadapan kami dengan keadaan lemah tak berdaya.
“Sendy…” suaranya sangat pelan dan bergetar, air matanya telah menetes, aku pun sudah tak bisa menahan tangisanku, aku memeluknya.
“Ibu, benarkah ini ibu?”, tanyaku. “Ibu kenapa lakukan ini? Ibu kenapa membiarkan kami sendiri?” aku memeluknya lebih erat. Merasakan pelukan yang tak pernah aku rasakan selama belasan tahun ini.
“Ma-maaf”, ucapnya parau.
“Benarkah ia ibu kalian?”, Tanya orang tadi. Aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Ibu”, aku memanggilnya lagi.
“Emm, sebenarnya begini”, pandanganku teralihkan pada ibu tadi. ”Aku sangat terkejut ibu ini masih bisa berbicara.”, ucapannya terputus.
“Maksud ibu?”, aku bertanya.
“Menurut perkiraan, ibu ini tidak akan ..”, ia berhenti dan menarik nafas, “Hidup lebih dari hari ini”, ucapannya membuat aku terdiam. Kenapa pertemuan kami harus sesingkat ini?
“IBUUUUUU!!!!”, Kak Sendy berteriak dan memeluk erat ibu. Aku tersadar dari lamunanku dan memeluknya sambil menangis, aku tak sanggup berkata apa-apa lagi.
Ibu membalas pelukan kami, tangannya yang lemah berusaha membalas pelukan kami. “Ma-maafkan ibu, nak, maaf. Ibu, ibu tak bermaksud meninggalkan kalian,”, ucapnya, tersirat penyesalan di ucapannya. Aku tak membalasnya, sepertinya Kak Sendi pun juga, kami hanya melanjutkan tangisan kami. “Setelah ayah kalian meninggal ibu sangat terpukul, ibu takut kalian tidak seperti anak-anak lain. Lalu ibu menitipkan Sendy.” Dan setelah itu  ibu divonis terkena penyakit kanker. Jadi ibu memutuskan untuk menitipkan Sandra juga.”, jelasnya. Aku hanya bisa semakin menangis. Ternyata inilah alas an ibu sebenarnya, ia tak ingin kami kesusahan karenanya.
“Bu, kenapa ibu tak membiarkan kami berada di dekat ibu? Kami bisa merawat ibu, menjaga ibu, tetapi kenapa ibu melakukan ini bu?”, Tanya kak Sendy di sela tangisannya. Aku tak sanggup berkata apapun lagi, aku memeluk ibu semakin erat dan menangisi kejadian ini sebisaku.
“Ma.. Maaf nak, maaf”, ucap ibu sangat pelan, suaranya semakin melemah. “Hiduplah dengan baik nantinya”, lanjutnya dengan suara ang nyaris tak terdengar, tangisan kami semakin keras melihat keadaan itu. “Ibu, sayang kaliiia…”,
“IBUUUUU!!!”, teriak kami bersamaan. Ibu telah pergi meninggalkan kami mulai saat ini. Ibu, semoga kau bahagia di alam sana…
____
Kalimat terakhirnya adalah ia menyayangi kami. Ia meninggalkan kami dalam pertemuan singkat kemarin. Saat ini aku berada di pemakamannya, baru 30 menit yang lalu proses pemakamannya selesai. Di tempat ini hanya tersisa aku dan Kak Sendy yang seakan masih tak percaya dengan apa yang terjadi dalam kehidupan kami ini. Mengapa ibu meninggalkanku sangat cepat? Mengapa pertemuan itu terjadi? Mengapa aku bisa bertemu Kak Sendy dan langsung mencari ibu? Kenapa ibu meninggalkanku? Kenapa ayah lebih dulu meninggalkanku? Kenapa aku dilahirkan? Pertanyaan-pertanyaan itu yang ada dalam kepalaku saat ini. Mungkin tak ada yang bisa menjawabnya karena itu merpakan takdirku. Itu adalah takdir yang Tuhan berikan, tetapi saat ini aku percaya aku pasti bisa melewati masalah ini dengan baik.
Satu hal yang aku sesali adalah selama ini aku telah berprasangka buruk pada ibu, aku mengira ia meninggalkanku dan ternyata aku salah besar. Ibuku adalah orang terbaik dalam hidupku. Tuhan, seandainya aku bisa mengulang waktu lagi, aku berjanji tak akan melakukan hal bodoh itu… Ibuu, aku menyayangimu, dimana pun kau saat ini dan sampai kapan pun aku akan selalu menyayangimu……

Selasa, 17 Juni 2014

To my beloved class : X SAK



For X SAK

Haii everyone, nice to meet all of you again! :*
Berhubung aku nulis ini lagi galau karna direkomendasiin masuk social streaming padahal aku pengen banget science, emang nilai scienceku jelek banget apa ya-_- *okeinicurhat* jadi tulisannya bakalan agak ngelantur hahaa

X SAK itu kelas pertamaku di sini. Jujur ya pertama dibagi kelas itu aku jengkel banget, masa kami berempat dateng dari Banjarmasin, temen-temenku bertiga sekelas lah aku sendiri yang kepisah, ga adil kan?

 Dulu pertama di bagi kelas aku masuk X-2 yang nama lainnya X SAK, awalnya aku bingung kenapa nama kelasnya aneh gitu, pas nanya-nanya ternyata itu singkatan dari nama wali kelasnya, Septo Adi Kristanto.

Lama-kelamaan rasa jengkel ini mulai memudar setelah kenal sama anak-anak di kelas, kenal sama wali kelas, suasana belajar yang baru ya walaupun buatku lumayan rusuh but I enjoy it, aku pelan-pelan mulai terbiasa sama keadaan kelas dan karna isinya Cuma 25 orang kalo ada satu aja anak yang ga masuk rasanya ada yang hilang :D

Sama kayak 9A dulu aku bakal bahas satu persatu anak-anak di kelas, tapi kayaknya ga bakal sama tanggal lahir deh hehe

1.       Andrianto Mahardika
Asal : Cimahi
House : Mantaray
Pertama kali aku ngeliat orang ini yang ada di pikiranku orangnya pasti pendiem, ternyata salah besar, andri itu cerewetnya gilaaa apalagi kalo udah ngomongin orang jahat banget pokoknya mana frontal banget lagi. Dia penggemar berat Taylor Swift dan punya segudang Music Video di laptopnya, orangnya juga update terus, suka gangguin orang lain. Dia juga pinteeeeeerrrr banget juga lumayan seru jadi temen ngobrol kalo moodnya bagus sih haha -_- Andri orangnya sedikit baik, selera humornya cukup tinggi, lumayan bisa ngehargain orang lain walaupun dibelakangnya ya gitu, rasa Percaya Dirinya setinggi langit.

2.       Astari Kelana
Asal : Tangerang Selatan
House : Dove
Orang yang cukup lama aku kenal di SAK, jujur awalnya aku ngerasa kurang bisa deket sama dia soalnya apa yang aku pikirin dulu ga sesuai sama apa yang dia omongin dulu. Tapi lama kelamaan ntah kenapa aku ngerasa orang ini cocok banget dah buat ngobrol apalagi ngomongin orang wkwk XD Astari itu baik, suka jawab omongan anak-anak lain dengan jawaban yang frontal XD Dia anggota Choir alto 1, orangnya baik, santai, seru, suka jujur, pinteeeerrrrr banget. Kalo Astari lagi kumat jiwa aslinya bakalan keluar dan pasti ada-ada aja kelakuan anehnya wkwk XD

3.       Dadang Trio Setiawan
Asal : Cimahi
House : Shark
Dadang itu orang yang aneh, masa ya kadang dia dateng sambil ketawa-ketawa terus ngobrol, kadang dateng dengan muka serius terus nanya yang aneh-aneh dan parahnya kadang juga dia dateng dengan muka yang ga enak terus diem aja atau engga sambil glodakan sendiri tanpa ngomong sepatah kata apapun -___- jujur aku sering ngeri sendiri sama orang ini -__- lucunya setiap ada kumpulan orang apapun itu asal yang ngumpul ada kelas 10 dia bakal nyamperin dan dengan heboh nanya “Eh ngerjain apa?/Ada apa?/Kalian ngumpul ngapain?” hahaha :D Dia itu orangnya pinteeerrrrrrrrr banget, juga baik sih kalo moodnya lagi baik tapi ga baik-baik banget soalnya masih sering ngusilin orang lain, kadang-kadang dewasa, terus dia juga suka nyuruh anak-anak lain buat sholat wkwk XD

4.       Diah Pramesthi Ningrum
Asal : Banjarbaru
House : Rhino
Orang yang lagi-lagi cukup tertindas di kelas -___- *poorme* aku akuin aku aneh. Kalo aku lagi punya mood yang bagus aku bakalan ngomong sebanyak yang aku bisa, tapi kalo unmood bakal diem dan belajar asal-asalan haha orang macem apa inii

5.       Gadang Anindyojati
Asal : Jakarta
House : Mantaray
Jujur sih aku ga terlalu deket sama Gadang, tapi setau aku Gadang itu orangnya sebenernya baik, dia juga lumayan sering bagi-bagi makanan di kelas. Terus kemampuan berbicaranya bagus bangett. Tapi dia masih sering asik sama dunianya sendiri dan aku kurang tau itu apa. Dan dia sering tidur di kelas haha.

6.       I Dewa Gede Bintabg Suntake
Asal : Palembang
House : Komodo
Bintang itu orang pertama sekelompok sama aku waktu aku masuk, dan kami seriiiing banget satu kelompok. Dia orangnya baiiik, sering bantu orang lain, sama kayak Gadang dia juga masih sering asik sama dunianya sendiri, bedanya aku masih dikit tau dunianya apa wkwk XD kayak game, anime, sampe bosen lah litanya -_-

7.       I Gusti Bagus Pandu Krisnamurti
Asal : Jakarta
House : Dolphin
Pandu itu orangnya baik, tapi juga usil, tapi anehnya orang yang dia usilin itu orang-orang tertentu yang ga bisa marah -__- curang memang. Kata temen sekamarnya sih dia jarang mandi, tapi aku percaya itu XD dia anak merpati putih, Pandu juga sering ngasih ide di kelas tapi sering ditolak soalnya idenya pasti yang aneh-aneh XD dia juga sering tidur di kelas, emm satu lagi dia anak kesayangannya Frau Lina ahaha :D

8.       Indah Puspa Melati
Asal : Bojonegoro
House : Mantaray
Indah itu orangnya  baiikk banget, walaupun kadang ngeselin tapi aku tau itu sebatas becanda. Dulu aku ga terlalu deket sama dia, tapi semenjak semester 2 kami sering sekelompok jadi lumayan deket, bahkan dia tau cukup banyak rahasiaku ntah dari mana taunya -__- jadi ya sekalian aja aku banyak cerita-cerita ke dia. Dia suka ngobrol, anak traditional dance, nada omongannya emang kayak orang marah-marah tapi ya emang gitu haha.

9.       Inna Musfirah
Asal : Bojonegoro
House : Rhino
Fira temen House-ku, dia tempat aku nyimpen curhatan wkwk. Orangnya kalo di kelas diem aja, aku juga ga tau kenapa gitu. Aku sama dia kebalikan, kalo di house dia lebih banyak ngomong tapi aku lebih diem, kalo di kelas aku lumayan banyak ngomong tapi dia lebih pilih diem. Tapi kalo kita berdua ketemu ntah kapan selesai ngobrolnya haha. Dia baik, master agama Islam, Ustadzah di kelas, soalnya sekali dia ngomong itu pasti ceramah wkwkwk XD

10.   Kinanti Nur LIfie
Asal : Jakarta
House : Mantaray
Sebenernya aku bingung sama anak ini, umurnya udah 16 tapi masih bener-bener kayak bocah -_- ga dari gayanya, cara ngomongnya, cara jalannya, cara mikirnya, udah gitu polos banget anaknya. Tapi itu lah Kinan, kalo ga gitu mungkin bukan dia. Khas banget lah sikapnya itu. Tapi kadang aku ngeri sendiri ngeliat dia kalo udah diem aja gitu masang muka ga enak, kalo diganggu pasti marah. Tapi kinan orangnya baik, seru juga lumayan sering becanda dan suka ngerjain orang terutama nyebarin hal-hal yang ga bener yang buat orang lain ketipu -___-v

11.   Karunia Kristania Wantania
Asal : Manado
House : Hornbill
                Nia itu orangnya baaiiiikkk banget, dibilang polos engga juga, dewasa ya ga juga *eh* dia orangnya lumayan perhatian sama sekitar, suka ngelucu tapi ga dianggep lucu sama orang di kelas wkwk XD orang ini pinter banget ngedance, gaya ngomongnya agak kekanakan, pinter dandan, imut, cantik banget. Dia saudara iparku XD anak choir sopran 2 dan pantes banget kalo disuruh nyanyi pake suara cempreng XD

12.   Latania Qurrota Aini
Asal : Depok
House : Hornbill
                Belahan suaraku {} alto 2 di choir club :D anaknya baik, jujur banget dan saking jujurnya itu lhoo wkwk XD suka ngutarain apa yang dia rasain sama hal-hal yang dia jalanin jadi biasanya dia paling banyak ngeluarin pendapatnya di setiap hal. Ntah apa isi otaknya anak satu ini, dia punya banyak banget ide-ide bagus yang anti-mainstream yang sering dipake orang lain. Orangnya enak diajak ngobrol apalagi kalo masalah ngomentarin sesuatu wkwk XD

13.   Lusiana Azhari
Asal : Bogor
House : Hornbill
                Lusi ini calon businesswoman kalo menurutku, dia suka banget pelajaran bisnis. Dia anaknya baik, ramah, suka ngasih pertolongan ke orang lain. Tapi dia jarang percaya sama kemampuannya sendiri padahal dia jago di banyak hal. Bener-bener calon anak IPS, punya pikiran yang kelewat kritis dan suka ngasih pendapatnya ke orang lain. Termasuk orang yang aktif dan sering nanya-nanya di kelas.

14.   Metusalah Ivan Tjandrawira
Asal : Jambi
House : Dolphin
                Kalo ngomongin anak ini satu pertanyaan yang belum bisa kejawab adalah “tangannya itu dari apa sih?” fix banget dia calon anak IT! Kalo sekali megang laptop ntah apa yang dia kerjain terus keliatannya sibuukkk banget sampe ga bisa diganggu, sampe-sampe pas pelajaran itu laptop masih dia hadepin. Terus kalo ada tugas ngedit apa-apa itu dia jagonya, hasilnya gilaaa keren semua. Dia anaknya baik banget, enak diajak ngobrol. Dan kalo ada acara apa dia ga dateng pasti dia tidur XD

15.   M. Alberyan Reformansyah
Asal : Jakarta
House : Dove
                Refo itu orangnya baik, dan aku akuin dia sangat tertindas di kelas. Dia jadi bahan bullyannya Waka, Ito dan Andri, kadang aku kasian sendiri liat dia digituin sama komplotannya sendiri tapi dianya mau aja -_- Dia pinter bahasa inggris sama sejarah, dia juga pinter ngedit sesuatu, suka ngomentarin sesuatu juga, dia juga punya banyak ide yang cukup bagus. Dan kalo ketemu Refo satu kalimat yang pasti diucapin adalah “Refo, setrika bajunya!” wkwk XD dia bebebnya Astari XD         

16.   M. Rezky Wardhana
Asal : Bekasi
House : Lion
                Rezky itu class captain X SAK, orangnya baik, cukup tanggung jawab sama kelas. Dia sering banget berkorban buat kelas, kalo kelas ada masalah dia yang dimarahin, kalo ada apa-apa dia yang ngurusin, salut lah sama pengorbanan dia. Dia juga sempet gabung di choir tapi ntah kenapa ga lagi sekarang. Dia juga lumayan aktif pas jam pelajaran, nanya-nanya berbagai macam hal yang dia ga ngerti. Satu lagi, menurutku dia tau banyak hal yang ga diketahui banyak orang, itu yang bikin banyak orang bingung sama omongannya -_-

17.   Nabila Zulfa
Asal : Jakarta
House : Komodo
                Awalnya aku ngeliat Nazul menurut aku dia itu pendiem banget, ga bisa protes, terima aja gitu. Et tapi ternyata aku salah besar -_- semakin aku kenal sama dia aku makin tau dia gimana, dia juga suka komentarin berbagai macam hal yang ga cocok sama dia, tapi dia komentarnya selalu ngeliat keadaan sih. Dia juga ga sependiem yang aku bayangin, kalo udah ngumpul sama kawanannya dia juga banyak ngobrol. Nazul orangnya baik, ramah, pinter juga cukup merhatiin keadaan sekitarnya.

18.   Purwaka Adhitama
Asal : Jakarta
House : Dolphin
                Waka masuk SAK itu abis perombakan kelas. Pertama liat dia aku kira dia orangnya pendiem, tertindas gitu. Dan jreng jreng ternyata dia cerewetnya naudzubillah, suka menindas sesama, suka ngusilin orang lain, banyak komentar, frontalnya keterlaluan lagi. Satu kejadian yang aku inget dari dia pas kami ngumpul kelompok ada yang nelpon dia, dia angkat dengan muka kesel sambil bentak “Halo!” trus diem sejenak sambil masang muka shock dan lanjut ngomong “Oh, njeh bu” lalu tiba-tiba ngejauh dari kami. Sumpah aku ngakak banget ngeliatnya XD Belum lagi kalo dia cerita tentang dia di rumah, berbanding terbalik sama dia di kelas -_- aslinya  dia baik, anak badminton, kekanakan, juga pinter ngedit-ngedit.

19.   Raisa Putri Avianny
Asal : Jakarta
House : Lion
                Caca atau chacha itu dulu awalnya ga pake jilbab, aku inget banget terus ga lama dia make jilbab deh haha. Aku masih inget pas pertama ketemu dia latihan choir buat inagurasi dia ngajak aku kenalan XD Caca orangnya dewasa banget, baik, rajin, tenang, kalem, dewasa, bijaksana, menurutku dia juga pinter ngatur waktu kapan dia harus ngomong dan diem. Dia anak choir alto 1. Tapi lama-kelamaan dia ngeselin sih suka ngusilin aku semenjak dia deket sama anak Mantaray, ntah apa salahku -_-

20.   Safira Naomi
Asal : Bekasi
House : Dove
                Naomi itu anak yang pinter di berbagai macam bidang aku juga bingung kok dia bisa gitu. Dia jago di ipa sama ips, juga dia sering punya ide yang bagus. Dia anak choir alto 2. Orangnya baik, pinter, rajin, dewasa juga santai. Kadang kalo dia lagi kumat sama kayak astari, dan biasanya mereka bakal ngelakuin hal aneh berdua -_-v tapi Naomi lebih sering diem di kelas ntah kenapa. Aku lumayan sering ngobrol sama dia dan sharing berbagai hal.

21.   Stevanny Pegeen de HAAN
Asal : Kupang
House : Shark
                Satu hal yang khas banget dari stevanny adalah ‘suaranya’, kalo denger suaranya aja dari jauh sekalipun pasti langsung tau kalo itu Stevanny wkwk XD dia itu logistic X SAK bayangin dia punya segala hal yang dibutuhin sama anak-anak di kelas, ntah itu staples, penggaris, spidol warna, spidol papan tulis, kertas HVS dll pokoknya lengkap banget. Dia termasuk anak yang rajin ke perpustakaan ntah apa yang dia lakuin. Anaknya baik, rajin, ceria, suka ngehibur orang lain.

22.   Syech Pranata
Asal : Palembang
House : Hornbill
                Jujur aku ga terlalu deket sama Syech soalnya dia terlalu sibuk sama dunianya sendiri tentang program-program di komputer yang aku juga ga tau apa aja. Pokonya kalo dia udah megang laptop yang udah nancep modemnya atau dapet koneksi wi-fi ya sudahlah dia ga bisa diganggu. Kadang anak-anak di kelas suka marah-marah sama dia karna saking asik sendiri dianya sampe lupa sama hal-hal yang harusnya dia kerjain. Tapi Syech anaknya baik juga suka becanda.

23.   Tifany Minasheila
Asal : Cimahi
House : Rhino
                Saudara satu house-ku yang ini bener bener bikin orang speechless seketika sama hal yang dia lakuin. Orangnya itu rajiiiiiin banget, tulisannya rapi banget terus kalo bikin apa-apa udah kayak ngerjain ujian, niat banget udah gitu kelewat rapi. Dia pinter di bergai macam hal dari pelajaran, olah raga sampe organisasi gitu. Orangnya baik, ramah, punya banyak ide bagus, kreatif, aktif, kelewat pinter. Dia itu orang sibuk soalnya ikut banyak kegiatan di sekolah.

24.   Widya Asthari
Asal : Palembang
House : Komodo
                Aku bingung kenapa orang bisa manggil dia memed, dari mana gitu ya? Widya itu anaknya usil, kadang ngeselin soalnya selalu ganggu orang, ntah itu ngusilin dan parahnya gangguinnya itu gatau waktu terus-terusan gitu. Tapi jujur rasanya aneh banget kalo liat Widya diem di kelas. Aku tau aslinya dia anaknya baik XD anak karate ntah sabuk apa, yang pasti ilmu bela dirinya itu cukup sering diterapin di kelas wkwk XD

25.   Zeritho Ridho Pratama
Asal : Kediri
House : Komodo
                Ito itu orangnya baik, komplotannya waka, andri, refo. Dia anak futsal, juga anaknya Frau Lina soalnya nilai Jermannya bagus XD dia itu kalo dideketin Widya suka marah-marah XD dia cukup seru diajak ngobrol. Dia juga pinter banget di banyak pelajaran. Tapi dia kao udah ga niat ngerjain sesuatu dilakuin berantakan banget deh kayaknya, kayak dakwah kemaren XD dia anaknya juga banyak komentar di kelas -_-

Mr. Septo Adi Kristanto
Bakalan kangen deh sama Sir Cepo, sama teriakannya, sama nasihatnya, sama kata-katanya. Aaa love you Sir <3 untung masih ketemu di choir :*

Photo session in Batik National Day

Suasana belajar di Alamanda

Foto buat majalah X-SAKarepmu

Selca sehabis farewell X SAK

Bukti kejahatan Andri -_-

Sport day, futsal  X SAK vs X AP

Nyusun strategi sebelum bertanding ~ XD Sport day

Malaikat Andri XDDD

Dadang koplak XD

History Project :D

Sekian yaa teman-teman. Maaf kalo memang ada kata-kata yang menyinggung perasaan kalian, ini semua belum bener kok, sebagian aku becanda dan ini juga cuma sebatas pendapatku aja. Mungkin pendapat orang lain beda jauh sama ini. Makasih yaa byeee :D Love You X SAK :*****