Hari pertama aku masuk ke sekolah
baruku, ini memang hal yang biasa bagiku, ya karena aku memang selalu pindah
sekolah paling tidak 2 tahun sekali. Haha, apalagi kalau bukan karena pekerjaan
ayahku.
Aku memasuki kelas baruku,
teman-teman baru, tempat baru dan suasan baru tapi tentunya masih dengan
kemampuanku yang pas-pasan. Jujur saja aku bukanlah termasuk orang yang bisa
menangkap pelajaran dengan cepat dan mudah. Aku memerlukan cukup banyak waktu
dan latihan untuk mengerti suatu pelajaran.
Aku menduduki bangku kosong di
tengah kelas, di sebelah kiri seorang laki-laki yang hanya diam dan memandangi
sekitarnya bergantian dari bangkunya serta di sebelah kanan seorang perempuan
yang memandangiku dengan senyumannya, sepertinya ia hendak berbicara padaku.
Aku membalas senyumannya dan
setelah itu kami bercerita banyak tentang diri kami, Selly namanya dan ternyata
rumahnya tidak terlalu jauh dengan rumahku, menyenangkan sekali baru pertama masuk
sekolah ini aku sudah memiliki teman baru.
Bel sekolah berbunyi, kami memulai
pelajaran. Ternyata pelajaran matematika, aku sangat menyukai pelajaran ini
sebenarnya, tetapi karena kemampuanku tidak memadai kurasa easa sukaku sedikit
berkurang. Pak guru mulai menjelaskan sebuah materi kepada kami, aku mencoba focus
dan memperhatikannya.
Saat beliau selesai menjelaskan
kami diberi beberapa soal, hasilnya aku tidak mengerti satu pun. Aku melihat
sekelilingku, mereka terlihat sibuk dengan soal-soal yang diberikan itu. Terlebih
laki-laki di sampingku, seperti badai pun tak akan bisa mengganggunya. Saat pembahasan
soal laki-laki itu terlihat sangat antusias dengan pelajaran ini. Satu kesimpulan
yang aku tarik adalah dia orang yang pintar.
Pelajaran berganti, pelajaran
kimia, diawali dengan pembahasan dan lagi-lagi dilanjutkan dengan soal. Aku kembali
kesusahan mengerjakannya. Saat aku melihat laki-laki itu, ia terlihat dapat
mengerjakan soal-soal dengan lancar.
Waktu istirahat tiba, aku memilih
untuk berdian di kelas, lagi-lagi aku memandangi laki-laki di sampingku, ia
tidak keluar, hanya diam di bangkunya dan memainkan pulpen. Sesekali ia
tersenyum menanggapi teman-temannya yang bercanda. Ia berdiri, badannya cukup
tinggi dan cukup ideal untuk seorang laki-laki.
Oke, aku akui kata-kata itu -kita
bisa jatuh cinta dengan seseorang dalam waktu satu detik- benar adanya. Sosoknya
yang diam, cuek dan cukup misterius. Bagiku kepandaian dan kefokusan seseorang
sangat menarik, untuk tampang dan penampilan sih nomor sekian. Tak lama
segerombolan teman-teman perempuan sekelasku datang menghampiri dan megajak
kenalan. Aku bercerita dan bertanya banyak pada mereka.
Jam olahraga tiba, jujur aku sama
sekali tak pandai di bidang olah raga. Aku hanya diam di tempat yang teduh
melihat teman-temanku berolahraga. Karena ini pertemuan kami yang pertama, kami
bisa bebas melakukan apa saja di luar kelas. Aku melihat laki-laki yang duduk
di sampingku tadi. 10 menit pertama ia bermain basket, 10 menit berikutnya ia
bermain voli, 10 menit berikutnya lagi ia bermain bulu tangkis dan 10 menit
berikutnya ia bermain futsal. Dan yang membuat aku semakin tertarik adalah ia
bisa memainkan semua olahraga itu dengan sangat baik. Amazing!
Aku bertanya pada Selly, bagaimana
sebenarnya laki-laki itu. Dia menjawab namanya Ferdian, dia sangat pandai di
berbagai mata pelajaran, orangnya memang suka diam, tetapi sekali berbicara ia
akan membuat seisi kelas tertawa. Dia juga sangat aktif di kelas dan kegiatan
di luar kelas. Sangat menarik orang ini.
Tiba-tiba ada salah satu anak
perempuan terjatuh karena tersandung batu, spontan ferdian yang berada paling
dekat dengannya langsung menolongnya berdiri. Kalian tau apa yang ada di
pikiranku, aku semakin senang karena ia ringan tangan tetapi di samping itu aku
cemburu karena yang ditolongnya perempuan.
Hari-hari kujalani di sini,
menyukai laki-laki yang terlalu sempurna dan menurutku sangat tidak pantas aku
untuknya, ya karena aku tidak mempunyai apa-apa, pandai tidak, cantik tidak,
kaya pun juga tidak. Haha jika cintaku terbalas mungkin itu hanya lah mimpi
buatku. Aku hanya bisa memperhatikan setiap tingkah lakunya, berdoa untuk
kemenangannya setiap ia akan mengikuti kompetisi. Juga sedikit ‘modus’
mendekatinya ke mana ia berada haha. Merasa sedikit tertekan, marah dan cemburu
saat ia sedang bercanda dengan perempuan lain atau sedang dibantu oleh
perempuan lain. Aku cemburu pada mereka karena aku tak bisa membuat dia
tertawa, aku tidak bisa menolongnya saat ia memerlukan bantuan. Yah, karena
saat bertemu dengannya saja aku tak berani menatapnya, aplagi tersenyum
padanya.
Aku hanya bisa berharap suatu saat
ia bisa mengerti perasaan ini dan satu hal yang akan terus aku pertahankan, aku
tak akan pernah mau mengatakan duluan bahwa aku menyukainya. Aku percaya bahwa “Setidaknya
ada dua orang di dunia ini yang menyukaimu” tetapi akan sangat mustahil jika
dia orangnya. Yang bisa aku lakukan adalah belajar sebisaku dan lebih giat lagi
agar suatu saat aku bisa melebihinya atau minimal menyamainya, agar suatu saat
ia bisa menyadari keberadaanku.