Jumat, 15 Agustus 2014

Postingan Baru



Hari pertama aku masuk ke sekolah baruku, ini memang hal yang biasa bagiku, ya karena aku memang selalu pindah sekolah paling tidak 2 tahun sekali. Haha, apalagi kalau bukan karena pekerjaan ayahku.
Aku memasuki kelas baruku, teman-teman baru, tempat baru dan suasan baru tapi tentunya masih dengan kemampuanku yang pas-pasan. Jujur saja aku bukanlah termasuk orang yang bisa menangkap pelajaran dengan cepat dan mudah. Aku memerlukan cukup banyak waktu dan latihan untuk mengerti suatu pelajaran.
Aku menduduki bangku kosong di tengah kelas, di sebelah kiri seorang laki-laki yang hanya diam dan memandangi sekitarnya bergantian dari bangkunya serta di sebelah kanan seorang perempuan yang memandangiku dengan senyumannya, sepertinya ia hendak berbicara padaku.
Aku membalas senyumannya dan setelah itu kami bercerita banyak tentang diri kami, Selly namanya dan ternyata rumahnya tidak terlalu jauh dengan rumahku, menyenangkan sekali baru pertama masuk sekolah ini aku sudah memiliki teman baru.
Bel sekolah berbunyi, kami memulai pelajaran. Ternyata pelajaran matematika, aku sangat menyukai pelajaran ini sebenarnya, tetapi karena kemampuanku tidak memadai kurasa easa sukaku sedikit berkurang. Pak guru mulai menjelaskan sebuah materi kepada kami, aku mencoba focus dan memperhatikannya.
Saat beliau selesai menjelaskan kami diberi beberapa soal, hasilnya aku tidak mengerti satu pun. Aku melihat sekelilingku, mereka terlihat sibuk dengan soal-soal yang diberikan itu. Terlebih laki-laki di sampingku, seperti badai pun tak akan bisa mengganggunya. Saat pembahasan soal laki-laki itu terlihat sangat antusias dengan pelajaran ini. Satu kesimpulan yang aku tarik adalah dia orang yang pintar.
Pelajaran berganti, pelajaran kimia, diawali dengan pembahasan dan lagi-lagi dilanjutkan dengan soal. Aku kembali kesusahan mengerjakannya. Saat aku melihat laki-laki itu, ia terlihat dapat mengerjakan soal-soal dengan lancar.
Waktu istirahat tiba, aku memilih untuk berdian di kelas, lagi-lagi aku memandangi laki-laki di sampingku, ia tidak keluar, hanya diam di bangkunya dan memainkan pulpen. Sesekali ia tersenyum menanggapi teman-temannya yang bercanda. Ia berdiri, badannya cukup tinggi dan cukup ideal untuk seorang laki-laki.
Oke, aku akui kata-kata itu -kita bisa jatuh cinta dengan seseorang dalam waktu satu detik- benar adanya. Sosoknya yang diam, cuek dan cukup misterius. Bagiku kepandaian dan kefokusan seseorang sangat menarik, untuk tampang dan penampilan sih nomor sekian. Tak lama segerombolan teman-teman perempuan sekelasku datang menghampiri dan megajak kenalan. Aku bercerita dan bertanya banyak pada mereka.
Jam olahraga tiba, jujur aku sama sekali tak pandai di bidang olah raga. Aku hanya diam di tempat yang teduh melihat teman-temanku berolahraga. Karena ini pertemuan kami yang pertama, kami bisa bebas melakukan apa saja di luar kelas. Aku melihat laki-laki yang duduk di sampingku tadi. 10 menit pertama ia bermain basket, 10 menit berikutnya ia bermain voli, 10 menit berikutnya lagi ia bermain bulu tangkis dan 10 menit berikutnya ia bermain futsal. Dan yang membuat aku semakin tertarik adalah ia bisa memainkan semua olahraga itu dengan sangat baik. Amazing!
Aku bertanya pada Selly, bagaimana sebenarnya laki-laki itu. Dia menjawab namanya Ferdian, dia sangat pandai di berbagai mata pelajaran, orangnya memang suka diam, tetapi sekali berbicara ia akan membuat seisi kelas tertawa. Dia juga sangat aktif di kelas dan kegiatan di luar kelas. Sangat menarik orang ini.
Tiba-tiba ada salah satu anak perempuan terjatuh karena tersandung batu, spontan ferdian yang berada paling dekat dengannya langsung menolongnya berdiri. Kalian tau apa yang ada di pikiranku, aku semakin senang karena ia ringan tangan tetapi di samping itu aku cemburu karena yang ditolongnya perempuan.
Hari-hari kujalani di sini, menyukai laki-laki yang terlalu sempurna dan menurutku sangat tidak pantas aku untuknya, ya karena aku tidak mempunyai apa-apa, pandai tidak, cantik tidak, kaya pun juga tidak. Haha jika cintaku terbalas mungkin itu hanya lah mimpi buatku. Aku hanya bisa memperhatikan setiap tingkah lakunya, berdoa untuk kemenangannya setiap ia akan mengikuti kompetisi. Juga sedikit ‘modus’ mendekatinya ke mana ia berada haha. Merasa sedikit tertekan, marah dan cemburu saat ia sedang bercanda dengan perempuan lain atau sedang dibantu oleh perempuan lain. Aku cemburu pada mereka karena aku tak bisa membuat dia tertawa, aku tidak bisa menolongnya saat ia memerlukan bantuan. Yah, karena saat bertemu dengannya saja aku tak berani menatapnya, aplagi tersenyum padanya.
Aku hanya bisa berharap suatu saat ia bisa mengerti perasaan ini dan satu hal yang akan terus aku pertahankan, aku tak akan pernah mau mengatakan duluan bahwa aku menyukainya. Aku percaya bahwa “Setidaknya ada dua orang di dunia ini yang menyukaimu” tetapi akan sangat mustahil jika dia orangnya. Yang bisa aku lakukan adalah belajar sebisaku dan lebih giat lagi agar suatu saat aku bisa melebihinya atau minimal menyamainya, agar suatu saat ia bisa menyadari keberadaanku.